
Beberapa menit kemudian Chef kembali mendekati Mayra. Dengan tatapan tegas dan suara beratnya Chef menanyakan tugas yang Ia berikan.
"Apa tugas mu sudah selesai?"
Mayra menggelengkan kepalanya dengan rasa takut.
"Apanya yang susah Mayra, Tadi saya sudah memberi tahu semua nama bumbu-bumbu ini, Kamu tinggal mencocokan saja."
"Aku belum begitu memahami ini semua Chef, Maafkan Aku."
"Kamu cium ini." Chef meminta Mayra mencium 1 per 1 berbagai macam bumbu yang ada di depannya.
"Pelajaran pertamamu hanya mengenali bumbu-bimbu ini, Kamu harus mengetahui nama dan baunya, Bahkan di awal tadi Saya juga sudah memberitahu semuanya tapi Kamu sibuk dengan ponselmu sampai hal sekecil ini pun kamu tidak bisa mengingatnya."
"Maafkan Aku Chef." Mayra hanya bisa menundukkan kepalanya dengan sedih.
"Lain kali jangan bermain ponsel Saya sedang menjelaskan." dengan kesal Chef pergi meninggalkan Mayra.
"Ini semua gara-gara kamu Abay, Aku jadi melupakan semua apa yang sudah Chef ajarkan pada ku." batin Mayra kesal.
"Pelajaran hari ini selesai!" ucap Chef menghentikan aktivitas semua peserta kursus.
Semua keluar dari ruangan kecuali Mayra yang di hentikan sebelum keluar.
"Saya maklumi karena ini pertama kalinya kamu mengenal berbagai jenis bumbu dapur, Tapi Saya harap mulai besok km harus benar-benar serius belajar, Tidak ada ponsel saat jam kursus." tegasnya.
Mayra mengangguk dan keluar dari ruangan.
"Kamu harus terbiasa Mayra, Chef Alan memang sangat galak, Untung aja ganteng kalau nggak semua peserta kursus pasti sudah pada kabur," ucap salah satu peserta kursus yang berjalan di belakang Mayra.
Mayra terseyum tipis dan menganggukkan kepalanya.
Kemudian Mayra keluar dari gedung dan melihat Abay sudah menunggunya.
Abay tersenyum penuh semangat menyambut kedatangan Mayra
Namun Mayra memasang wajah kesalnya pada Abay.
"Sayang..." Abay ingin memeluk Mayra, Tapi Mayra langsung menyingkirkan tangan Abay dan berjalan meninggalkannya.
"Mayra... Mayra kenapa kamu marah, Aku kan tidak terlambat menjemput mu."
Mayra terus berjalan tak mau menjawab pertanyaan Abay.
"Mayra kamu mau kemana ini sudah malam, Ayo kembali Mayra, Atau kita akan kehilangan motor lagi."
Mayra berhenti dengan tatapan kesal pada Abay.
Abay pun merasa bingung kenapa Mayra marah padanya.
__ADS_1
"Bicaralah padaku Mayra apa kesalahan ku?"
"Abay Aku baru meninggalkanmu 1 jam, Tapi kamu terus menerus menelfon ku, Aku jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan tugas ku."
"M-m... maafkan Aku tidak bisa menahan diriku, Aku sangat merindukanmu Mayra." Abay mencoba memegang tangan Mayra namun Mayra langsung menepisnya.
Mayra kembali berjalan meninggalkan Abay melewati beberapa Pria yang sedang nongkrong di tepi jalan.
Salah satu Pria bangun begitu melihat Mayra yang terus di ikuti Abay.
Mayra yang melihat Pria itu semakin dekat menghentikan langkahnya dengan tegang.
"Apa Dia mencoba mengganggumu?" tanya Pria itu.
Mayra menoleh ke belakang menatap Abay.
"Katakan padaku jika Dia mencoba mengganggumu biar Aku kasih Dia pelajaran." Pria itu langsung mengangkat kepalan tangannya ke arah wajah Abay. Namun Mayra langsung menghentikannya.
