Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Ikhlas Part 1 (Cerita Ishak dan Wulan)


__ADS_3

Seorang pria mengendarai mobilnya di jalan raya dengan kecepatan sedang. Sesekali matanya melirik ke arah jendela, melihat lalu lalang kendaraan di sekitarnya. Dia Ishak, proa yang baru saja menjalani wisuda hari ini. Bahkan seragam batik masih melekat di tubuhnya.


Ishak mengerem mobilnya mendadak, saat ada seorang anak berseragam SMA menyeberang tanpa memperhatikan jalanan. Untung saja ia cepat menghentikan mobilnya, kalau tidak sudah dipastikan anak itu memasuki Rumah Sakit.


Ishak turun dari mobilnya, saat melihat anak tadi berdiri mematung karena kaget.


"Dek, kamu nggak apa-apa?" Tanyanya khawatir.


"I..iya Mas. Ma...maaf. Aku nyebrang nggak liat-liat" sesal anak itu.


"Iya. Yang penting kamu nggak apa-apa. Lain kali nyebrangnya hati-hati" nasehatnya. Anak itu mengangguk mengiyakan.


"Memangnya kenapa kamu terlihat buru-buru?" Ishak kembali bertanya.


"Saya ingin segera sampai rumah Mas. Ingin segera bertemu Nenek untuk memberikan gaji pertama saya" jelas anak itu dengan jujur.


Ishak terperanjat kaget. "Gaji pertama?!"


"Iya Mas!"


"Kamu memangnya nggak sekolah?" Ishak benar-benar merasa penasaran.


"Sekolah kok Mas. Saya bekerja paruh waktu. Tapi hari ini saya diizinkan pulang duluan sama bos saya" ujar anak itu menjelaskan.


Ishak mengangguk mengerti. "Nama kamu siapa?"

__ADS_1


"Ilham Mas"


"Gimana kalau Mas antar kamu pulang? biar cepat sampai. Mas penasaran sama kamu, diumur kamu yang segini bisa bertindak lebih dewasa. Padahal banyak anak remaja yang memilih menghabiskan waktunya bersenang-senang"


Ilham terdiam memikirkan tawaran itu. Ia memandang Ishak ragu, memastikan bahwa pria yang di hadapannya itu bukanlah orang jahat.


"Baik Mas. Asal nggak merepotkan Mas"


"Sama sekali enggak kok. Kalau gitu kita pergi sekarang, biar bisa cepat sampai" ajak Ishak. Keduanya kemudian memasuki mobil milik Ishak.


"Sudah lama kamu kerja paruh waktu?" tanya Ishak saat mereka sudah berada di perjalanan.


"Baru sebulan Mas. Kalau Kakak saya sudah tiga bulanan, hanya saja tempat kerja kami berbeda"


Ishak menoleh sejenak ke arah Ilham. "Kamu juga punya Kakak?"


Mobil milik Ishak berjalan sesuai dengan petunjuk Ilham. Setelah bebepa menit, akhirnya mereka sampai.


"Kamu tadi ke sini itu dengan jalan kaki? kamu nggak capek?"


"Iya Mas. Enggak capek kok, kan udah terbiasa" Lagi-lagi Ishak merasa tersindir mendengar perkataan Ilham. Anak itu mampu berjalan sejauh ini, sedangkan Ishak, sedekat apapun ia akan tetap membawa kendaraannya.


"Ayo masuk Mas. Nenek sama Kak Wulan pasti udah pulang" ajak Ilham.


Ishak menurut, ia mengikuti langkah Ilham memasuki sebuah rumah sederhana, namun Ishak tahu di dalam sana penuh dengan kehangatan.

__ADS_1


"Assalaamu'alaikum Nek!"


"Wa'alaikumussalaam" terdengar jawaban dari dalam sana.


"Ayo masuk Mas! Nenek sama Kak Wulan pasti lagi di dapur" Ishak pun menurut saja, mengikuti langkah anak itu.


"Eh, kamu sama siapa Ham?" tanya Wulan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Gadis itu sepertinya baru habis mandi, terbukti dengan rambutnya yang masih terlihat basah.


"Ini Mas....." Ilham terlihat kebingungan. Pasalnya Ishak sejak tadi mengobrol dengannya belum memperkenalkan nama.


"Ishak! Nama saya Ishak" ujar Ishak memperkenalkan diri.


"Eh, iya Kak. Ini Mas Ishak"


Wulan memperhatikan penampilan Ishak sejenak. Ia berpikir sebentar, adiknya ini mengenal Ishak di mana? Ia takut Ishak adalah orang jahat.


"Tenang Mbak, saya bukan orang jahat kok. Saya tadi hanya ngantarin Ilham pulang, soalnya dia keliatan buru-buru jalannya. Gitu!" jelas Ishak. Wulan menatap Ilham meminta jawaban apakah perkataan Ishak itu benar atau tidak.


"Iya Kak. Benar kok. Kalau Mas ini bukan orang baik, Ilham pasti nnggak nyampe sini"


Wulan tak mengatakan apapun, gadis itu malah meninggalkan keduanya. Wulan bukannya tak sopan, hanya saja ia memiliki trauma dengan orang kaya. Dengan sekali lihat sudah dipastikan Ishak berasal dari kalangan atas.


"Kakak kamu kok kayaknya jutek orangnya?" tanya Ishak.


"Enggak kok. Hanya saja, Kak Wulan kayak gitu karena sesuatu yang nggak mungkin aku jelaskan ke Mas" jawab Ilham sambil menatap punggung Wulan dengan sendu. Dan semua itu tertangkap oleh penglihatan Ishak, namun ia merasa tak berhak bertanya lebih meski penasaran.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komennya😊


__ADS_2