
Malam Hari š
Mayra berdiri di depan cermin besar yang tingginya lebih dari tinggi badannya. Sambil berlenggak lenggok di depan cermin Mayra mencoba berbagai model pakaian yang akan Ia kenakan untuk pergi bersama Abay. Hingga hampir setengah pakaiannya di coba, Mayra masih belum menemukan yang di rasa cocok untuknya.
Ibu yang melewati kamar Mayra tercengang melihat pakaian yang menumpuk di ranjang hingga ranjangnya tidak kelihatan.
"Mayra apa-apaan ini?"
"Ibu, Aku bingung mau pake baju yang mana."
"Sebanyak ini baju yang sudah Kamu coba tapi kamu tidak juga menemukan yang cocok?"
"Ibu, Saat aku memakainya di depan semua orang, Aku merasa semua pakaianku cocok untuk ku, Tapi saat Aku ingin jalan dengan Abay, Mengapa aku merasa semua bajuku menjadi tidak cocok untuk ku.'
Ibu tersenyum mendengar ucapan Mayra.
"Sayang apapun yang Kamu pakai, Pasti Kamu akan terlihat cantik."
"Tapi Ibu... Aku tidak ingin terlihat buruk di depan Abay."
"Kecantikan seorang Wanita yang sebenarnya adalah kecantikan yang terpancar dari hati, Percantiklah hatimu maka kencantikan itu akan terpancar dari wajah mu." ucap Ibu sembari memegang dagu Mayra.
Mayra tersenyum mendengar jawaban Ibu
"Terimakasih Ibu." Mayra memeluk Ibunya sesaat.
"Sama-sama Sayang, Ibu pergi dulu, Kamu bersuaplah."
Akhirnya Mayra memutuskan menggunakan Off shoulder dress berwarna sweet mocca yang makin membuat penampilannya semakin girly dan anggun.
"Ayah, Ibu... Aku pergi sekarang." pekik Mayra sembari menuruni anak tangga satu persatu.
"Hati-hati Sayang, Pulangnya jangan malem-malem." ucap Ayah.
"Hati-hati Datang sambung Ibu mencium pipi kanan kiri Mayra.
"Jangan khawatir Ayah Ibu, Bye..."
Mayra meninggalkan rumah menuju ke tempat dimana meryeka akan bertemu, Mayra menghubungi Abay untuk memberitahukan jika dirinya sudah di jalan. Namun berkali-kali Ia mencoba, Abay tidak juga mengangkatnya.
"Kenapa Abay tidak mengangkat ponselnya." gumam Mayra yang mulai merasa cemas.
__ADS_1
Mayra terus berusaha menelfonnya namun kali ini ponsel Abay malah tidak aktif. Sedangkan Mayra tidak tau nomor Adik-adiknya maupun Ibunya. Akhirnya Mayra meminta supir untuk mengantarnya ke rumah Abay.
ā¢ā¢ā¢
Sesampainya di rumah Abay, Mayra bergegas mengetuk pintu, Ada Cemas, Khawatir, Kecewa dan sebagainya yang berkecamuk di dalam hatinya.
Tok... Tok... Tok...
Tidak lama kemudian Ibunya Abay keluar membukakan pintu.
"Nak Mayra, Ada apa, Kenapa terlihat cemas?"
"Ibu, Dimana Abay? Apa Dia di rumah?"
Ibu yang memang tidak tau menyuruh Mayra menunggu, Sementara dirinya memeriksa ke kamar Abay. Namun Ibu tidak melihat keberadaan Abay.
"Abay tidak berada di kamarnya Nak."
"Lalu Dia kemana Bu?"
"Ibu juga tidak tau Dia pergi dari rumah, Dia tidak meminta izin pada Ibu."
"Baiklah Ibu, Aku pulang dulu." dengan perasaan kecewa Mayra meninggalkan rumah Abay.
Abay mengunjungi semua tempat yang pernah Mereka datangi, Tapi setelah lama mencari, Abay tidak juga menemukan Nandini.
Abay yang merasa putus asa memutuskan untuk pulang.
Di perjalanan, Mobil Mayra berpapasan dengan motor Abay. Namun karena Mayra yang terus melamun sedih, Ia tidak melihat Abay, Begitupun Abay yang tidak melihat mobil Mayra karena fokus mengendarai motornya.
Sesampainya di rumah besarnya, Mayra bergegas masuk dan melihat Ayah dan Ibu masih di ruang keluarga.
"Udah pulang? Kok cepet?" tanya Ibu.
Mayra yang mendengar pertanyaan Ibu tak kuasa menahan tangisnya dan langsung memeluk Ibunya.
"Ada apa Sayang? Apa yang terjadi?"
"Ibu, Abay tidak jadi menemuiku, hiks hiks hiks."
"Kurang ajarrr!!! Berrraninya Dia membuat mu menangis!"
__ADS_1
"Ayah..." Mayra menumpahkan tangisnya di pelukan Ayahnya.
"Sayang Ayah dan Ibu kan sudah pernah bilang, Jangan mengambil keputusan terburu-buru, Sekarang belum apa-apa aja Abay sudah membuatmu menangis, Bagaimana nanti jika Kalian benar-benar jadi menikah?"
Mayra hanya menangis mendengar ucapan Ayahnya.
"Ayo Sayang, istirahatlah di kamarmu." titah Ibu.
Mayra langsung berbaring di pangkuan Ibunya yang terus mengusap lembut kepala hingga Mayra terlelap dalam tidurnya.
ā¢ā¢ā¢
Abay langsung masuk kamarnya dan duduk lesu sembari menyangga kepalanya dengan kedua tangannya. Kemudian meremad kasar rambutnya karena merasa kesal mengapa dirinya masih tidak bisa melupakan Nandini dan terus berusaha mencarinya.
"Arrgghhhhh!!! Abay melempar gelas yg ada di meja kamarnya.
PRAAAANNNNNNKKKKKKK...!!!
Ibu yang mendengar suara pecahan dari kamar Abay segera mendatanginya.
"Abay, apa-apaan ini dan darimana saja Kamu?"
"E-e tadi Aku tidak sengaja menjatuhkannya Ibu."
"Tapi Ibu seperti mendengar Kamu berteriak?"
"Ya, Aku berteriak karena merasa kaget saja, Ibu kembalilah tidur, Aku akan membersihkannya."
"Baiklah, E-e Oh ya, tadi Mayra datang kesini mencarimu."
"Sial! Aku lupa Mayra mengajakku jalan." batin Abay sembari memegangi kepalanya.
"Ada masalah apa, Kenapa Mayra terlihat begitu cemas?'
"Tidak ada Ibu, Besok Aku akan bicara padanya."
"Baiklah, Sekarang beristirahatlah, Besok saja bersihinnya."
Abay menganggukkan kepalanya. Kemudian Abay kembali duduk di tepi amben dan merasa khawatir jika Mayra akan marah padanya.
"Aahh sialll sialll sialll, Kenapa Aku bisa lupa dengan janjiku, Bagaimana jika Mayra marah padaku dan menghentikan biyaya kuliahku? Aargh!" Abay menonjok bantal yang ada dipangkuanya.
__ADS_1
Bersambung...