"Tidak-Tidak, Dia... Dia suami ku."
"Benarkah Dia suami mu? Apa kalian sedang bertengkar?"
"Itu bukan urusanmu, menyingkirlah." ucap Abay.
Mendengar jawaban ketus dari Abay Pria itu langsung menonjok wajah Abay.
"Aww..." Abay terjungkal ke tanah sembari memegangi hidungnya yang terasa begitu sakit.
"Apa yang kamu lakukan kenapa memukulnya, Aku kan sudah bilang jika Dia suamiku."
"Itu salahnya sendiri, Ditanya baik-baik malah nyolot." ucap Pria itu kemudian berlalu pergi.
Mayra mengambil tisu di tasnya dan membersihkan hidung Abay yang mengeluarkan darah segarnya.
Kemudian Mayra memapah Abay dan kembali ke tempat kursusnya.
"Ini sakit sekali Mayra," rengek Abay sambil terus mengelap hidungnya.
Mayra terdiam mencoba tidak mempedulikannya.
"Untung saja motor Kita tidak hilang lagi."
ā¢ā¢ā¢
Tidak kurang dari tiga puluh menit Mereka sampai kerumah.
Mayra langsung masuk ke kamar dengan perasaan yang masih kesal.
Abay hanya bisa menghelai nafas melihat istrinya sedang marah.
__ADS_1
Abay mencoba mendekati tapi Mayra kembali keluar dan pergi ke kamar mandi. Abay pun pergi ke dapur membuatkan teh hangat untuknya.
Setelah menunggu beberapa saat, Mayra keluar dari kamar mandi dan melihat Abay sudah duduk di kamarm
"Mayra minumlah, Kamu akan merasa lebih baik."
Mayra hanya melirik dan berbaring di tempat tidur membelakangi Abay.
Ajay mendekati Mayra dan nembelai lembut rambutnya.
"Baiklah Aku minta maaf, Aku janji padamu Aku tidak akan lagi nengganggu mu saat kamu kursus."
Mayra masih diam tak mempedulikan ucapan Abay.
"Mayra Ayolah berhenti marahnya, Aku tidak bisa menghadapi kemarahan mu." Abay meletakkan gelas teh dan naik ke ranjang memeluk Mayra dari belakang.
"Mayra... Mayra.." Abay meletakkan dagunya di lengan Mayra. Namun dengan kasar Mayra menyingkirkannya hingga membuat Abay meringis kesakitan.
"Aaawwhhhh..." Abay memegangi hidungnya yang kembali berdarah terkena siku Mayra.
Mayra yang mendengarnya langsung bangun dan terkejut melihat Abay kembali kesakitan.
"Abay, Hidung mu." Mayra segera berlari mengambil tisu
Abay terus memegangi hidungnya dan memejamkan mata menahan sakit yang teramat sangat.
"Berbaringlah dengan kepala lebih rendah Abay.
Abay pun berbaring dengan kepala di tepi ranjang untuk menghentikan darahnya.
"Abay maafkan Aku, Aku tidak sengaja melakukannya."
"Ini sangat sakit Mayra, hidungku seperti mau patah."
Mayra berada di sisi Abay dan menyumbat hidung Abay dengan tisu.
Perlahan Abay merasa lebih baik dan beranjak bangun menatap Mayra yang terlihat begitu khawatir padanya.
"Apa ini berarti kamu sudah tidak marah padaku?"
Mayra langsung mengalihkan pandangannya dan menepis tangan Abay.
Mayra mencoba bangun, Namun Abay menariknya kembali hingga wajah mereka sejajar saling berhadapan.
Abay mencoba mencium Mayra, Tapi Mayra menghindarinya.
Abay terus memaksa Mayra hingga hidungnya kembali sakit karena Mayra yang terus mengalihkan wajahnya kesana-kemari.
Bersambung...
__ADS_1
Next BAB giliran Yaz Misty š¤