
Abay kembali keluar dengan menahan kekesalannya.
Kecemburuannya semakin besar saat ia menyaksikan apa yang baru saja terjadi di dalam sana.
Sedangkan Mayra yang baru pertama kalinya berhasil membuat makanan enak masih begitu bahagia mengungkapkan perasaannya pada Chef Alan.
"Ini bukan suatu hal yang mustahil Mayra, Jika kamu belajar bersungguh-sungguh pasti kamu akan bisa memasak menu apapun yang kamu inginkan."
"Aku akan belajar lebih giat lagi."
"Itu harus."
"Baiklah, Boleh Aku membawa makanan ini?"
"Tentu, Tapi sisakan sedikit untuk ku." tawar Chef Alan.
Mayra terseyum dan memasukan dalam kotak makan, Kemudian menyisakan sedikit untuk Chef Alan.
"Apa ini cukup?"
"Ya ini sudah cukup." Chef Alan tersenyum menatap Mayra yang tidak berhenti tersenyum untuk keberhasilannya.
Mayra membalas senyuman Chef Alan dan meminta izin untuk pulang terlebih dahulu.
Chef Alan mengangguk kepalanya dan terus menatap punggung Mayra yang terus melangkah pergi hingga menghilang dari pandangannya.
Sampai di luar, Mayra yang melihat Abay langsung berlari bahagia dan ingin memeluknya. Namun Abay segera menepisnya dengan bermasam muka mengalihkan pandangannya.
"Abay ada apa? cobalah masakan buatan ku." Mayra berusaha menyuapi Abay, Namun Abay langsung menepianya hingga makanannya jatuh ke jalan.
"Abay apa yang kamu kakukan?" tanya Mayra yang begitu kecewa dengan sikap Abay.
"Seharusnya Aku yang tanya padamu Mayra apa yang kamu lakukan didalam bersama Chef itu?"
"Apa maksud mu Abay?"
"Aku menghawatirkanmu takut kamu dimarahi karna terlambat, Tapi apa yang terjadi? Kamu malah suap-suapan dengan Chef itu!"
"Kenapa kamu selalu cemburu padanya?"
"Kecemburuan ku ada alasannya Mayra, Aku melihat bagaimana dia menatap mu dan baru saja Aku melihat dengan mata kepala ku sendiri jika Chef itu menyuapimu dengan tangannya, Apa itu..."
"Lalu kenapa Abay?" tanya Mayra yang mulai berderai air mata.
"Apa maksudnya kenapa Mayra? Dia menyuapi mu dan kamu adalah istriku."
__ADS_1
"Tapi kamu tidak percaya pada istrimu! Apa menurutmu jika pria menyuapi seorang wanita, atau wanita menyuapi seorang pria itu membuktikan kalau ada cinta diantara mereka? Berapa kali Aku jelaskan padamu Abay jika Aku dan Chef Alan hanya sebatas guru dan murid." Mayra yang begitu merasa terluka membuang kotak makannya dan pergi meninggalkan Abay.
Abay melihat kotak makan itu dan merasa kecemburuannya sudah keterlaluan hingga menyakiti hatinya.
"M-Mayra..." Abay berlari mengejar Mayra yang telah melangkah jauh meninggalkannya.
"Mayra, Berhentilah... Ini sudah larut malam, Mari kita pulang dan selesaikan dirumah."
"Masalah ini tidak akan sekesai jika sikapmu terus seperti itu Abay!"
"Ya Aku tau Mayra tapi Aku tidak bisa menghilangkan rasa khawatir ku kehilangan mu Mayra."
Mayra tidak peduli dan terus melangkah dengan setengah berlari meninggalkan Abay.
"Mayra kita sudah cukup jauh berjalan kita kembali."
"Aku tidak akan kembali!"
"Ya baiklah, Kamu tunggu disini Aku akan mengambil motor ku."
Mayra hanya diam membiarkan Abay pergi mengambil motornya.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan samping Mayra dengan membunyikan klaksonnya.
Mayra menoleh ke arah kaca mobil yang terbuka dan melihat Chef Alan di dalamnya.
"A-a-Aku..."
"Apa mau ku antar?"
Mayra diam berfikir.
"Mayra, Apa mau ku antar?" Chef Alan kembali mengulang pertanyaannya
"Baiklah." Mayra yang masih merasa kesal dengan Abay memutuskan untuk ikut dengan Chef Alan.
Tepat saat Abay tiba di lokasi, Abay melihat Mayra menaiki mobil tersebut dan pergi meninggalkannya.
Sepanjang perjalanan Mayra hanya terdiam di dalam mobil.
Chef mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya bicara.
"Apa rumah mu masih jauh?"
Mayra masih terdiam dalam lamunannya.
__ADS_1
"Mayra, Apa rumahnya masih jauh?"
"E..." Mayra melihat sekeliling jalan dan kembali menjawab pertanyaan Chef Alan.
"Tidak Chef, Sebentar lagi sampai."
"Kamu kenapa Mayra, Bukankah tadi kamu sangat bahagia?"
"Aku hanya merasa lelah Chef."
"Alan."
Mayra mengernyitkan keningnya.
"Ya, Panggil saja Alan."
"Itu, Tidak enak di dengar, Anda adalah guru ku."
"Aku guru mu jika kita sedang di kelas, Tapi diluar kelas Aku bukan guru mu."
Mayra masih tak merespon apa yang Chef Alan katakan.
"Bisa kah kita menjadi teman bukan hanya sekedar guru dan murid?"
"Sepertinya itu bukan hal buruk" saut Mayra dengan senyum tipisnya.
"Oh ya siapa Pria yang waktu itu mengantar mu?"
"Stop Stop stop!"
Belum sempat Mayra menjawab pertanyaannya, Mayra membuatnya menghentikan mobilnya mendadak.
"Kita sudah sampai Chef, E... Maksudku Alan."
Alan terseyum menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih Chef."
"Alan." protes Chef Alan.
"Baiklah Alan, Bye." Mayra terseyum dan melambaikan tangannya.
Mayra memutar tubuhnya dan melihat Abay yang sudah menunggu di atas motornya.
Tanpa mempedulikan Abay, Mayra langsung masuk kedalam.
__ADS_1
"Mayra! Mayra!" pekik Abay.
Bersambung...