Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Mengejar Maaf


__ADS_3

"Awww... Sssttt sakittt sekali.." ringis Abay yang dengan susah payah bangkit dan menggapai motornya.


Dengan tangan yang berlumuran darah akibat terkena aspal serta kedua lutut yang terluka Abay kembali mengendarai motornya mengejar Mayra.


Mayra telah sampai dirumah. Ia segera turun dari mobil dan menoleh ke belakang mencari orang yang begitu Ia cintai dan menyakitinya.


Namun Ia tidak menemukan sosoknya.


Mayra kembali melangkah masuk. Namun baru sampai pintu, Abay berlari dengan cepat dan menarik tangan Mayra.


"Kau!"


"Mayra Kita harus bicara secara baik-baik, Jangan seperti ini."


"Aku tidak mau, Lepaskan tanganku." Mayra menghempaskan tangan Abay dengan kasar.


"Aku mohon Mayra, Dengarkan Aku sekali saja."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan Abay!" Mayra menutup pintu dengan keras, sampai hidung Abay terbentur pintu.


"Aowh." Abay memegangi hidungnya. Ia benar-benar merasa seluruh tubuhnya akan remuk karena perkelahiannya dengan Yaz dan jatuhnya dari motor.


Abay kembali menggedor-gedor pintu meminta kesempatan untuk bicara. Namun Mayra tetap mengabaikannya.


"Pergilah Abay, Aku tidak ingin berbicara dengan mu!"


"Aku tidak akan pergi sebelum Kamu mendengarkan penjelasan ku."


Abay yang tidak lagi mendengar suara Mayra merasa putus asa menyesali perbuatannya.

__ADS_1


•••


Sedangkan Rayyan yang memperhatikan sikap Ibunya pada Abay beberapa hari ini memberanikan diri untuk menanyakan apa masalah yang terjadi antara Ibu dan Abangnya.


Rayyan duduk di sebelah Ibu dan menyentuh tangannya.


"Ibu, Sebenarnya apa yang terjadi? Aku lihat Ibu tidak berbicara pada Bang Bay?"


"Tidak papa Nak, Ibu hanya merasa kesal pada Abangmu, Tidak perlu km fikirkan, Terkadang hubungan Ibu dan anak memang ada masalah, Tapi tetap saja seburuk apapun anak itu, Tetaplah seorang anak,


Dan kasih sayang Ibu tetap ada untuknya meskipun Ibu sangat marah padanya."


"Kenapa keluarga Kita jadi begini Ibu, Kak Misty sekarang hanya berdiam diri dikamar, Sedangkan Ibu dan Bang Bay tidak saling berbicara, Ibu setiap hari juga terlihat sangat sedih, Lalu Aku harus bicara dengan siapa Ibu?"


"Maafkan Ibu Sayang, Ibu terlalu sedih dengan keadaan Misty sampai Ibu lupa jika masih memiliki Kamu yang juga butuh kasih sayang Ibu."


Malam Hari šŸŒ™


Abay masih duduk di pintu rumah Mayra.


Sedangkan di dalam, Mayra tengah di dapur mengambil air minum.


"Loh kok Non gak bilang saja kalau mau minum." ucap Bibi Imah Asisten rumah tangga Mayra.


"Gak papa Bi, Di kamar terus juga bosen,"


"Oh ya, Ayah dan Ibu belum pulang?"


"Tuan dan Nyonya bilang malam ini akan pulang terlambat Non, Jadi katanya kalau Nona mau makan, Suruh duluan aja."

__ADS_1


"Baiklah." Mayra kembali naik ke kamarnya, Hatinya merasa penasaran mengingat sore tadi Abay yang masih di terasnya.


kemudian Mayra mendekat ke jendela dan melihat motor Abay masih di bawah.


"Jadi Abay belum pergi." batinnya.


Abay berdiri menuju motornya dan tanpa sengaja Netranya tertuju pada Mayra yang tengah mengintai dirinya.


Abay terseyum dan merasa masih memiliki sedikit harapan untuk mendapat maaf dari sang Istri.


Namun senyumnya terhenti saat Mayra kembali menutup tirainya dan menjauh dari jendela.


Abay berfikir apa yang harus Ia lakukan, Kemudian Ia melihat kesana kemari dan melihat selang panjang yang biasa di gunakan oleh BI Imah untuk menyiram bunga.


Abay pun mengambilnya dan melemparnya ke balkon kamar Mayra


Abay terus berusaha menyangkutkan selang itu ke sela-sela teralis hingga akhirnya Aba berhasil menyangkutkan selang itu jadi dua bagian yang aman untuk dirinya naik ke kamar Mayra.


Abay mulai memegang selang itu dan mulai naik dengan susah payah.


Namun selang itu terlalu licin hingga membuatnya terjatuh. Masih tidak menyerah, Abay kembali bangkit dan kembali berusaha, Namun lagi-lagi Ia harus terjatuh hingga tubuhnya terasa semakin remuk.


Mayra yang mendengar suara sesuatu jatuh berkali-kali, Merasa penasaran dan mendekati pintu balkonnya. Perlahan Mayra membuka tirai pintu dan alangkah terkejutnya Mayra melihat Abay yang sudah berdiri di depan pintu, Dengan cepat Mayra menutup kembali tirainya.


"Mayra buka pintunya Mayra." Abay terus menggedor-gedor pintu dan jendela kamar Mayra. Namun Mayra terus mengabaikannya.


"Pergilah Abay, Aku tidak mau bicara padamu, Aku membencimu, Sangat-sangat membencimu." pekik Mayra.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2