Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Tidak Dapat Bicara


__ADS_3

Yaz menarik Suhana dan menjauhkan dari teman-temannya.


Ia kembali menekan Suhana agar tidak mengatakan apapun kepada teman-teman yang lain apa lagi para guru.


"Sebenarnya apa yg terjadi, Kenapa Kamu terlihat begitu takut?"


"Diam! Kau cukup diam, Tidak perlu bertanya dan tidak perlu tau apa yang terjadi, Jika Kau berani mengatakan ini pada yang lainnya, Aku pastikan Kau akan di keluarkan dari sekolah ini dan tidak akan di terima di sekolah manapun." setelah mengancam Suhana, Yaz meninggalkannya dan masuk ke mobil mewah yang Ia kendarai sendiri.


•••


Ibu yang melihat keadaan Misty yang sering histeris tiba-tiba membuat Ibu merasa begitu sedih melihat keadaannya. Ibu tidak tau apa yang harus di lakukan untuk membuat Misty kembali ceria seperti dulu dan menerima takdir buruk yang sudah menimpanya.


Maysarah berfikir berkali-kali untuk mengadukan nasib putrinya ke polisi karena takut bukan keadilan yang di dapat. Namun rasa malu yang akan Misty terima jika sampai orang-orang tau jika Misty telah di perkosa, Sebab itu Maysarah masih belum bertindak dan hanya berharap tidak ada satu orang pun yang mengetahui jika putrinya telah ternoda.


"Misty, Sampai kapan km begini Sayang?"


"Sampai aku mati Ibu." ucapnya dengan tatapan kosong.


Maysarah menangis dan nemegang kedua lengan Misty.


"Jangan pernah mengatakan itu lagi Misty, Hidupmu belum berakhir."


"Untuk apa Aku hidup Ibu, Masa depanku sudah hancur, Aku tidak bisa menatap orang-orang di luar sana."


Tok... Tok... Tok...


Ibu yang mendengar pintu di ketuk, Segera beranjak dan membukakan pintu untuknya.


"Suhana."


"Assalamualaikum Bu Maysarah." dengan penuh hormat Suhana mencium tangan Ibu sahabatnya tersebut.


"Bagaimana keadaan Misty Ibu?"


"Masuklah, Kamu bisa melihatnya sendiri."


Maysarah mengajak Suhana ke kamar Misty.


Suhana begitu prihatin melihat keadaan Misty dan langsung memeluknya.


"Misty..."


"Jangan! Jangan sentuh Aku, Pergiii..." triak Misty.

__ADS_1


"Apa yang terjadi padamu Misty?" tanya Suhana yang begitu terkejut melihat reaksi Misty saat Ia memeluknya.


Maysarah pun duduk di samping Misty dan menenangkannya.


"Tenanglah Sayang, Buka mata mu, Dia Suhana, Sahabatmu."


"Misty lihatlah Aku, Aku Suhana."


Misty menatap Suhana dan memeluknya.


Misty menumpahkan tangisnya di pelukan sahabat baiknya tersebut.


"Suhana, Hiks hiks hiks."


"Tnanglah Misty.. Tenanglah, Aku bersamamu."


Misty mulai tenang berada di pelukan Suhana yang terus berusaha menenangkannya.


"Beristirahatlah Sayang dan minum obatmu,"


Misty melepaskan pelukannya dan meminum obat dari tangan Ibunya.


Kemudian Ibu dan Suhana keluar dari kamar Misty.


"Suhana berjanjilah untuk tidak mengatakan pada siapapun,"


Suhana menganggukkan kepalanya dan merasa tegang dengan apa yang akan Ibu sampaikan.


"Malam itu, Misty bilang ingin ke pesta ulang tahun Desi, Tapi ternyata itu hanya sebagian rencana yang Yaz susun, Karena ketika Misty sampai sana, Bukanlah pesta ulang tahun Desi, Melainkan rumah Yaz dan di rumah itulah Misty di lecehkan," Ibu kembali menangis mengingat malam itu.


"Pantas saja Desi mendadak pindah sekolah dan Yaz terus saja menatapku penuh tekanan." batin Suhana.


"Nak Suhana, Tolong jaga rahasia ini, Jaga kehormatan Misty, Ibu mohon?"


"Ibu ... Jangan memohon kepadaku seperti itu, Aku janji tidak akan mengatakan apapun kepada siapapun.


Maysarah mengangguk lega dan memeluk Suhana.


KAMPUS šŸ¢


Semua mahasiswa keluar dari kelasnya.


Tinggal Abay yang masih menunggu Mayra yang masih mengemasi buku-bukunya.

__ADS_1


Belum sempat Abay mengajaknya bicara, Mayra sudah beranjak dari duduknya dan keluar kelas tanpa menatap Abay yang sengaja menunggunya.


"Mayra..." Abay berlari mengejarnya. Namun Mayra terus melangkah dengan cepat tanpa mempedulikan Abay.


Abay menarik lengan Mayra dan berdiri di hadapannya.


Mayra segera mengalihkan pandangannya, Ia tidak ingin terhipnotis oleh tatapan matanya yang selalu membuat dirinya melupakan segalanya.


"Mayra lihat Aku," ucap Abay memelas. Namun Mayra tidak memperdulikannya dan tetap membuang muka.


"Mayra..." ucapnya lembut, Sambil meraih kedua tangan Mayra.


Mayra melirik sejenak dan kembali menahan perasaannya, Ia tidak ingin memaafkannya begitu saja, Sudah cukup rasa sakit yang Abay berikan padanya selama ini.


"Ku mohon dengarkan Aku,"


Mayra segera menghempas tangan Abay dan kembali meninggalkannya.


Abay kembali mengejar Mayra dan kembali berdiri di depannya.


Mayra menghentikan langkahnya dan menatap Abay dengan tajam, Tatapan kekecewaan dan kemarahan yang belum pernah Abay lihat sebelumnya.


"A-a-Aku, E-e Maksudku." tatapan itu membuat Abay menjadi gugup untuk pertama kalinya.


"Apa!" pertanyaan tegas dari Mayra membuat Abay semakin tidak dapat berbicara.


Cukup lama Mayra menunggu namun Abay tidak juga mengucap sepatah katapun dan karena itu Mayra kembali meninggalkan Abay dan masuk ke mobilnya.


"Mayra tunggu... Mayra..." Abay mencoba menahan pintu otomatis yang akan tertutup, Namun Ia gagal menghentikannya.


Kemudian Abay mengetuk-ngetuk pintu mobil yang mulai berjalan, Dengan setengah berlari Abay berusaha menghentikan Mayra, Namun Mayra tidak juga memperdulikannya meskipun Abay terjatuh karena mengejar mobilnya.


Abay kembali bangkit dan mengambil motornya. Kemudian dengan kecepatan tinggi Abay mengejar mobil Mayra. Dari atas motornya Abay kembali mengetuk-ngetuk pintu mobil Mayra. Namun Mayra malah meminta Pak Sudhir menambah kecepatannya.


"Lebih cepat lagi Pak,"


"Baik Non." Mobil melesat dengan kencang hingga membuat Abay kehilangan keseimbangannya.


Ciiitttt... Glubrakkk...


Motor Abay terjatuh di aspal hingga terseret beberapa meter dari tempat Ia terjatuh.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2