
Keesokan Harinya.
Semua murid keluar meninggalkan kelas begitu mendengar bel berbunyi. Terkecuali Yaz yang masih terus belajar untuk persiapan ujian akhirnya.
Misty yang melihat kesungguhan Yaz merasa sangat senang karna Yaz benar-bebar berubah dari segala hal.
Suhana yang melihat Misty terus memperhatikan Yaz mencoba untuk menggodanya.
"Apa kamu juga mulai mencintainya?"
Misty tersentak dan menoleh ke arah Suhana dan menjadi gugup.
"A-apa yang kamu katakan Suhana?"
"Kamu tidak bisa mengelak lagi Misty."
Misty kembali terdiam dan menatap Yaz, Seakan mencari jawaban dari pertanyaan Suhana."
"Yaz benar-benar mencintaimu Misty, Terbukti dari perubahannya dan bagaimana cara dia membelamu di depan semua orang. Dia rela mempermalukan diri sendiri dan orang tuanya demi membuat dirimu tidak di keluarkan dari sekolah ini. Jika itu bukan cinta lalu apa Misty?"
Misty terdiam dan mengingat hari itu. Namun Misty segera menepisnya jauh-jauh
"Sudahlah suhana kita sedang ujian, aku tidak ingin memikirkan hal seperti itu."
"Terserah kamu saja Misty." Suhana pergi meninggalkan Misty
Sementara Misty kembali melihat Yaz dan mengingat semua perubahan Yaz sejak pertama kali minta maaf padanya.
Yaz mengangkat kepalanya dan tanpa sengaja melihat Misty yang tengah menatapnya. Misty langsung merasa gugup dan mengalihkan pandangannya kesana-kemari.
"Kamu sedang menatap ku?" goda Yaz.
"Hah! Tidak." Misty langsung berlari meninggalkan Yaz untuk menyembunyikan pipinya yang memerah.
ā¢ā¢ā¢
Setelah pulang dari kampus, Abay dan Mayra kembali ke rumah Abay dan langsung membaringkan tubuhnya yang terasa begitu lelah.
"Hari ini Aku merasa begitu lelah." keluh Abay.
"Salah sendiri semalem gak ada puasanya," ucap Alia terkekeh.
"Habis kamu bikin nagih," ucap Abay yang langsung menggigit lengan Mayra.
"Aww!" Mayra langsung memukul lengan Abay yang hanya di balas tawa oleh Abay.
"Biar Aku pijat."
"Tidak Mayra, Jika kamu memijat ku maka yang lainnya akan berdiri."
"Iiihhh dasar otaknya mes'um mulu." Mayra melempar wajah Abay dengan bantal di tangannya.
Abay terus tertawa, Ia suka sekali menggoda istrinya dengan kata-kata yang menjerus.
"Kemarilah Sayang." Abay menarik lembut tangan Mayra dan membuat kepala Mayra berbaring di dadanya.
"Cukup peluk Aku maka lelah ku akan hilang"
"Benarkah?" Mayra terseyum bahagia dan mempererat pelukannya.
"Ya itu benar, Aku benar-bebar merasa damai jika memelukmu seperti ini."
__ADS_1
"Baiklah, Peluk Aku sampai Aku berangkat kelas memasak ku."
"Jangan katakan itu Mayra, Aku tidak suka mendengar kata kelas memasak, Itu terdengar seperti kamu menduakan cintaku."
Mayra terkekeh geli mendengarnya dan mempererat pelukannya.
Dengan saling berpelukan, Tanpa mereka sadari akhirnya Keduanya tertidur.
Malam Hari š
Seluruh keluarga sedang berkumpul di meja makan terkecuali Abay dan Mayra yang masih belum kelihatan.
Hal itu membuat Ibu bertanya-tanya pada Rayyan dan Misty tentang Anak dan menantunya tersebut.
"Apa Mayra sudah berangkat?"
"Sejak sore Aku belum melihat mereka keluar." jawab Misty.
"Aku juga belum melihatnya," sambung Rayyan.
"Apa mereka masih di kamar?"
"Biar Aku lihat."
Rayyan bergegas pergi ke kamar Abay dan mengetuk pintu kamarnya.
"Bang Bay... Tok.... Tok... Tok..."
"Kak Mayra..." Rayyan semakin memperkuat ketukan pintunya hingga membuat Mayra terusik dan mulai membuka matanya.
Samar-samar Mayra melihat Abay dan tersenyum menatap wajahnya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena Rayyan kembali mengagetkan nya.
Mayra terlonjak dan melepaskan tangan Ajay dari pelukannaya hingga membuatnya kaget.
