Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Sebelas


__ADS_3

Ningsih mengabaikan ponselnya yang sedari tadi bergetar, menampakkan nama Wita dan Juna bergantian. Saat ini ia memilih duduk menyendiri di Kursi Taman yang letaknya tak jauh dari Komplek perumahannya dan Juna.


Ningsih bingung dengan hatinya. Ia sama sekali tapi tak mencintai Juna, tapi melihat Juna digandeng mesra oleh perempuan lain membuat hatinya serasa terbakar.


"Bodoh banget sih, Si! Kalau Kak Juna nyangka kamu cemburu gimana? tapi sikap aku tadi wajarkan? Iya, itu masih wajar. Siapapun pasti akan melakukan hal kayak tadi, berdasarkan cinta ataupun enggak! yah, sikap aku tadi pasti masih terlihat wajar!" Ningsih bermonolog, berusaha meyakinkan hatinya atas sikapnya tadi.


"issshhh, mereka nggak capek apa nelpon mulu?" Ningsih menatap ponsel di genggamannya itu dengan kesal, karena panggilan dari Juna dan Wita masih masuk bergantian.


"Rasain! udah tau orang lagi mau sendiri!" ia tersenyum setelah menon-aktifkan ponselnya. Sekarang ini Ningsih benar-benar ingin sendiri. hari ini kepalanya benar-benar pusing, dimulai dari masalah pernikahannya, terus bagaimana ia bersikap pada Noval, pertanyaan kepo dari Wita, dan sekarang ditambah lagi fakta Juna yang selingkuh. Kalau seperti ini terus, Ningsih bisa mati muda.

__ADS_1


Ningsih melangkah meninggalkan Taman setelah hari sudah sore, entah sudah berapa jam ia menghabiskan waktu di sana tanpa tahu kalau ada yang menghawatirkannya setengah mati.


Dengan langkah santai Ningsih memasuki rumahnya, bertepatan dengan kedatangan Mobil Juna. Ningsih mengerutkan alisnya bingung karena Juna hanya memarkirkan mobilnya sembarangan di halaman, lalu dengan tergesa-gesa menghampirinya.


Ningsih dapat melihat jelas wajah kacau Juna. Rahang Pria itu mengeras seolah sedang menahan amarah. Ningsih menelan salivanya takut saat Juna semakin mendekat. Ningsih fikir Juna akan marah dan membentaknya, nyatanya semuanya salah. Pria itu malah membawanya ke pelukan, dan membisikinya kata maaf berulang-ulang.


sesaat Ningsih terbawa suasana, sehingga tanpa sadar tangannya membalas pelukan Juna. Namun beberapa menit kemudian, pikirannya kembali tersadar. Dengan kencang, di dorongnya tubuh Juna sehingga membuat pria tersebut sedikit terhuyung ke belakang. Tanpa mengucapkan apapun, Ningsih meninggalkan Juna sendirian yang masih tampak syok dengan sikap labil Ningsih. Bukannya dia tadi udah balas pelukan aku? batin Juna. Ia menggelengkan kepalanya sebelum menyusul istri labilnya itu.


Juna mengetuk pintu kamar mereka pelan. Dia memutar knop pintu tersebut, lalu tersenyum saat menyadari kalau Ningsih tak mengunci pintunya dari dalam seperti yang ia takutkan tadi. Ternyata walaupun labil, Istrinya tak se-alay itu.

__ADS_1


"Dek!" Juna memanggil Ningsih saat tak menemukan gadis itu di dalam kamar. Suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi membuat Juna menghela nafas legah. Ia tadi sudah berfikiran kalau Ningsih kabur dari rumah melalui jendela kamar mereka. Bukannya apa, Istrinya itu kan ajaib, jadi wajar saja Juna was-was.


"Dek, Kakak mau ngomong" ucap Juna saat Ningsih keluar dari Kamar mandi dan sudah berganti pakaian.


"Dek, semua yang kamu lihat tadi nggak seperti apa yang kamu pikirkan!" Juna mendekat ke arah Ningsih yang asik mengeringkan rambutnya di depan kaca. Gadis itu sedari tadi hanya diam tak merespon perkataannya. Ia tersenyum saat melihat tatapan tajam Ningsih melalui cermin yang ditujukan kepadanya.


Ningsih langsung menghindar saat Juna semakin mendekat ke arahnya, sontak membuat Juna terbahak.


Dalam hati Ningsih mencibir, bagaimana bisa pria itu tertawa padahal ia baru saja melakukan kesalahan?

__ADS_1


"Dek" Juna kembali mendekat ke arah Ningsih yang saat ini sudah duduk di sofa yang ada di kamar mereka.


"Jangan menjelaskan sekarang, karena menurut aku itu hanya pembelaan. Kalau memang Kakak benar, Kakak hanya perlu buktikan. Semakin Kakak berusaha menjelaskan, maka aku akan semakin ragu dengan Kakak" ujarnya dingin. Juna membeku, bukti? bukti macam apa? apa ia harus memohon pada Widya untuk membantunya menjelaskan? sepertinya hanya itu satu-satunya cara.


__ADS_2