Sang Pengiring Pengantin

Sang Pengiring Pengantin
Bimo dan Tania Part 2


__ADS_3

**Jangan lupa baca karya2ku yang lain.



Miss Judes


Sang Pengiring Pengantin 2


Hadiah terindah untuk Alifah


Putri Liliana


Laskar dan Pelangi

__ADS_1


Kisah Cinta Salju dan Kutub


Dan jangan lupa jejaknya😊**



Bimo saat ini tengah duduk di atas ranjangnya, menatap kosong ke depan. Pikirannya dipenuhi dengan Tania. Andai saja itu dulu, maka Bimo tak akan berpikir dua kali untuk menikahi wanita itu. Tapi sekarang berbeda, kekecewaannya terhadap Tania perlahan menghapus rasa cinta Bimo dan tergantikan dengan cinta yang baru, yah....meskipun cinta itu sampai kapanpun tak akan pernah bisa Bimo ungkapkan.


Bimo bukan tak ingin bertanggung jawab, ia hanya tak mau menjalani ikatan tanpa adanya rasa cinta. Karena besar kemungkinan, itu hanya akan menyakiti kedua belah pihak. Kalau dirinya yang tersakiti ia tak apa, tapi kalau Tania bagaimana? Bimo tak ingin semakin menambah beban wanita yang melahirkan anaknya itu. Lelah bergelut dengan pikirannya yang tak kunjung mendapat jawaban, Bimo membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Sayang, masalah tadi...."


"Tania ke kamar. Bita belum minum ASI" pamitnya memotong pembicaraan Adelia.

__ADS_1


Tania menimang-nimang Bita yang terlihat tenang. Tadi itu hanya alasannya, nyatanya bayi itu sedang asik sendirian di dalam box nya.


"Anak Mama! Issh! Asik main sendiri yah tadi" Bita tentu saja belum bisa menanggapi omongan Tania, karena Bayi itu baru berumur satu bulan lima hari.


"Besar nanti Bita jadi anak yang kuat yah! Yang baik, yang manis. Jangan jadi anak yang egois yah sayang!" celoteh Tania sendirian. Ia harus mulai menanamkan sikap baik pada Bita. Mungkin sekarang Bayi itu belum bisa mengerti ucapannya. Tapi kalau ia sering memperdengarkan kalimat itu sejak dini, Tania yakin dengan sendirinya sikap tersebut akan tertanam pada diru anaknya.


"Bita juga jangan benci Mama yah, jika Mama terlihat egois saat ini. Mama hanya takut sayang! Tapi Mama janji, nggak akan memisahkan kamu sama Ayah kamu" Tania menghela nafas pelan. Ia kembali meletakkan Bita di atas Box Bayinya.


"Apa aku egois kalau berusaha menolak kehadiran Bimo? Lagipula, aku yakin Bimo sudah mencintai perempuan lain. Aku hanya nggak mau Bimo menatapku penuh belas kasihan. Aku benci tatapan seperti itu. Aku sama Bita saja sudah cukup" air matanya mulai mengalir. Semua kelakuannya dulu seolah kembali terputar di ingatannya. Tak ada yang tahu, sebenarnya Tania seperti orang depresi jika mengingat sikapnya yang dulu.


"Aku ini wanita yang benar-benar bodoh! Semua nggak bakal kayak gini kalau bukan karena sikap aku sendiri! Aku.......aku, bahkan mungkin aku nggak pantas bahagia" Tangisnya semakin deras. Mungkin sebagian orang menganggap permasalahannya adalah hal sepele. Namun bagi Tania tidak. Kesalahannya terlalu banyak dan terlalu besar. Ia melukai adik kesayangannya sendiri. Ia membuat masa remaja Sisi seolah terenggut karena memikirkan masalah rumah tangganya. Belum lagi banyak pihak yang ia kecewakan. Dan yang membuat Tania makin terpuruk adalah, mereka dengan lapang dada menerima Tania kembali dan memberinya maaf. Tania merasa dirinya sangatlah rendah. Sikapnya yang dulu licik malah mereka balas dengan kebaikan. Ia terlalu malu, sayangnya semua perasaannya hanya mampu ia pendam sendiri.


"Aku terlalu bodoh, dan Sisi terlalu baik hingga dengan mudah memaafkan aku! Maafin Mama Bita, Mama pernah jadi orang jahat. Tapi Mama janji, Mama akan berubah sayang!" ujarnya pilu seperti orang gila.

__ADS_1


Ayo like, Vote dan komennya😊


__ADS_2