Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Delapan Puluh Satu


__ADS_3

Like, Vote dan komennya oke?!


"Saya melakukan semuanya, karena Tania punya niat buruk pada seseorang yang selama ini saya anggap Malaikat saya" ujar Ardi memulai.


"Siapa yang kamu maksud? jangan mengada-ngada deh! Mana ada anak saya berniat buruk pada orang lain" bentak Tomi.


"Mas, dengarin dulu!" tegur Adelia, membuat Tomi hanya mampu menghela nafas kesal.


"Bukan cuma itu, saya juga melakukannya karena dia membuat orang yang saya anggap malaikat itu sedih" tambahnya lagi.


"siapa dia?" tanya Adelia penasaran.


"Ningsih!" pungkasnya membuat semuanya terdiam.


"Hah?! Aku? Aku rasa kita nggak pernah ketemu sebelumnya. Maksud aku, sebelum pertemuan di Restoran tadi kita nggak pernah ketemu deh! Papasan aja aku rasa nggak pernah" ucap Ningsih bingung.


"Memang, kita nggak pernah ketemu langsung. Karena saya hanya sering mengawasi kamu dari jauh" ucapan Ardi menjawab pertanyaan Ningsih. Tapi......kenapa ia menganggap Ningsih malaikatnya?


"Alasannya?" Juna ikut buka suara, menyuarakan rasa pensarannya yang telah menumpuk.


"kalian ingat Nenek Ija?"


Juna dan Ningsih saling menatap, lalu mengangguk bersamaan.


"dia nenekku!" pungkas Ardi. Juna dan Ningsih terkejut, tapi kemudian gadis itu menatap Ardi curiga.


"Bukannya Nenek Ija nggak punya anak? diakan hanya hidup dengan anak jalanan yang ditampungnya di gubuknya?" tanya Ningsih.


Ardi menggeleng. "Dia punya anak! Ibuku!" ujar pria itu sendu.

__ADS_1


"Hah? Maksud kamu?"


Ardi memganggukkan kepalanya. "Ibuku adalah anak kandung Nenek Ija. Ibuku berpamitan untuk mencari kerja ke kota, dan kemudian dia bertemu Ayahku. Mereka saling jatuh cinta, sayangnya.....orang tua Ayahku tahu kalau Ibuku adalah anak dari seorang janda tua yang miskin. Mereka menentang hubungan itu. Namun, Ayah dan Ibuku tetap memperjuangkan hubungan mereka, sampai....Ibuku diberi pilihan. Meninggalkan dan memilih melupakan Ibunya dan mendapat restu keluarga Ayah, atau menjauh dari kehidupan Ayahku sejauh-jauhnya. Dan kalian pasti tahu, apa pilihannya!" Ardi menjelaskan hubungan yang sebenarnya antara Ibunya dan juga Nenek Ija, Nenek yang selalu didekati Ningsih ketika waktu istirahat saat SD dulu.


"Aku mengetahui semuanya saat aku kelas Dua SMP. Sejak saat itu, aku berusaha menjaga jarak dari orang tuaku yang menurutku tak punya hati, karena tega menelantarkan hidup Ibunya dan memilih hidup dengan segala kemewahannya. Aku mencari tahu di mana Nenek Ija tinggal. Ternyata dia menyusul Ibuku ke kota, Dan saat itu...." Ardi menjeda kalimatnya, Pria itu tersenyum tipis saat mengingat momen di mana dia menemukan keberadaan Nenek Siti lengkap dengan seorang anak kecil yang tertawa ceria di sampingnya. "dan saat itu aku ketemu Nenekku, Beliau sedang tertawa bahagia bersama seorang anak kecil yang baru kuketahui kalau anak itu selalu menemaninya di saat jam istirahat sekolah, karena nenekku menjual jajanannya di Sekolah itu. Anak itu....Ningsih! Dan sejak saat itu aku menganggap Ningsih malaikatku, aku selalu mengawasinya dari jauh, menjaganya dalam diam!"


"Lalu, apa hubungannya dengan aku dan Tania? kenapa kamu tega membuat hidup aku dan Tania hancur?" Bimo yang dari tadi serius mendengarkan penjelasan Ardi bertanya.


"Karena kalian selalu membuat Malaikatku sedih!"


"Apa maksud kamu?" Tanya Bimo tak mengerti. Setahunya, ia tak pernah membuat Ningsih sedih selama dulu mereka bersama.


"Kamu dulu cinta monyetnya Ningsih. Tapi kamu seolah nggak perka dengan perasaannya. Kamu selalu memperlakukan Tania spesial, bahkan kalian nggak pernah menyadari kalau Ningsih sering memandang kalian sedih" jawabnya membuat semua orang terkejut.


"benar begitu Si?" Tanya Tomi. Ningsih yang ditanya tersenyum paksa. gadis itu menggaruk pelipisnya. Bagaimana bisa Ardi tahu sedetail itu? Bahkan yang tahu Bimo adalah cinta pertamanya hanya dirinya sendiri.


"eehhmm...Itu... Iya. Tapi dulu, cuma sebatas cinta monyet kok" jawabnya terbata. Ia melirik Juna dengan ekor matanya. Pria itu terdiam dengan raut cemburu yang sangat kentara di wajahnya.


"Kamu....Kamu mempermainkan anak saya?!" geram Tomi, namun Adelia kembali menahan bahu suaminya.


