
Mayra membuka pintu kamar dan mempersilahkan Abay masuk.
Dengan sikap dinginnya, Abay masuk dan melihat seisi kamar yang telah di hias layaknya kamar pengantin pada umunya.
"Aku akan membersihkan diri dulu, Kamu beristirahatlah."
Tanpa menjawab sepatah katapun Abay duduk di tepi ranjang yang bertabur bunga mawar merah yang begitu semerbak harumnya.
Abay melihat Mayra masuk ke kamar mandi hingga pintu tertutup rapat. Kemudian tanpa sengaja Abay melihat foto Mayra bersama Ayahnya di dinding. Melihat wajah Ayah mertuanya membuat Abay kembali mengingat bagaimana Ayah mertua menghajar dan memaksanya menikahi Mayra malam ini juga.
Seketika Abay tersentak saat Mayra membuka pintu kamar mandi.
Dengan senyum manisnya Mayra melangkah ke arah tempat tidur. Namun baru beberapa langkah, Abay menghentikannya.
"Stop! Tetap berdiri di situ," ucap Abay sembari mengarahkan ke-lima jarinya pada Mayra.
Mayra mengernyitkan keningnya dan menatap Abay dengan penuh tanda tanya. Kemudian Abay bangkit dari duduknya dan mendekati Mayra.
"Apa yang Kamu pikirkan? Kamu pikir Kita akan melakukan malam pertama dan tidur dalam satu ranjang?"
Mayra kembali tercengang mendengar ucapan Abay, Ia benar-benar tidak mengerti, Kenapa Abay jadi bersikap demikian pada dirinya.
__ADS_1
Abay mendekatkan wajahnya pada Mayra, Sangat dekat hingga menyisakan jarak satu jengkal.
"Apa Kamu tidak melihat ini?" Abay menunjuk luka di wajahnya.
"Ini, Ini, Ini, Kamu tidak melihatnya?"
Mayra memperhatikan wajah Abay dengan seksama. Karena rasa cemas sekaligus bahagianya, Membuat dirinya tidak memperhatikan luka memar di wajah Abay.
"Ayahmu telah memukuli ku sampai Aku seperti ini dan Ayahmu juga telah memaksaku untuk menikahimu malam ini juga. Bahkan Ayahmu tidak mau menunggu setidaknya sampai luka ini sembuh, Sekarang Kamu senang?"
"Abay, Aku tidak tau semua ini, Bahkan Aku tidak tau Ayahku memukul mu lagi."
"Jangan berpura-pura tidak tau, Karena Aku yakin Kamu lah yang merengek pada Ayahmu agar Aku mau menikahi mu secepatnya, benarkan?"
"Aku tidak membicarakan dua tahun ke belakang, Aku membicarakan kenyataan yang sekarang sedang terjadi, Ayahmu telah memaksaku menikahimu dan Aku yakin itu atas permintaan mu, Sekarang Kamu bahagia kan?" bentak Abay sembari mencengkeram lengan Mayra.
Mayra beringsut memejamkan mata mendapat bentakan keras dari Abay.
"Heh! Tapi jangan harap, Keindahan malam pertama yang Kamu bayangkan tidak akan pernah terjadi, Karena Aku tidak sudi menyentuhmu."
Mayra hanya bisa menundukkan wajahnya, Ia benar-benar tidak tau jika Abay menikahinya karena tekanan dari Ayahnya.
__ADS_1
"Sekarang ambil bantalmu dan tidurlah dimanapun Kamu suka." Abay melempar bantal ke Mayra dengan kasar hingga menghantam wajahnya.
Dengan sedih Mayra memeluk bantal dan berbaring di atas shofa.
Sementara Abay tidur di ranjang tanpa mbuka jas dan sepatunya.
Setelah melihat Abay tidur, Mayra yang tidak bisa tidur beranjak dari Sofanya dan mendekati Abay.
Mayra melepaskan sepatu dan kaos kakinya, Kemudian menatap wajahnya dengan lekat, Dengan sedih Mayra menyentuh lembut luka di wajah Abay, Hatinya benar-benar merasa sakit melihat Pria yang Ia cintai terluka, Bahkan Mayra tidak mengambil hati semua perkataan Abay padanya, Karena melihat orang yang Ia cintai terluka lebih sakit daripada kemarahan Abay padanya.
š Pagi Hari š»
Perlahan Abay membuka matanya, Abay mengusap wajahnya dan melihat Mayra yang tidur terduduk di lantai dengan kepala di tepi ranjangnya. Ada perasaan kasihan di hatinya mengingat kebaikan yang selama ini Mayra lakukan padanya dan keluarganya.
Abay pun mengangkat tangannya dan berusaha mengusap kepalanya. Namun Abay kembali mengingat perlakuan Ayah mertuanya kepadanya sehingga Abay mengurungkan niatnya.
Abay pun turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi dengan menutup pintu dengan kerasnya.
Mayra yang mendengarnya terlonjak kaget dan melihat ranjang yang telah kosong.
Mayra melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat dan mendengar suara gemericik air dari dalam. Kemudian Mayra bangun dan merapikan tempat tidurnya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Abay keluar dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, Mayra yang melihatnya segera mengalihkan pandangannya dan masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Bersambung...