
Yash langsung mengalihkan wajahnya melihat Mamahnya masuk ke kamarnya. Namun Mirna tidak peduli dan terus mendekati putranya
"Apa yang coba kanu. sembunyikan dari Mamah?"
Yaz hanya diam dan terus nembelakangi Mamahnya. Hal ini membuat Mirna sangat marah
"Kalau di ajak bicara, Liat Mamah!" dengan kasar Mirna menarik pundak Yaz agar menghadapnya. Namun alangkah terkejutnya Mirna melihat wajah Yaz yang penuh luka lebam.
"Apa yang terjadi padamu Yaz, Kenapa wajah mu seperti ini?
Apa mereka memukuli mu?"
"Tidak ada yang seperti itu, Sudahlah."
"Apanya yang tidak ada, Wajahmu lebam begitu kamu bilang sudahlah?"
"Ini salah ku, Jadi sudahlah, Nanti juga sembuh."
"Mereka benar-benar perlu diberi pelajaran, Putraku sudah bersimpuh meminta maaf, Tapi mereka malah memukulnya seperti ini." batin Mirna
Mirna meninggalkan kamar Yaz dan menemui supirnya.
"Apa yang terjadi dengan putraku? Kenapa kamu nemberiku Video yang tidak lengkap?"
"Maaf Nyonya Saya sampai disana disaat Tuan Muda sudah meminta maaf, Jadi Saya tidak tau apa yang terjadi sebelumnya."
Mirna yang mendengarnya merasa kesal dan kembali masuk ke dalam.
•••
Abay melihat sudah banyak peserta kursus yang keluar gedung. Namun Mayra tidak juga kelihatan.
Abay mulai tidak bisa diam dan terus mondar mandir menunggu kapan Mayra keluar.
Sedangkan di dalam Mayra masih sibuk dengan tugasnya.
Chef memberinya tambahan waktu pada Mayra untuk mengganti waktu yang telah Mayra lewatkan karena Ia terlambat datang.
"Sudah selesai Chef."
__ADS_1
"Baiklah akan ku lihat."
Chef Alan mengecek tugas Mayra satu persatu, Chef merasa senang karena Mayra berhasil mengerjakan tugasnya dengan benar sesuai arahannya.
"Sekarang pejamkan mata mu dan kenali bumbu-bumbu ini dengan mata terpejam."
Mayra menuruti sesuai perintah dengan memejamkan mata di hadapan Chef Alan yang mengarahkan satu persatu bumbu ke hidungnya.
Chef Alan yang berhadapan langsung dengan wajah Mayra dari jarak yang sangat dekat tanpa Ia sadari mulai memperhatikan wajah cantiknya, Bulu matanya yang lentik hidungnya yang mancung serta bibirnya yang begitu menggoda saat Mayra terus menjawab semua nama bumbu yang Ia berikan.
"Apa masih ada lagi?"
Pertanyaan Mayra membuat Chef Alan tersentak dari pandangannya dan membuatnya salah tingkah.
"A-e ya, Sudah. Sekarang kamu boleh membuka mata mu."
Mayra membuka mata dengan senyum lebarnya karena Chef Alan tidak memprotes sama sekali jawabannya.
"Apa semua jawaban ku benar?" tanya Mayra memastikan.
"Ya semua benar."
"Yeyyy... Akhirnya..."
"Jika kamu sudah bisa mengenali semua bumbu-bumbu ini, Maka memasak akan lebih mudah, Besok kita akan memulai memasak menu pertamamu."
Mayra mengangguk senang.
"Baiklah sekarang kamu bisa pulang, Sampai ketemu besok dan jangan terlambat lagi."
"Aku janji tidak akan terlambat lagi Chef."
Dengan langkah riang Mayra meninggalkan kelas dan meninggalkan gedung.
Abay yang melihat Mayra keluar langsung berlari ke arahnya.
"Mayra kenapa lama sekali, Apa kamu mendapat masalah?"
"Tidak Abay Chef hanya memberiku tambahan waktu karena Aku datang terlambat."
__ADS_1
"Apa Dia memarahimu?"
"Ya, Chef itu memang sangat galak."
"Berraninya Dia memarahimu, Biar ku beri pelajaran." Abay melangkah naik ke gedung. Namun Mayra langsung menarik Abay kesisinya.
"Sudahlah Abay ini nemang salah ku, Aku membuat kesalahan 3x berturut-turut jadi Dia pantas marah pada ku dan lagi pula Dia sudah tidak marah padaku, Dia membantu semua tugasku dengan baik."
"Benar-benar Chef yang aneh, Sebentar marah sebentar tidak."
"Sudahlah Abay, Ayo kita pulang."
Abay mengangguk dan menyalakan motornya.
•••
Beberapa saat kemudian mereka sampai dirumah.
Seperti biasa mayra langsung ke kamar mandi dan Abay membuatkan teh untuk Mayra,
Beberapa menit kemudian Mayra keluar dari kamar mandi, mayra duduk dan memegangi lehernya yang terasa begitu pegal.
Abay mendekati Mayra dan memberikan teh hangat untuknya
Mayra tersenyum dan meminum teh yang Abay buatkan untuknya.
Kemudian Abay kembali mengambil gelas di tangan Mayra dan menaruhnya di meja.
Abay naik ke ranjang. dengan bertumpu pada kedua lututnya Abay mulai memijat leher hingga ke pundaknya.
"Apa ini lebih baik?" tanya Abay dengan membungkukkan badannya untuk menatap wajah Mayra
"Hhmm, Sekalian kepalanya dong."
"Baiklah Tuan putri." Abay memijat kepala Mayra dengan lembut. kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengecup keningnya.
Mayra terseyum bahagia karena Abay semakin perhatian padanya.
"Istirahatlah Sayang."
__ADS_1
Mayra mengangguk dan membaringkan tubuhnya. Kemudian Abay menyelimuti Mayra dan mendekapnya dari belakang.
Bersambung...