
**jangan lupa baca karyaku yang lain😊
Kisah Cinta Salju dan Kutub
Laskar dan Pelangi
Miss Judes
Hadiah terindah untuk alifah
5.Putri Liliana
dijamin, nggak kalah seru dari ini. Silahkan dicek langsung di profilku😊**
__ADS_1
"Ka, jawab pertanyaan Sisi!" Pinta Ningsih memelas.
Juna menghela nafasnya pelan. Berusaha untuk menenangkan pikirannya sendiri. "Baik! Tapi Kakak mohon, jangan potong ucapan Kakak"
Ningsih hanya diam, tak mengiyakan ataupun juga menolak. Selalu seperti ini ketika Juna menjelaskan, selalu meminta Ningsih untuk tak memotong pembicaraan. Ingin rasanya Ningsih berteriak karena muak. Kenapa hidupnya terlalu banyak rahasia dari orang-orang di sekelilingnya. Apa dia tak sepenting itu untuk mereka?
"Si, janji sama Kakak" Juna menggenggam tangan Ningsih, namun Ningsih menepisnya pelan.
"Cepat jelaskan Kak. Walau aku sudah cukup tahu apa yang nanti akan Kakak ceritakan, tapi aku ingin semuanya keluar dari mulut Kakak sendiri. Aku ingin tahu alasannya apa"
Juna menghela nafas pasrah "Benar, Kamu keguguran! Benturan antara perutmu dengan lantai sangatlah kuat, sehingga calon Bayi kita tak bisa diselamatkan!" Jelas Juna akhirnya. Ini berat baginya, bukan cuma Ningsih yang merasa kehilangan, tapi ia juga. Terlebih Juna menyesali ketidak pekaannya tentang perubahan Ningsih sebelumnya. Juna merasa bersalah, sangat! Tapi ia tak ingin memperlihatkan itu, ia harus kuat, demi Ningsih! demi istrinya.
"Dokter bilang, kamu.....masih belum bisa diberi tahu. Karena kondisimu masih belum stabil waktu itu akibat pendarahan. Dokter takut kamu nanti kepikiran, dan kami......menyetujui itu, demi kamu"
Ningsih tak berekspresi, bingung ingin menanggapi seperti apa. Rasa kecewa, rasa marah, serta rasa bersalah semua menghantui pikirannya. Lelehan air mata mulai melewati pipi mulusnya, isakan pun perlahan mulai terdengar. Ia ingin marah, bukan pada orang lain, tapi pada dirinya sendiri. Ia ceroboh, ia bodoh, karena tak menyadari ada kehidupan lain di dirinya.
"Setiap ingin memberitahumu, Kakak merasa nggak sanggup. Apalagi kamu baru lepas dari bayang-bayang rasa bersalah pada Tania. Kakak nggak tega merusak kebahagiaan itu, Kakak nggak tega melihat senyum kamu akan luntur kembali dan berganti dengan kesedihan juga tangisan. Maafkan Kakak!" Juna juga ikut menangis. Ia benar-benar tak sanggup melihat istrinya kembali berduka seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa kalian selalu seperti ini? Selalu menyembunyikan kenyataan dengan alasan demi kebahagiaan Sisi? Kenapa? Bahkan masalah anak Sisipun kalian nggak jujur juga. Sisi secara nggak langsung nyebabin anak Sisi pergi, tapi kalian nyembunyiin semuanya? Kenapa?" Isak Ningsih pilu.
"Maaf!" Isak Juna. Ia mendekat ke arah Ningsih, bermaksud memeluk istrinya itu. Juna tahu Ningsih sangat terpukul, hal itulah yang ia takutkan selama ini.
Ningsih membiarkan Juna membawanya ke dalam pelukan pria itu. Berkali-kali Ningsih mendengar Juna meminta maaf.
"Kalian benar-benar jahat. Sisi calon Ibu yang gagal Kak! Sisi bodoh, Sisi ceroboh. Bahkan Sisi nggak sadar akan kehadiran dia. Sisi kecewa sama semuanya. Sisi kecewa sama kalian, Sisi kecewa sama keadaan, Sisi kecewa sama diri Sisi sendiri!" Racaunya di pelukan Juna. Kedua pasangan itu saling berpelukan menumpahkan tangis bersama. Tangis kesakitan, kekecewaan, kehilangan. Keduanya sebenarnya sama. Sama-sama lemah karena keadaan.
"Maafin Kakak. Semua salah Kakak! Sejak awak Kakak selalu memberimu luka. Maafkan Kakak. Kamu selalu menderita bersama Kakak, tapi Kakak juga mohon maaf bila Kakak egois. Kakak nggak akan pernah melepaskan kamu. kakak berjanji, setelah ini tak akan ada lagi tangis untuk kamu. Untuk kita. Kakak akan berusaha meraih dan mewujudkan kebahagiaan keluarga kecil kita. Kakak mohon kasih Kakak kesempatan menebus semuanya"
Ningsih masih menangis. Dia tahu ini berat baginya, juga bagi Juna. Tapi bukankah semuanya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa? Lagipula ini bukan salah Juna sepenuhnya. Juna pasti juga merasakan kehilangan, sama dengannya, atau bahkan lebih darinya.
"Berjanjikah Kak! Kita akan mewujudkan kebahagiaan bersama, dan nggak akan lagi ada kebohongan, sepahit apapun itu kita harus saling jujur!" Pinta Ningsih di sela tangisnya.
"Kakak janji sayang! Makasih, makasih kamu masih memberi Kakak kesempatan!" Ujar Juna, tangisnya kembali pecah. Tangis antara sedih dan bahagia.
Kurang dapat yah, emosinya? mohon maaf, kalau sedihnya seperti ngegantung.
__ADS_1
Like, vote dan komennya jangan lupa, oke!?