"Ya Rayyan Kakak akan segera berangkat"
Dengan mata yang mengantuk Abay bangun membuka pintu.
"Ya! Pergilah kami sudah bangun."
"Kenapa jam segini sudah tidur?"
"Setelah pulang dari kampus Aku merasa ngantuk sekali jadi kami tidur, dan tak terasa sekarang sudah jam..." Abay membelalakkan matanya melihat jam yang hampir puku delapan malam.
"Hah! Jam berapa ini?" Abay mengusap-usap matanya untuk memastikan.
"Benarkah jam itu?" Abay berlari keluar melihat jam yang ada di luar, lalu kembali melihat jam di dalam kamarnya.
Rayyan terus menertawakan Abangnya yang terlihat begitu panik.
"Kenapa kamu tidak membangunkan kami dari tadi, Kalau begini Mayra akan terlambat."
Abay berlari mengetuk kamar mandi agar Mayra lebih cepat.
Mayra bergegas keluar dan berlari mempersiapkan diri.
"Ayo Abay, Bisa-bisa Chef galak itu akan memarahiku." dengan tergopoh-gopoh Mayra menyisir rambutnya sambil keluar meninggalkan rumah.
ā¢ā¢ā¢
__ADS_1
Sesaat kemudian motor mereka sampai di tempat kursus.
Mayra langsung turun dan berlari masuk tanpa berpamitan pada Abay.
Mayra masuk ke kedalam dan melihat semua murid sudah sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Dengan mengendap-endap Mayra memasuki ruangan. Namun langkahnya di hentikan oleh Chef Alan yang sudah berdiri di belakangnya.
"Mayra!"
Dengan tegang, Mayra menoleh kebelakang menatap Chef Alan.
"Jam berapa ini Mayra!"
"Chef A-a-Aku minta maaf, Aku ketiduran jadi Aku..."
"Tidur! Jam segini kamu tidur?"
"Sebenernya Aku..."
"Sudahlah Mayra! Aku tidak mau mendengar lagi alasan mu! Cepat ke mejamu dan kerjakan tugas mu!"
Mayra mengangguk dan pergi ke mejanya.
"Hari ini kamu terlambat lebih dari tiga puluh menit, Jadi Aku tidak ingin ada kesalahan lagi darimu, Karena jika Kamu melakukan kesalahan maka besok tidak perlu lagi datang ke kelas ku!"
Setelah meletakkan kertas menu yang harus Mayra kerjakan Chef Alan memeriksa murid lain.
"Ya Tuhan Chef itu seperti ingin menerkam ku saja, Tidak ada ramah-ramahnya sama sekali." gerutu Mayra sambil mulai mengerjakan tugasnya.
Waktu terus berjalan. Tak terasa waktu tinggal menyisakan tiga puluh menit lagi. Mayra mulai panik berlari kesana kemari sampai menjatuhkan beberapa barang yang ada di dekatnya.
Chef Alan menggelengkan kepalanya melihat Mayra yang terlihat begitu konyol di matanya. Sedangkan Mayra yang melihat Chef Alan melihatnya hanya tersenyum getir sembari menggelengkan kepala.
Sedangkan di luar Abay telah sampai di tempat kursus.
Melihat beberapa peserta yang sudah keluar. Abay pun bergegas masuk ke dalam untuk melihat Mayra karena takut Mayra kembali di hukum oleh Chef tampan yang selalu membuatnya cemburu.
"Mayra Waktu mu sudah habis!"
Mayra begitu gugup dan tak berani membuka matanya saat Chef Alan mulai mencicipi masakannya.
Dengan sedikit menyipitkan matanya Mayra mengintip Chef Alan menunggu reaksinya.
"Ini enak."
"Hah!" Mayra tercengang dan langsung membuka matanya.
"Ya, ini enak Mayra, Takaran bumbunya pas dan rasanya meresap hingga kedalam."
Mayra masih tercengang seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Chef Alan terseyum dan langsung menyuapi Mayra untuk mencobanya sendiri.
Mayra membulatkan matanya menerima suapan mendadak dari Chef yang terkenal galak tersebut.
"Kamu berhasil Mayra."
"Hah! Yeyyy! Thank you Chef." Mayra melompat kegirangan dan hampir menabrak Chef Alan.
Chef Alan tersenyum kagum melihat kecantikan Mayra yang semakin terpancar saat ia tersenyum dengan lebar.
__ADS_1
Sedangkan dari celah kaca pintu, Abay yang melihat semuanya begitu merasa cemburu melihat sang istri yang di suapi oleh pria lain.
Bersambung...