
Di rumah keluarga Abay, Ibu dan Adik-adiknya tengah sarapan bersama. Mereka makan dengan malas dan tak berselera tanpa kehadiran Abay seperti biasanya,
"Ibu rumah Kita menjadi sangat sunyi tidak ada Bang Bay." ucap Rayyan.
"Ya itu benar, Aku juga merasa begitu." saut Misty.
"Baru juga satu malam Abay tidak bersama Kita," ucap Ibu
"Tapi ini pertama kalinya Bang Bay jauh dari Kita, Jadi rasanya beda saja."
"Ini hanya sementara, Setelah semua membaik Abay akan pulang dengan membawa Istrinya, Sudahlah, Kalian cepatlah makan dan jangan sampai kalian terlambat."
Misty dan Rayyan mengangguk dan mempercepat sarapannya.
•••
Mayra keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya, Abay yang tengah duduk bersandar di ranjangnya menatap Mayra sesaat dan kembali mengalihkan pandangannya.
Mayra mengambil pakaiannya dan kembali ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Mayra kembali dan mengeringkan rambutnya, Kemudian Mayra keluar tanpa mengatakan apapun pada Abay.
Mayra menuju kamar Ayahnya untuk mempertanyakan apa yang Abay katakan semalam.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk." saut Ayah.
Mayra membuka pintu kamarnya dan melihat Ayahnya yang tengah bersiap di depan cermin.
"Sayang, Masuklah."
Mayra masuk dan mendekati Ayahnya dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Sayang ada apa, Kenapa Kamu menatap Ayah seperi itu?"
"Apa Ayah memaksa Abay menikahiku?"
"Sayang, Kenapa Kamu menanyakan itu, Bukankah itu keinginan mu?"
"Aku menginginkannya Ayah, Tapi Aku tidak ingin memaksanya, Aku ingin berusaha dengan caraku, Sampai Abay sendiri yang siap menikahiku, Bukan dengan memaksa dan memukulinya seperti yang Ayah lakukan." ucap Mayra yang mulai meneteskan air matanya.
"Sayang, Jangan menangis, Ayah tidak bisa melihatmu meneteskan air mata," Ayah mengusap pipi Mayra yang basah karena tetesan air matanya.
"Apa tadi malam Abay menyakitimu?"
Mayra langsung memutar tubuhnya membelakangi Ayahnya, Mayra tidak ingin Ayah mengetahui kemarahan Abay padanya.
"Katakan Mayra, Apa Abay menyakitimu dan mengatakan Ayah menghajarnya?"
"T-tidak Ayah, Aku hanya melihat luka di wajah Abay dan pernikahan ku terjadi secara mendadak, Jadi Aku menyimpulkan jika Ayah telah memukul dan memaksanya menikahi ku."
"Ya, Ayah memang memukulnya, Ayah begitu kesal padanya karena terus saja menyakiti mu, Ayah hanya ingin kamu bahagia Sayang, Maafkan Ayah kalau Ayah keliru mengambil keputusan."
Mayra menarik nafas dalam-dalam dan memaksakan senyumnya.
__ADS_1
"Berjanjilah Ayah, Jangan pernah lagi memukul Abay."
Ayah terdiam, Dalam hatinya tidak bisa menjamin jika Ia tidak akan kembali menghajar Abay jika Abay masih saja menyakiti Putrinya.
"Ayah..." Mayra memasang wajah memohon.
"Ya, Ayah janji." dengan terpaksa Ravindra mengiyakan permintaan Putri kesayangannya.
"Sekarang berikan pakaian Ayah yang belum pernah di pakai."
"Untuk apa?"
"Ayah, Abay hanya membawa pakaian yang melekat di tubuhnya."
"Oh, Baiklah." Ravindra mengeluarkan dua T-shirts, Satu kemeja, Celana jeans dan celana hitam polos.
"Kalau begitu Aku akan memanggil Abay, Kita sarapan bersama, Jadi Aku mohon, Bersikaplah yang baik kepada Abay."
Ayah mengangguk dan membiarkan Mayra pergi.
Mayra kembali ke kamar dan memberikan pakaian ganti milik Ayahnya untuk Abay. Abay hanya melirik sinis tanpa mau menyentuh pakaian yang Mayra bawa untuknya.
"Ini masih baru, Ayah baru membelinya dua hari yang lalu, bahkan Ayah belum sempat memakainya, Pakailah untuk sementara."
Abay hanya diam tak menghiraukan perkataan Mayra.
"Ini lebih baik daripada Kamu terus pakai baju yang kemarin kan?"
Abay masih terus terdiam mematung menatap kedepan dengan kesal.