"Sampai saat Kami semua lulus. Bimo pergi ninggalin Tania. Aku sempat bertengkar sana Tania karena aku kembali mendekati dia, sayangnya waktu itu Juna datang menolong dan mengatakan kalau mereka berpacaran"


Ardi kembali mengingat kejadian di mana Juna datang menghampirinya dan Tania yang tengah bertengkar.


"Awalnya aku percaya, tapi kama kelamaan aku yang selalu mengawasi Ningsih, jelas sering melihat kebersamaan mereka bertiga. Aku merasa ada yang aneh sama hubungan mereka, dan saat itu juga aku tahu kalau sebenarnya Juna dan Tania berpura-pura!"


"Aku juga mulai melihat perubahan sikap Tania pada Juna, dengan sekali melihat saja pasti bakal tahu kalau Tania benar-benar jatuh cinta pada Juna"


Bimo yang penasaran dengan cerita sebenarnya memilih diam. Berusaha mendengarkan cerita Ardi tanpa terlewat sedikitpun.

__ADS_1


"Semakin lama, Tania semakin berubah. Aku mengetahui beberapa kali Tania seolah mengode Ningsih menjauhi Juna. Bahkan saat Ningsih dekat dengan Noval, sepupu Juna, Tania dengan liciknya memberitahu pada Juna dan memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Juna jauh dari Ningsih!"


"Kalau Noval pria baik, aku akan terima Ningsih bersamanya. Tapi aku tahu, noval itu playboy. Meski ia tulus mencintai Ningsih, tapi ia sama sekali tak memperjuangkan Ningsih. Aku lebih tenang kalau Malaikatku mendapatkan pria yang tulus dan juga setia, dan aku menemukannya hanya pada Juna. Terlebih lagi, Jina telah beberapa kali menolong nenekku"


"saat itu juga aku bertekad, membuat Juna dan Ningsih bersatu, bahkan jika melawan takdir sekalipun" Ujarnya, membuat semua orang terpana akan tekad Ardi, demi seseorang yang ia anggap malaikatnya.


"Aku selalu mencari kesempatan agar aku bisa melaksanakan rencanaku. Dan keberuntungan berpihak padaku. Tania mendatangi sebuah Klub Malam, dan meminum banyak minuman. Seolah takdir juga mendukung, tak jauh dari situ aku melihat Bimo yang juga tengah mabuk-mabukan karena stres saat ia kembali ke Indonesia, gadis yang ia cintai akan menikah dengan orang lain"


Bimo yang mendengarnya, kembali teringat dengan hari itu. Ternyata Ardi memanfaatkan kebodohan mereka berdua. Sementara Tania, wanita yang baru selesai melahirkan itu hanya diam. Merenungi semua kesalahannya yang keluar dari kalimat-kalimat Ardi.


"Aku memanfaatkan keadaan mereka yang mabuk. Aku bahkan menyewakan kamar Hotel untuk mereka, dan mengantarkan mereka ke sana. Setelah itu yah....kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya" Ardi mengakhiri ceritanya.


"Brengsek! bisa-bisanya kamu menjebak anakku! Kamu sadar kalau kamu sudah menghancurkan anak aku sehancur-hancurnya? ha?! Bahkan kamu juga merusak masa muda Keponakan saya! kamu buat dia menikah di usianya yang masih sangat muda! kamu brengsek!" Tomi mengangkat kerah Ardi. Tangannya kemudian melayangkan bogeman di wajah tampan milik cowok itu. Ardi diam tak melawan, inilah konsekuensinya, jadi mau tidak mau ia harus menerima hukuman dari kesalahannya. Bahkan jika mereka menuntutnya dan memenjarakannya, Ardi akan terima. Semua yang berada di situpun tak ada yang menahan Tomi, karena mereka masih sangat syok dengan semua cerita Ardi.


"Cukup Pa! Cukup!" teriak Tania, membuat tangan Tomi yang akan melayangkan tinjuannya sekali lagi terhenti.


"Dia sudah ngancurin kamu Tania! Papa pantas menghajarnya!" Tomu kembali melayangkan tangannya.


"Tania bilang cukup Pa!" teriak Tania lagi. suara wanita itu terdengar serak, karena sedari tadi ia menangis.


"Ini nggak semua salah Ardi. Ini hukuman untuk Tania. Hanya saja Tuhan mendatangkan hukuman itu melalui perbuatan Ardi. Ini salah Tania" Tangis Tania kembali pecah. Untung saja anaknya berada di Ruangan khusus Bayi, Kalau berada di situ, sangat kasihan anak yang baru dilahirkan sudab mendengar pertengkaran anggota keluarganya.


Ningsih mendekati Tania. Ia memeluk sepupunya itu, dan memandang Tomi dengan tatapan memohon agar melepaskan Ardi.


Melihat permohonan dari dua anak yang disayanginya itu, akhirnya Tomi melepaskan cekalannya di tubuh Ardi menyebabkan pria itu terjerembab ke lantai seketika. "kalau bukan karena Tania dan Adiknya, saya tidak akan melepaskan kamu!" hardiknya pada pria yang telah babak belur itu.


panjang kan part-nya?


Nah, part ini menceritakan semuanya, dan membongkar semua rahasia. Gimana? kesel nggak sama Ardi? Atau terkesan? atau sedih sama nasib neneknya Ardi?

__ADS_1


Jadi fakta yang benar itu adalah, Tania hamil anak Bimo, tapi yang nyebabinnya itu adalah Ardi. Siapa dulu yang nebak Ardi yang ngehamilin Tania?


Like, vote dan komennya jangan lupa.


__ADS_2