
"Emmm, begini Pak Andra. Saya mohon maaf atas perlakuan ibu saya. Bagaimana kalau semuanya kita bicarakan baik-baik?" Beno mengambil alih pembicaraan, berusaha membujuk Andra.
Andra tersenyum sinis "Bukankah sejak awal saya datang, saya ingin berbicara baik-baik?" balas Andra membuat wajah Beno memerah.
"Iya, saya akui pihak kami salah. Mungkin Ibu saya melakukan itu karena terkejut dengan kedatangan keluarga dari pacar anak saya"
"Tapi kenapa saya merasa Ibu anda seolah menyudutkan cucunya sendiri? Ia bahkan menuduh Diana membayar pria demi menolak perjodohan yang dilakukannya. Lalu, anda sebagai orang tuanya, kenapa tak berusaha membela?"
Semua yang berada di tempat itu terdiam. Andra sangatlah pandai memilih kata-kata yang mampu membuat lawannya kalah telak.
Diana yang merasa tak enak akan perdebatan tersebut akhirnya berusaha untuk menengahi "Emm, Maaf Pak Andra. Silahkan duduk dulu. Dan untuk Mama, Papa dan Nenek, Diana mohon kali ini izinkan Diana memutuskan apa yang terbaik untuk hidup Diana"
Ketiga orang tersebut hanya mampu mengangguk lemah. Tak ada pilihan lain, kendati mereka malu di depan keluarga pria yang dijodohkan dengan Diana, dibanding hidup mereka nanti luntang-lantung di jalanan.
"Pak Niko, Bu Nia dan Mas Deo, Saya minta maaf atas semua yang terjadi hari ini. Saya nggak bermaksud mempermalukan keluarga kalian, tapi perjodohan ini sebenarnya disusun oleh Nenek tanpa meminta persetujuan saya. Bahkan saya mengetahuinya nanti tadi. Saya juga nggak nyangka, kalau keluarga Pak Andra akan datang. Jadi sekali lagi mohon maaf" Kali ini, ujar Diana memohon pada keluarga pria yang dijodohkan dengannya.
__ADS_1
"Saya juga minta maaf Pak. Bukan maksud hati untuk menghalang-halangi jodoh anak dari Pak Niko, tapi saya rasa seperti ini lebih baik. Anak Bapak dan Diana tak saling cinta. Dan semua yang terjadi hari ini, benar-benar diluar kendali kita. Mungkin hal seperti ini sudah diatur Tuhan, agar Bapak melihat sikap asli keluarga Diana, dan juga agar kami sekeluarga semakin yakin ingin membawa Diana segera pergi dari keluarga yang selalu menekannya ini" tambah Andra dengan sedikit sindiran untuk keluarga Diana. Monika tak bisa berbuat banyak walau Andra menghina keluarganya, ia masih belum siap untuk kehilangan segalanya. Kali ini, hanya Dianalah yang mempu menyelamatkan keluarga mereka.
Niko mengangguk pelan. Ia paham dengan keadaan ini, jadi tak ada rasa marah sedikitpun yang ia rasakan. Ia malah menaruh kasihan pada Diana, walau baru melihatnya hari ini, Niko merasa gadis itu diperlakukan secara tak layak di keluarganya.
"Tidak apa Pak Andra, Saya mengerti. Jika saya ikut memaksa, yang dikhawatirkan nanti adalah kehidupan rumah tangga mereka ke depannya. Diana tak mencintai anak saya, begitupun sebaliknya. Jadi saya rasa, Diana lebih pantas mendapatkan seseorang yang ia cintai dan mencintainya" jawab Niko dengan bijak.
"Syukurlah kalau begitu"
"Kalau begitu, saya dan keluarga saya pamit dulu. Bu Monika, Pak Beno dan Bu Sindi, saya cuma ingin mengatakan satu hal. Jangan terlalu keras dalam hal mendidik anak. Diana sudah dewasa, dia sudah tahu apa yang akan ia lakukan di hidupnya" ujar Niko sebelum pergi.
Setelah kepergian keluarga Niko, suasana kembali hening. Keluarga tersebut sudah mendudukkan diri menggantikan posisi keluarga Niko tadi. Andra berdehem pelan untuk memulai "Jadi, bagaimana Diana? Kamu menerima lamaran anak saya?" tanya Andra.
.....................................................
"Apa alasan kamu menerima lamaran aku?" tanya Ardi. Saat ini, kedua orang tersebut berada di taman rumah Diana.
__ADS_1
"Lalu? Apa aku harus menolaknya?" tanya Diana balik. Ardi mendengus kesal "bukan itu maksud aku. Nggak usah pura-pura bodoh deh!"
Diana tersenyum kecil. "Entahlah Ar! setiap bersama kamu, aku selalu merasa bahagia. Bebanku seolah lenyap entah ke mana. Dan waktu kamu bilang ingin melamar aku, entah kenapa aku merasa kamulah satu-satunya orang yang mampu membuatku bahagia. Dari tatapan mata kamu, aku melihat kebahagiaan yang menjanjikan, dan aku percaya itu" jawab Diana. Ardi tertegun sejenak, lalu tersenyum setelahnya.
"Kamu cinta nggak sama aku?" tanya Ardi lagi.
"Aku nggak tahu ini cinta atau apa. Yang jelas, jantung aku hanya berdebar kencang waktu sama kamu. Dan aku selalu merasa bahagia saat di dekat kamu" jawaban Diana semakin membuat senyum Ardi melebar.
"Kali ini aku yang tanya, kamu nggak bakal nyesal nikah sama perempuan yang lebih tua dari kamu?" tanya Diana.
Ardi terkekeh mendengar perkataan Diana, ia bahkan lupa kenyataan itu. "Enggak tuh. Lagian, umur kamu aja yang tua, wajah kamu kan masih kayak anak remaja. Jadi nggak masalah dong bagi aku"
"Makasih yah Ar, atas semuanya" Ujar Diana tersenyum tulus, membuat Ardi mengangguk bodoh. sial! Ia benar-benar sudah terjerat pesona Diana!
"Ya udah, ayo kita masuk. Mungkin sebentar lagi aku dan keluargaku akan pamit pulang" ujar Ardi, mengingat keluarganya masih di dalam rumah Diana. Entah bagaimana suasana di dalam sana, mereka tadi lebih memilih kabur ke sini.
__ADS_1
"Ayo!"
Vote, like dan komennya jangan lupa. Maaf lama up, aku hanya sedang memperbaiki mood aja. Soalnya makin ke sini, makin banyak komentar yang membuat mood aku hancur untuk menulis. Bukannya lebay, tapi siapa saja akan seperti saya ketika karyanya yang susah-susah ia buat malah tak dihargai.