
Asisten rumah tangga Nandini keluar untuk menemui Abay. Namun belum sampai gerbang, ART melihat Abay sudah naik motor.
"Mas.. Mas..." ART berlari. Namun Abay tidak lagi mendengarnya karena motor dengan cepat meninggalkan rumah Nandini.
ā¢ā¢ā¢
Suasana di kediaman Ravindra semakin riuh, Orang-orang terus bergunjing dan mempertanyakan kemana sang mempelai Pria.
Penghulu pun sudah mulai tidak betah di tempat duduknya karena sudah hampir tiga jam menunggu tapi tidak ada kejelasan kapan mempelai Pria datang.
"Tuan Ravindra apa sudah coba di hubungi calon mempelai Prianya?" tanya Sang Penghulu.
"E-e Kita tunggu sebentar lagi, Mungkin Dia sedang di perjalanan."
"Tapi ini sudah larut malam, Tolong di pastikan, Pernikahannya jadi atau tidak."
"Tolong tunggu sebentar lagi Pak." ucap Maysarah menyela.
Ravindra yang mendengar suara Maysarah, Mendekatinya dengan kesal.
"Ini terjadi karena ulah Putrrra mu! Jika Putra mu tidak datang juga, Lihatlah apa yang akan ku lakukan pada mu dan Anak-anak mu!"
Sedangkan di perjalanan Abay masih mengalami kemacetan.
Abay pun mulai cemas memikirkan kemarahan seperti apa lagi dari Calon Ayah mertuanya jika dirinya sampai telat datang dan menggagalkan pernikahan yang telah di atur olehnya.
"Cari jalan lain Bang, Cepatlah Aku sudah tidak punya waktu lagi."
"Ini juga sudah nyelip-nyelip Mas, Tapi kalau di depan ada kendaraan Saya bisa apa?"
Abay melihat ke depan jalan dan melihat kemacetan yang cukup panjang.
"Bisakah Kita cari jalan lain?"
"Tidak bisa Mas, cuma ini jalan satu-satunya menuju kediaman Tuan Ravindra, Karena Kita hanya perlu lurus kemudian belok kiri masuk ke perumahan elit nya."
__ADS_1
"Ya Aku juga tau, Tapi barangkali Abang tau jalan lain." dengan kesal Abay langsung turun dan berlari menerobos kemacetan.
"Mas... Mas... Anda belum bayar." triak Kang Ojek yang sudah tidak di hiraukan lagi oleh Abay.
"Maaf Tuan Ravindra, Sepertinya Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Pak Penghulu beranjak dari duduknya.
"Tunggulah sebentar lagi Pak, Saya mohon."
Mayra yang melihat Ayahnya memohon kepada Pak Penghulu merasa sedih, Karena dirinya Ayahnya sampai memohon dan di permalukan di depan para tamu undangan.
"Saya sudah sangat lama menunggu, Sekarang juga sudah hampir jam 23.00 WIB, Kalau memang mempelai Pria datang, Anda bisa melanjutkan pernikahan ini besok siang saja."
"Saya mohon Pak, Tunggu sepuluh menit lagi " tawar Devika seraya menangis.
Maysarah hanya bisa menangis menghadapi Putranya yang tidak kunjung datang.
Pak penghulu menarik nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya, Kemudian mulai melangkah meninggalkan meja Akad.
"Tungguuuuuuu....!!!!"
"Abay..." Mayra menangis lega melihat kedatangan Abay.
Ravindra menghelai nafas lega bercampur dengan amarahnya.
Dengan nafas terengah-engah setelah berlari menerobos kemacetan, Abay mendekati Ravindra untuk meminta maaf.
"Maafkan Aku Om, Tante," Abay melipat kedua tangannya sebagai tanda permohonan maafnya.
Sekuat tenaga Ravindra menahan kemarahannya demi berlangsungnya pernikahan Putri tercintanya.
Devika punhanya terdiam kesal menatap Abay yang hampir mempermalukan Putrinya.
Maysarah mendekati Putranya dan memegang kedua lenganya, Kemudian memapahnya duduk di samping Mayra.
Penghulu pun kembali duduk di meja Akad.
__ADS_1
Abay hanya melirik Mayra sesaat kemudian fokus menatap Pak Penghulu.
Ravindra dan Devika hanya terdiam membiarkan Maysarah mengatur Putranya menjalani Akad nikahnya.
"Mulailah Akad nya Pak." ucap Maysarah.
Penghulu pun mengangguk dan mulai membaca Khutbah nikah lalu di lanjutkan dengan Akad nikah.
"Mas kawinnya sudah di siapkan?" tanya Penghulu.
Abay meraba-raba saku celana dan jasanya.
"Ada apa Abay, Mana cincin yang Ibu kasih?" bisik Ibu.
"Sepertinya tertinggal di kamar, Aku langsung menaruhnya di kasur begitu Ibu memberikannya padaku." bisik Abay.
Ravindra yang melihat Anak dan Ibu itu berbisik, Kembali merasa kesal. Bahkan orang-orang kembali bergunjing.
Begitupun dengan Mayra yang kembali merasa cemas.
"Apa ada masalah?" tanya Penghulu.
"E-e, Tidak ada." Abay sedikit mengangkat dagunya untuk menghilangkan ketegangannya.
"Kalau begitu mas kawinnya sudah di siapkan?"
Abay kembali terdiam mendapat pertanyaan yang sama dari Pak Penghulu.
Maysarah merasa cemas, Bagaimana Ia dan Putranya dapat menyelesaikan masalah mas kawin yang tertinggal di rumah.
"Masalah apa lagi yang akan di ciptakan Anak kurang ajar ini." gumam Ravindra yang seakan tak bisa lagi menahan kekesalannya.
Bersambung...
HAJAR LAGI GAK NIH? š¤£
__ADS_1