
Ningsih sangat syok saat melihat keadaan Juna di ruangan itu. sedangkan Wita di sampingnya mengulum senyum geli karena wajah bodoh Ningsih.
Tadi saat di parkiran, Ningsih berlari seperti orang kesetanan memasuki Rumah Sakit. Wita bahkan sampai ngos-ngosan mengejar sahabatnya itu. Namun saat sampai di ruangan yang dikatakan Wita tadi sebagai tempat Juna dirawat, ternyata pemandangan di dalam membuatnya terkejut luar biasa.
Dua pria di dalam Ruangan itu menatap heran ke arah Ningsih yang tadi langsung membuka pintu dengan kuat namun berhenti dengan mulut menganga di depan pintu.
"Si? Ada apa?" Dan suara Juna membuatnya kembali sadar dari keterkejutannya.
Rasanya Ningsih ingin berteriak sekarang. Percuma ia lari-larian kayak orang kesetanan, sampai nangis-nangis alay membayangkan kondisi Juna kalau saat ini pria itu sedang asik tertawa dengan sekertarisnya di dalam sana.
Wita terkekeh pelan, lalu ia mendekati sahabatnya itu dan berbisik pelan "Makanya, kalau orang lagi bicara itu dengarin sampai selesai" kemudian ia mendorong punggung sahabatnya itu memasuki ruangan dan mendekat ke arah Juna dan Sekertarisnya yang kalau Ningsih tak salah namanya Tino.
"Muka kamu kenapa? Mata kamu juga bengkak?" tanya Juna khawatir. Wita rasanya ingin tertawa mendengar pertanyaan Juna, namun ia berusaha menahannya. Jangan sampai Ningsih memakannya hidup-hidup.
Ningsih tak menghiraukan pertanyaan Juna. Ia hanya mengamati keadaan pria itu, tak ada luka menganga yang seperti Ningsih bayangkan. Atau lupa ingatan seperti sinetron-sinetron di mana Juna melupakan Ningsih sebagai istrinya. Atau keadaan di mana Juna sudah tertutup kain putih meninggalkan Ningsih sang istri durhaka. setidaknya itulah yang dipikirkannya tadi.
Juna tetap nampak segar, hanya saja kepalanya dibalut perban. Sedangkan yang lainnya tak ada tanda-tanda yang perlu dikhawatirkan.
Wita dan Tino saling melirik, keduanya seolah saling mengode untuk memberi waktu pada pasangan kurang bahagia itu. Yah, setidaknya itu yang dapat mereka tangkap dari pernikahan keduanya. Sebenarnya mereka bisa bahagia, hanya saja keduanya terlalu bodoh dan berlebihan dalam menghadapi masalah. Terutama untuk Ningsih.
__ADS_1
Juna menarik tangan Ningsih pelan mendekatinya. Wita dan Tino sudah kabur entah ke mana, meninggalkan keduanya.
"Dek?" panggil Juna. mendengar suara lembut itu membuat Ningsih langsung menghambur memeluk Juna.
"Dek, kenapa hmmm?" tanya Juna bingung. ia menepuk-nepuk pundak Ningsih dengan pelan.
"Aku pikir...... Kakak... Kakak akan ninggalin Sisi. Sisi tadi takut Kakak kenapa-napa! Jahat banget sih, bikin orang khawatir kayak tadi" racaunya di pelukan Juna.
"Emang siapa yang ngabarin kamu tadi?"
"Mama" ucap Ningsih pelan. Ia masih memeluk Juna, rasanya sangat enggan melepas pelukannya pada pria yang berstatus suaminya itu.
"Segitu takutnya yah, kehilangan Kakak?" tanya Juna menggoda.
"Iya. Kalau Kakak mati kan Sisi bisa jadi janda, dan Sisi nggak mau itu. Lagipula, selama kita suami-istri Sisi selalu kasar sama Kakak, nggak pernah ngehargain Kakak. Sisi nggak mau jadi Istri yang durhaka" ucapnya membuat Juna tertawa kecil.
"Kakak harus senang atau nggak nih, dengan pengakuan kamu?"
Ningsih melepas pelukannya pada Juna, lalu menatap suaminya itu dengan dalam.
__ADS_1
"Kak?! Sisi takut kehilangan Kakak, Sisi sayang sama Kakak. Jadi.....mari kita perbaiki rumah tangga kita. Sisi akan berusaha menerima Kakak " ujarnya membuat Juna terkejut luar biasa.
"Kamu benaran sayang?!" tanya Juna. Bahkan ia menangis karena terharu dengan ucapan istri kecilnya itu.
Dan....anggukan dari Ningsih membuatnya kembali menarik sang Istri ke dalam pelukannya.
**TAMAT**...
****Ayo...siapa yang tegang?
Nggak deh! aku cuma bercanda😁
masih banyak persoalan yang harus mereka hadapi kok, jadi Ningsih sama Juna masih mengharap dukungan dari kalian akan cobaan rumah tangga mereka nanti😊**
Oh yah, mu bilang juga kok likenya malah makin berkurang? kalian bosan yah, sama ceritanya? kan sedih liat yang baca banyak tapi likenya cuma sedikit.
__ADS_1