Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Lima Puluh Sembilan


__ADS_3

'Sumpah ya Si, tuh anak manusia benar-benar ngerepotin. Astaga! Kalau aja aku nggak punya hati, udah aku buang dia ke bawah jembatan. Atau sekalian di laut, buat jadi umpan ikan hiu' cerocos Wita di telepon. Ningsih memang hari ini memilih tak masuk kembali. Ia ingin menjaga Juna saja, meskipun pria itu berkata kalau kondisinya sudah baik-baik saja.


'Masa dia muntah di kamar Si, menjijikkan banget tau enggak. Mana semalam saat aku nyusul ke Klub banyak pemandangan yang buat mataku ternodai lagi!'curhatnya. Ningsih menghela nafas merasa bersalah. "Maaf yah Wit, gara-gara aku kamu jadi kerepotan"


Wita di seberang sana menggeleng 'No! Itu bukan salah kamu. Yang salah tuh si mantan playboy yang sekarang beralih profesi menjadi pemabuk itu' Ningsih terkekeh mendengar julukan Wita pada Noval. Sepertinya gadis itu benar-benar benci pada Noval.


'Ya udah Si, bentar lagi Dosen masuk. Byee!' Sambungan telepon terputus membuat Ningsih menggeleng. Jadi Wita menelponnya hanya untuk curhat? segaris senyum kemudian terukir di wajahnya karena tingkah Wita.


"Habis telponan ama siapa? kok senyum-senyum sendiri?" Juna mendekat ke arah Ningsih, menatapnya penuh curiga. Ia mendekat ke arah Ningsih yang sedang duduk di Sofa ruang tengah.


Ningsih terkekeh pelan. "Wita!" jawabnya. Juna membaringkan tubuhnya di sofa dengan berbantal paha Ningsih. Ia lalu memeluk pinggang istrinya itu, sedangkan Ningsih mengelus rambutnya dengan lembut.

__ADS_1


"Dek, kamu siap punya anak kira-kira umur berapa?" tanya Juna tiba-tiba membuat elusan Ningsih di kepalanya terhenti.


"Hah?!" tanya Ningsih kaget.


"enggak. Nggak jadi!" ucapnya buru-buru. "udah ah, elusin lagi rambut Kakak lagi, Kakak ngantuk" ujarnya mengalihkan pembicaraan.


Ningsih menurut. Ia bukannya tak mendengar perkataan Juna tadi. sebensenya Ningsih hanya pura-pura bertanya, karena bingung ingin menanggapi pertanyaan tersebut bagaimana.


Ningsih berpikir. Juna itu pria dewasa. Pernikahan mereka juga sudah dimakan bulan, namun Ningsih belum pernah sekalipun menjalankan kewajibannya sebagai istri dalam artian yang.... yah, kalian tahulah.


"Kok melamun?" tanya Juna bingung saat tak lagi merasakan elusan Ningsih.

__ADS_1


Ningsih tersentak kaget. "Eh?!"


"kenapa sih?" tanya Juna mendesak. Ningsih menghela nafasnya pelan. Jina bangkit dari posisi tidurannya. Ia duduk sambil menghadap Ningsih di sampingnya "Aku.... aku siap kapan aja untuk menjadi seorang Ibu. Bahkan saat ini sekalipun" ucap Ningsih membuat Juna terkejut luar biasa.


"Dek!?" Ningsih mengangguk yakin. "Aku sudah pernah bilang kan sama Kakak, kalau aku bukan tipe orang yang suka melanggar kodrat kita. Aku sudah ditakdirkan menjadi seorang istri, jadi aku harus menjalankan kewajibanku, termasuk melahirkan anak-anak sebagai generasi penerus keluarga kita nanti. Kalaupun aku ditakdirkan hamil di saat masih kuliah, itu tak masalah. Aku bisa ambil cuti dan melanjutkannya nati disaat anakku sudah berumur setahun atau dua tahun. Dan......Maaf untuk selama ini Ningsih belum sepenuhnya memberi hak Kakak sebagai suami" ujarnya pelan. Ningsih sebenarnya malu mengatakan ini, tapi mau bagaimana lagi.


"Mulai sekarang.....aku siap jika Kakak meminta hak Kakak sebagai suami" wajahnya sudah memerah mengatakan hal itu. Ningsih benar-benar malu saat ini.


Juna terdiam lama. Berusaha mencerna perkataan istrinya.


"Kamu..... benaran?" tanya Juna gak percaya. Dan anggukan pelan dari Ningsih membuatnya langsung membawa samg istri ke dekapannya. Bahkan air matanya mengalir karena terharu.

__ADS_1


Akhirnyaaa, setelah sekian lama yah. Sisi akhirnya siap😊


Tapi, jangan berharap ada adegan ++, yah, soalnya aku nggak suka memuat adegan kayak gitu. Maklum, masih anak perawan😁. Biarlah cerita ini lain daripada yang lain.


__ADS_2