Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Enam


__ADS_3

"bawa yang penting-penting aja yah, Dek! Kayak buku sama barang-barang yang kamu pentingkan ke Kampus. Kalau masalah pakaian, bawa beberapa helai saja karena nanti kita bisa beli. Lainnya tinggal di sini saja, siapa tahu kan kita akan menginap sini kapan-kapan" Ujar Juna untuk ke sekian kalinya setelah mereka sampai di rumah kediaman mertuanya.


Ningsih mendengus, lalu mengalihkan tatapannya pada Juna yang masih duduk di Kursi belakang kemudi sambil menatap ke arahnya.


"Please yah, Kak! ini sudah ke tujuh kalinya Kakak mengatakan itu. Perasaan tuh kata-kata aku dengar keluar dari mulut Kakak semenjak kita masih di rumah Tante sama Om" Juna menyengir saat Ningsih menumpahkan kekesalannya. Baginya Ningsih itu imut kalau lagi marah. Makanya sejak dulu ia selalu sering menggoda Ningsih.


"Kakak itu yah, dikasih tahu malah nyengir. Mau aku cabut persetujuan aku....."


"oke,oke! Kakak nyerah!" Juna buru-buru memotong kalimat Ningsih yang ia tahu sedang mengancamnya dengan persetujuan gadis itu tadi. Yah, persetujuan. Persetujuan untuk memberi Juna kesempatan memperjuangkan pernikahan mereka.


Buru-buru, Juna turun dari Mobil, lalu membukakan pintu untuk Ningsih. Juna bukan lagi sok manis yah, tapi menurut Juna istrinya itu memang harus dilakukan layaknya ratu. iya, Ratu. Ratu di hati Juna maksudnya.

__ADS_1


"nggak usah sok manis Kak, Mau muntah aku!" Ujar Ningsih pedas. Senyum di wajah Juna langsung surut perlahan, namun tak lama berganti dengan tawa renyah dari bibir pria itu. Juna berdecak kagum, kalau cewek lain dia perlakuin kayak gitu mungkin aja langsung klepek-klepek. Tapi Ningsih? cewek itu malah mengkritik tanpa menggunakan hati.


"Aku tau Kakak itu aneh sejak dulu. Tapi aku nggak tahu kalau Kakak seaneh ini, Saat kena kritik pedas malah tertawa" lagi, Ningsih mengatakannya tanpa perasaan.


"Kamu sih, lucu. Dimanisin malah mau muntah. kritiknya nggak pake perasaan lagi" Ningsih tak mempedulikan ocehan Juna. Gadis itu malah langsung melangkah masuk rumahnya meninggalkan Juna yang masih tertawa.


"Loh, Si! Suami kamu mana?" Tanya Ata, Papa Ningsih. Ata dan Ana memang sudah pulang lebih dulu dari rumah orang tua Tania.


Juna menatap bingung mertuanya yang sedang tertawa sendirian di ruang tamu, jangan bilang mertuanya gila? Juna menggelengkan kepalanya karena pemikiran kurang ajarnya itu.


"Papa, Papa kenapa ketawa sendirian?" tanya Juna penasaran. Ata mengalihkan tatapannya pada Juna, lagi-lagi ia terbahak saat mengingat perkataan Ningsih tadi. Apalagi wajah Juna ada di hadapannya. Ia sampai membayangkan bagaimana Juna berada di lapak barang-barang bekas namun masih layak pakai itu. Astagfirullah, emangnya Juna barang bekas apa? aneh-aneh aja sih anaknya itu.

__ADS_1


"Pa, kok malah makin ketawa sih? ada apa sebenarnya?" Juna semakin penasaran.


"Hahahahaha...itu..hahah..Istri kamu, masa dia bilang...hahaha kalau kamu dia udah jual di pasar loak. Hahahaha, tadinya Papa mau marah tapi nggak jadi karena lucu, hahahaha" Ata menjawab masih dengan tawanya.


Juna menatap Ata takjub. selama ini yang ia tahu pria itu adalah pria yang berwibawa. Pembawaannya benar-benar menenangkan, dan bahkan terkesan sedikit dingin. Juna tak pernah menyangka kalau tingkah Ningsih bisa membuat pria yang banyak di segani itu tertawa seperti orang gila.


Juna ikut tertawa, Istrinya itu....ah, rasanya Juna ingin membawa Ningsih ke pelukannya, dan nggak akan membiarkannya ke mana-mana.


"terus Ningsihnya ke mana Pa?" tanya Juna lagi.


"ke kamarnya, di atas. Pintunya cat warna Ungu" jelas Ata seolah tahu kalau Juna akan segera menyusul istrinya.

__ADS_1


"kalau gitu Juna nyusul Sisi dulu Pa" Ata hanya mengangguk mengiyakan. Ata terdiam sebentar, lalu matanya membulat karena kelakuan pengantin baru itu. Keduanya itu benar-benar yah....masa mereka masuk rumah nggak salam sih? Dan kenapa juga Ata baru menyadarinya sekarang, setelah keduanya sudah tak berada di hadapannya?


__ADS_2