
"Pergilah Abay, Aku tidak mau bicara padamu, Aku membencimu, Sangat-sangat membencimu." pekik Mayra dari dalam.
"Sudah kubilang, Aku tidak akan pergi Mayra, Aku akan terus berusaha sampai Kamu mau berbicara padaku." Abay mencoba membuka jendela yang ternyata Mayra lupa menguncinya. Mayra yang melihat segera beranjak dari duduknya dan mencoba menahan jendela agar Abay tidak bisa memaksa masuk ke kamarnya.
Tarik menarik pun terjadi dengan alot.
"Abay Kau tidak bisa memaksa, Egh!"
"Aku akan terus memaksa sampai Kamu memberiku kesempatan."
Tenaga Mayra yang tidak sebanding dengan Abay membuat Mayra terjatuh ke lantai.
"Awww..." ringis Mayra.
Abay segera melompat masuk melalui jendela.
Mayra yang melihatnya segera bangkit dan mendorong Abay dengan kesal.
"Keluar dari kamarku Abay, Aku tidak mau Kau memasuki kamarku." Mayra terus mendorong tubuh Abay hingga ke jendela yang tidak di lindungi oleh balkon.
"Mayra apa yang Kau lakukan, Apa kau akan membunuhku?" Abay mulai panik melihat dirinya yang sudah mentok di jendela.
"Apa Kau takut, Hagh! Seharusnya Aku membunuhmu dan kekasihmu sejak warga menggerbak Kalian." Mayra terus mendorong tubuh Abay hingga setengah badannya melengkung keluar jendela.
"Mayra Kau." Abay meraih tangan Mayra hingga Mayra merapat ke tubuhnya. Kini setengah tubuh keduanya sama-sama berada di luar jendela. Namun posisi itu membuat keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat. Kemudian Abay melihat kebawah dan membelalakkan matanya.
"Mayra lihatlah ke bawah, Bagaimana kalau Kita benar-benar jatuh?"
"Bukan Kita, Tapi Kamu." Mayra berusaha bangun dari atas tubuh Abay Namun Abay terus memegangi lengan Mayra dan tidak membiarkannya menjauh darinya
__ADS_1
"Lepaskan Aku Abay.. Lepaskan!" Mayra terus memberontak memukuli dada Abay.
"Aku tidak akan melepaskanmu Mayra, Jika Aku harus terjatuh, Kau harus melihatku jatuh di depan matamu."
Mayra tidak mempedulikan kata-kata Abay dan terus berusaha hingga tubuhnya merasa lemas.
Melihat Mayra yang sudah pasrah, Abay melepaskan lengan Mayra.
Kemudian Abay berdiri dan merasakan sakit di pinggangnya.
"Aww sakittt sekali Mayra," ringis Abay memegangi pinggangnya.
"Itu belum seberapa dibanding sakit yang telah Kamu berikan padaku."
"Mayra..." Abay berusaha menyentuh tangan Mayra namun segera di tepis olehnya.
Abay yang sudah tidak sabar lagi menghadapi sikap acuh Mayra menarik Mayra dan memepetnya Kedinding.
"Kenapa Kamu sulit sekali di ajak bicara Mayra? Aku benar-benar menyesali perbuatan ku dan Aku ingin minta maaf dari hati yang paling dalam, Aku ingin memperbaiki diri, Aku ingin memperbaiki pernikahan Kita." Abay sedikit menaikan suaranya.
Mayra masih tak menghiraukan apa yang Abay ucapkan dan kembali berusaha melepaskan diri dari cengkraman tangan Abay.
"Yang Kamu lihat itu tidak seperti apa yang Kamu pikirkan."
"Jadi menurutmu Aku yang salah lihat?"
"Bukan begitu Mayra, Maksudku Aku tidak berniat menemui Nandini di..."
"Jangan menyebut namanya di depanku!"
__ADS_1
Abay menarik nafas dalam-dalam menahan kemarahannya menghadapi kemarahan sang istri. Kemudian Abay semakin merapatkan tubuhnya dan berbisik lembut di telinganya.
"Dengarkan baik-baik Mayra, Aku menemui Dia karena Dia mengatakan sedang di penginapan dan sepatunya rusak, Itu sebanya Aku datang untuk mengantarkan sepatu yang baru saja Aku beli, Aku hanya berniat mengantarkan sepatu untuknya, Tapi Dia langsung mendorongku ketempat tidur dan saat bersamaan kamu menerobos masuk."
"Oh ya, Lalu apa penjelasan mu untuk penggrebekanmu, Apa Kamu juga akan bilang kalau Kamu hanya ingin mengantar lingerie untuk nya?"
"Tidak Mayra, Malam itu Aku benar-benar khilaf, Aku sudah di butakan oleh cintaku, Tapi percayalah Aku belum melakukan hubungan intim dengannya.
"Aku tidak percaya Abay kalian sudah setengah telanjang, Tidak mungkin kalian tidak melakukannya."
"Ya, Mereka memang menggrebek Kami dalam satu kamar dan memang benar Kami tdak memakai pakaian lengkap, Tapi kami belum melakukan itu, Karena sebelum Kami melakukannya Mereka sudah menggrebek kami."
"Abayyyyy.... Kau benar-benar menjijikkan." dengan kesal Mayra memukul-mukul lengan Abay.
"Aww..." ringis Abay.
Mayra terkejut melihat lengan Abay yang mengeluarkan banyak darah, Bahkan bukan hanya tangan, Tapi kaki dan wajahnya pun penuh luka lebam yang sedari tadi tidak di sadari oleh Mayra.
"Abay apa yang terjadi?" tanya Mayra yang melunakkan suaranya.
"Mungkin ini saat Aku jatuh dari motor."
"Apa!" Apa Kamu terjatuh dari motor saat mengejarku?"
"Bukan, Tapi saat mengejar Nandini," gurau Abay.
"Abayyyy..." Mayra kembali memukul lengan Abay dan kembali membuat Abay meringis kesakitan.
"Abay..." Mayra memegang lengan suaminya dengan rasa Iba.
__ADS_1
Bersambung...