
Ardi panik mendengar perkataan Diana. Ia yakin gadis itu saat ini tengah mengerjainya. "Ya udah sayang, kamu Make up-in aku di sana aja yah? Ayo sayang!" Ia menarik tangan Diana dengan lembut agar tak menimbulkan kecurigaan Ibu-ibu yang menonton kelakuan keduanya.
Diana menurut, saat sudah jauh dari tempat tadi, Ardi menghempaskan tangan Diana dengan kasar. Diana tertawa keras saat melihat wajah Ardi yang aneh, mungkin karena takut Diana benar-benar memoles wajah tampannya.
"Hahahahaha! Lucu banget ekspresi kamu. Takut yah?" ejek Diana. Ardi mendengus akan kejahilan gadis yang beru bertemu dengannya beberapa menit lalu itu.
"Kamu itu benar-benar pengganggu yah!" ujarnya kesal. Diana hanya manggut-manggut saja membuat kekesalan Ardi semakin bertambah.
"Iya. Aku memang pengganggu. Mungkin itu sebabnya keluarga aku ingin aku cepat menikah, agar nggak ada pengganggu lagi di kehidupan mereka" ujar gadis itu sambil terkekeh hambar.
Ardi memandang intens gadis itu, mungkin bibirnya mengeluarkan tawa, namun Ardi tahu matanya terlihat sendu. Memangnya gadis ini umur berapa sampai harus direcoki dengan pernikahan?
"Sini, curhatnya sambil duduk aja!" Ardi menarik tangan Diana untuk duduk di rerumputan yang tumbuh di taman itu. Entahlah, ia merasa gadis ini banyak masalah dan hatinya seolah menyuruh untuk peduli.
"emang umur kamu berapa sih, sampai mereka nyuruh-nyuruh kamu nikah? Aku aja yang udah dewasa nggak ada yang berani nanya-nanya kayak gitu!" tanyanya heran.
__ADS_1
Diana menatap ke arah Ardi "Dua Tujuh" jawabnya santai.
"APA?!"
Diana terkekeh pelan akan respon cowok di sampingnya itu. Ia sudah menduganya akan seperti itu. Karena banyak orang yang mengatakan umurnya tak sesuai dengan wajahnya yang terlihat seperti anak remaja.
Ardi masih syok, ia tadi membanggakan dirinya sudah dewasa, ternyata Diana lebih tua dua tahun darinya. Bahkan kalau nggak salah, diawal tadi gadis itu memanggilnya Kakak bagaimana ia tak terkejut?
"Kaget yah? Emang kebanyakan gitu sih respon orang-orang kalau tahu umur aku yang sebenarnya!"
Ardi berusaha mengendalikan keterkejutannya. Pantas saja gadis ini sudah direcoki akan masalah pernikahan, toh umurnya sudah patut untuk mengurusi suami atau bahkan anak.
"Udah, santai aja. Anggap aja kita seumuran, dan lupakan kejadian tadi. Kita bisa menjadi teman kok, kayaknya kamu orangnya asik. Yah.....walaupun sedikit kasar sih" ujar Diana. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Ardi "Kenalin, namaku Diana"
Ardi terdiam sesaat sebelum membalas uluran tangan itu. Ternyata sejak tadi mereka mengobrol, keduanya belum memperkenalkan nama masing-masing.
__ADS_1
"Ardi" balasnya.
"Jadi, kita resmi berteman?" tanya Diana yang diangguki Ardi.
"Oke! Jadi, kenapa kamu beberapa hari ini suka merenung sendiri di sana?" tanya Diana tiba-tiba sambil menunjuk ke arah bangku taman yang mereka duduki tadi.
Ardi menghela nafasnya pelan. "Aku cuma pengen sendiri aja" ia menjeda kalimatnya sejenak. "Kamu pernah melakukan kesalahan tapi kamu enggak mau menyesalinya?"
Diana terdiam berpikir, kemudian gadis itu menggeleng. "Yang aku tahu, kalau orang menyadari ia melakukan kesalahan dia pasti bakal menyesal" jawabnya.
Ardi mengangguk, memang seharusnya seperti itu. Tapi penyesalan sama sekali tak ada di hatinya, karena tanpa diduga ia menyatukan hati yang seharusnya memang dari dulu bersatu.
"Aku melakukan kesalahan itu. Yang anehnya, aku malah senang. Kamu tahu, semua yang aku perbuat berakhir dengan kebahagiaan mereka?"
Diana menatap aneh cowok di hadapannya ini. Ia tak mengerti apa yang tengah Ardi bicarakan. "Aku enggak paham akan semua yang kamu katakan. Tapi, kalau kesalahan kamu berakhir kebahagiaan bagi mereka aku rasa itu yang dinamakan takdir. Kamu hanyalah perantara mereka untuk meraih kebahagiaan itu" Ujarnya. Ardi tersenyum, sekarang ia percaya kalau gadis ini benar-benar berumur Dua Puluh Tujuh tahun.
__ADS_1
"Kamu bijak juga yah, sesuai umur. Walau nggak sesuai wajah sih" kedua orang yang baru saling mengenal itu kemudian tertawa bersama.
Double up! Like, vote dan komennya jangan lupa😊