Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Ardiana Part 3


__ADS_3

Like, vote dan komennya jangan lupa😊


Ardi saat ini tengah menikmati martabak coklat kacang di tempat langganannya. Pria itu memakan martabaknya dengan lahap, sesekali ia mengalihkan tatapannya ke arah jalan yang tengah ramai dengan kendaraan.


"Martabak coklat kacangnya dua yah Mas!" suara seseorang yang sedang memesan martabak itu membuat Ardi refleks menoleh. Ia tersenyum kecil saat melihat seseorang yang kini tengah membelakanginya. Entah kenapa, padahal baru sekali bertemu, namun Ardi seolah sudah hafal siapa pemilik punggung itu.


Merasa ada yang memperhatikan, Diana mengalihkan tatapannya ke arah belakang. Dan benar! Di sana ada seorang pria yang menatapnya sambil tersenyum. Setelah menerima pesanannya, Diana mendekat ke arah Ardi yang tengah duduk di bangku yang memang sengaja disediakan di sana untuk pengunjung yang ingin makan di tempat.


"Hei! Ketemu lagi" sapanya saat sampai. Ardi mengangguk "Iya. Rasanya sejak pertemuan kemarin, kita bakalan jadi sering ketemu deh!" Diana terkekeh pelan.


Ardi memperhatikan wanita di sampingnya itu. Penampilan Diana terlihat sedikit berbeda dari kemarin. Mata wanita itu terlihat membengkak, juga hidungnya memerah seperti baru selesai menangis.


"Mau bercerita sesuatu? Aku siap loh, jadi tong sampah curhatan kamu!" ujar Ardi membuat Diana terkejut.


"Hah?!"


"Cerita aja. Aku tahu kalau kamu lagi ada masalah" Ardi tak tahu kenapa, ia merasa ingin merangkul dan melindungi wanita di hadapannya itu. Ardi merasa tak rela akan wajah sendu itu.


"Orang tuaku lagi-lagi menanyakan tentang pernikahan. Dan kalau aku masih nggak punya calon juga, dengan terpaksa mereka akan ngejodohin aku"

__ADS_1


Ardi tersentak kaget. Zaman sekarang masih ada perjodohan? oh, ayolah! Ini sudah 2020 loh.


"Gila! Masih ada juga yah, sistem kayak gitu di zaman secanggih ini"


Diana mengangguk "Iya. Keluarga aku juga termasuk keluarga yang berpikiran kolot. Mungkin bagi keluarga lain, umur dua puluh tujuh tahun belum menikah itu bukanlah hal yang terlalu dibesar-besarkan. Tapi di keluargaku, mereka selalu membanding-bandingkan. 'Sepupu kamu saja baru lulus SMA udah ada yang lamar', 'Anak si A saja sekarang udah punya anak', 'Kodrat perempuan itu yah hanya mengurusi dapur, kalau kamu ngejar karir percuma. Karir tinggi tapi jadi perawan tua, apa kata orang? Mama malu sampai saat ini kamu belum laku-laku" Diana menirukan semua kalimat yang sering kali mereka katakan kepadanya. Ardi bergidik ngeri akan kekolotan keluarga Diana.


"Aku tertekan Ar, setiap mereka ngomong kayak gitu. Siapa yang tak ingin menikah? Tapi kalau memang belum waktunya yah kenapa mereka harus maksa?" Air matanya mengalir begitu saja. Diana tanpa sadar, kembai menangis di depan seseorang yang baru dua kali bertemu dengannya.


Ardi meletakkan mertabaknya di atas meja. Pria itu mengelus bahu Diana berusaha untuk menenangkan. Ia mengerti bagaimana rasanya menjadi Diana.


"Terus, apa kamu punya seseorang yang spesial untuk kamu jadikan suami kamu suatu saat nanti?" tanya Ardi setelah Diana sedikit lebih tenang.


Ardi terdiam berfikir. Kalau Diana tipe perempuan yang seperti itu, kenapa dengan Ardi ia menjadi lebih terbuka dan sangat akrab, padahalkan ini baru kedua kalinya mereka bertemu. Apa wanita itu tak menyadarinya?


"Udah yah, tenangin diri kamu" hibur Ardi.


"Oh yah, aku mau nanya sesuatu sama kamu"


Diana memandang Ardi penuh tanya. "nanya apa?"

__ADS_1


"Memangnya kalau misalnya, ini misalnya yah. Ada seseorang yang kamu kenal ingin melamar kamu, gimana?" tanya Ardi.


Diana menggeleng. "Aku nggak punya teman pria yang lagi dekat dengan aku Ar. Jadi mana ada yang mau ngelamar aku, yah kecuali orang yang akan dijodohkan sama aku sih. Tapi kan aku nggak mau dijodohin"


Ardi mengangguk. "benaran kamu nggak punya teman pria, saat ini? Terus aku kamu anggap apa?" tanya Ardi lagi.


Diana terdiam, kemudian gadis itu memandang Ardi tajam. "Ar, jangan bilang maksud pertanyaan kamu tadi itu...."


Ardi tersenyum kecil. "Kalau iya kenapa?" tanyanya menantang.


Diana mendengus pelan. "Kamu lebih muda dari aku Ar, jangan lupakan fakta itu" cibirnya. Tentu saja Diana tak menganggap Ardi serius. Selain umur mereka berbeda, keduanya pun bertemu baru dua kali. Dan yang Diana tahu, Ardi waktu pertama bertemu dengannya lagi patah hati, masa baru beberapa hari udah move on aja?


"Ya lebih bagus dong. Kan kamu beruntung, dapatin berondong. mana berondongnya cakep banget" ujar Ardi sambil tertawa.


"Ngaco! Tapi thanks yah Ar, seenggaknya walau kamu ngomongnya ngaco, kamu mau dengarin curhatan aku malam ini"ucap Diana, wanita itu memandang Ardi dengan senyum manisnya.


Ardi membalas senyuman Diana. Dalam hati ia bertekad, akan membuat Diana mempercayai kalau dia benar-benar serius akan ucapannya. Karena Ardi baru menyadari, ia menyukai Diana sejak pertemuan pertama mereka tempo hari.


Ayo kasih dukungan buat Babang Ardi😊

__ADS_1


__ADS_2