"Segera ganti pakaian mu dan Kita turun untuk sarapan, Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu Kita."
"Aku tidak akan mengatakan apapun pada ke-dua orang tuaku, Ayolah jangan membuat Ayahku marah lagi." bujuk Mayra.
Abay menarik nafas panjang dan beranjak dari duduknya, Kemudian mengambil pakaiannya dan pergi ke kamar mandi. Setelah sepuluh menit, Abay keluar dengan baju Ayah mertuanya yang sedikit kebesaran, Meskipun tinggi badan Abay sama dengan Ayah mertuanya. Namun postur tubuh Ayah mertua lebih melebar ke samping di bandingkan tubuh Abay yang terlihat lebih sempurna sesuai usianya.
Mereka pun turun bersama-sama seperti tak terjadi apa-apa.
Terlihat Ayah dan Ibu sudah duduk di meja makan.
"Selamat pagi Sayang, Selamat pagi Abay."
"Pagi Ibu," saut Mayra, Sementara Abay hanya mengangguk pelan.
"Duduklah Sayang." ucap Ayah.
Mayra belum mau duduk dan memberikan kode pada Ayah agar menyuruh Abay juga.
"Oh, Duduklah Abay,"
Setelah mendengar ajakan Ayah mertuanya, Abay pun duduk, Di ikuti oleh Mayra yang duduk di sampingnya.
Setelah sarapan selesai Ayah memberikan amplop coklat untuk Mayra.
"Apa ini?" tanya Mayra membuka amplop tersebut.
__ADS_1
"Paket bulan madu," saut Ibu.
"Bali?" tanya Mayra bahagia.
"Ya, pulau favoritmu."
Abay yang melihat Mayra tertawa bahagia menjadi sangat kesal.
"Maaf Tuan, Om... E-e maksudku Ayah, Apa tidak sebaiknya bulan madu Kita ditunda?"
"Kenapa, Apa Kamu tidak suka?"
"Bukan begitu, Tapi sebentar lagi Kita ujian semester."
Mayra yang melihat Abay tidak menginginkannya berusaha menolak dengan halus pemberian Ayahnya.
"Abay benar Ayah, Kita masih sangat muda dan Kita masih kuliah, Sebaiknya tiket bulan madu ini untuk Ayah dan Ibu saja,"
"Apa yang Kamu katakan Sayang, Kamu yang menikah, Tapi Kami yang di suruh bulan madu?" tanya Ibu.
"Pergilah berlibur dengan Ayah, Ayah dan Ibu sudah cukup lama tidak berlibur kan?"
"Sepertinya Putri Kita ingin Kita pergi supaya Dia bisa berduaan dengan suaminya," bisik Ibu pada Ayah.
Mayra mengernyitkan keningnya melihat orang tuanya yang berbisik-bisik di depannya.
"Ada apa, Apa yang Ayah dan Ibu bicarakan?"
"E-e bukan apa-apa Sayang, Kami hanya diskusi masalah tiket ini dan Kami setuju tiket ini buat kami saja." ucap Ayah tertawa.
Mayra terseyum, Sementara Abay merasa kesal dengan keadaan yang sangat tidak membuatnya senang.
Setelah sarapan selesai, Dengan kesal Abay kembali ke kamar, Di ikuti oleh Mayra di belakangnya.
"Abay..."
"Apa? Kamu mau mengeluh karena bulan madumu gagal?"
"Apa yang Kamu katakan? Kamu melihat semuanya, Aku mendukungmu sebab itu Aku memberikan tiket bulan madu itu untuk Ayah dan Ibu.
"Kamu hanya berpura-pura saja kan? Dalam hati pasti Kamu merasa kesal karena tidak jadi bulan madu bersamaku?"
"Itu tidak benar Abay."
"lalu apa yang benar?!" pekik Abay sembari melangkah maju sampai tubuh Mayra mentok di dinding.
"Apa yang benar! Kenapa Kamu ingin sekali segera menikah dengan ku? Kamu menginginkan Aku segera menyentuhmu kan? Seperti ini." Abay membelai wajah Mayra dengan jari jemarinya.
"Seperti ini." Kemudian membelai belakang telinga hingga membuat Mayra menahan geli.
"Atau seperti..."
"Hentikan Abay!" Mayra mendorong Abay menjauh darinya.
"Berhenti berfikir kotor tentang diriku, Kamu fikir cintaku hanya sebatas itu? Apa selama Aku mencintaimu Aku pernah menggodamu? Pernah menyentuhmu? Cara pemikiranmu benar-benar sempit Abay." dengan kesal Mayra meninggalkan kamar.
__ADS_1
Abay hanya menatap punggung Mayra hingga pintu tertutup rapat.
Bersambung...