Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Dua Puluh Satu


__ADS_3

"Kak Juna?!" panggil Ningsih saat memasuki kamarnya. Dilihatnya Juna yang sedang tidur di atas ranjang dengan tangan yang masih memegangi handuk. Ningsih menggelengkan kepalanya pelan, "apa dia terlalu capek?" gumamnya.


Ia mendekati Juna, mengambil dengan sepelan mungkin handuk yang berada di tangan Juna, berusaha agar jangan sampai suaminya itu bangun.


Ia menatap Juna lama, perlahan matanya mengembun saat melihat wajah teduh Juna yang tertidur.


"Jujur aku bingung dan ragu Kak, akan pernikahan kita. Terlebih dengan perasaan Kakak. Kakak selalu memperlakukan aku seakan Kakak mencintaiku, tapi aku tahu kalau Kakak ngelakuin itu hanya karena menghargaiku sebagai istri. Aku yakin perasaan Kakak belum berubah pada Kak Tania karena waktu kalian menjalani hubungan bukanlah waktu yang sebentar, atau mungkin perasaan Kakak masih milik perempuan di masa lalu Kakak itu" Ia menjeda sejenak, lalu menghapus air matanya yang jatuh. Sebenarnya, Ningsih selalu merasa bersalah karena sering merespon perlakuan manis Juna dengan keketusannya. Bahkan sampai saat ini, ia masih belum siap memenuhi semua tanggung jawabnya sebagai seorang istri.


"kalau saja Kakak tahu, aku memang masih mencintai Kak Noval sampai saat ini, tapi aku sedikit ragu apa perasaanku masih sepenuhnya atau tidak. Sikap Kakak, perlakuan manis Kakak, kadang membuat aku takut! Aku takut jatuh cinta pada Kakak, tapi ternyata Kakak masih mencintai perempuan di masa lalu Kakak" Air matanya semakin deras. Ia tahu semua yang ia katakan sia-sia, karena memang Juna tak mendengar perkataannya dan memang itu tujuannya. Ningsih yakin sampai kapanpun, ia tak akan pernah berani mengatakan ini pada Juna dalam kondisi pria itu sedang sadar.


"Aku...aku sedikit ragu pada hatiku sendiri. Karena pada kenyataannya saat ini, getaran untuk Kak Noval juga aku bisa rasakan bersama Kakak. Aku...aku terlalu takut Kak" Ningsih mulai terisak.

__ADS_1


Ningsih membeku saat merasakan ada yang mengusap air matanya. Juna sudah bangun dan melihatnya menangis, hanya itu yang terfikirkan olehnya sekarang. Dan juga....apa Juna mendengar semua yang ia katakan?


"Dek, kenapa nangis. hmm?" tanya Juna lembut.


Ningsih diam-diam menghembuskan nafas legah karena pertanyaan Juna, itu tandanya pria tersebut tak mendengar semua kalimatnya tadi.


"Dek, kok diam?" tanya Juna sekali lagi membuat Ningsih kembali tersadar. Ia menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan suaminya.


"Kok dipeluk malah makin nangis?" goda Juna sambil mengelap kembali air mata Ningsih dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sedang memeluk bahu gadis itu.


"Dek, kita shalat dulu yah? udah azan maghrib tuh!" ujar Juna saat mendengar suara Azan yang sudah berkumandang. Ningsih mengangguk dalam pelukan Juna, namun ia sama sekali belum beranjak dari sana membuat Juna terkekeh. Mereka memang sedari tadi hanya diam sambil menikmati pelukan kenyamanan yang muncul di diri masing-masing.

__ADS_1


"ngangguk-ngangguk aja, tapi masih nyaman meluk Kakak!" candanya. Ningsih segera tersadar dan langsung melepas pelukannya pada pinggang Juna. Ia mencibir dalam hati, 'kenapa pelukan Kak Juna menenangkan dan bikin aku nyaman yah?'


"issh apaan sih, siapa juga yang nyaman! aku kayak gitu hanya karena aku ngantuk, jadi nggak nyadar aja kalau masih meluk Kakak!" elaknya tak terima.


Juna tertawa melihat wajah Ningsih yang bersemu merah. Ia kembali melanjutkan menggoda Ningsih, "Oooh" Ningsih mengangguk mendengat jawaban Juna "Jadi saking nyamannya yah, sampai bikin kamu ngantuk dan nggak sadar posisi?" tambah Juna, membuat Ningsih yang sedari tadi mengangguk langsung terdiam dan menatapnya kesal.


"Isshh, ngesalin banget sih Kak. Dari dulu sifat ngeselinnya nggak ilang-ilang" ucapnya sambil melemparkan bantal ke arah Juna, lalu ia berlari menuju kamar mandi meninggalkan Juna yang sedang meringis sakit karena lemparannya.


"RASAIN, SIAPA SURUH JAILIN AKU TERUS!" teriaknya dari dalam kamar mandi.


Juna tersenyum lebar. Bukan, bukan karena teriakan Ningsih. Tapi, mengingat kalimat terakhir Ningsih sebelum ia menghapus air mata gadis itu. yah, ia sebenarnya tidak tidur. Niatnya hanya ingin berpura-pura agar Ningsih tak curiga kalau Juna sudah membajak ponselnya. Tau-tau Juna dapat keberuntungan mendengar semua isi hati Ningsih. Juna yakin, sebentar lagi cintanya akan terbalas. Dia hanya perlu berjuang lebih keras lagi agar bisa meluluhkan hati istri labilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2