
Dengan kekecewaan di hatinya, Nandini pergi meninggalkan Pesta.
Abay yang melihatnya mengangkat tangan kearahnya seolah ingin menghentikannya, Namun Abay segera menurunkan tangannya karena melihat dirinya yang masih berdiri di antara teman-temannya.
Hampir pukul 01.00 dini hari Mayra dan Abay sampai rumah.
Mereka langsung masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun yang terucap dari keduanya. Abay langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dan memikirkanan pertemuannya dengan Nandini.
Sementara Mayra pergi ke kamar madi untuk membersihkan diri.
Sampai Mayra keluar dari kamar mandi Abay masih menatap langit-langit kamarnya seperti patung.
Mayra hanya menghelai nafas panjang dan mengambil bantal kemudian tidur di sofa seperti biasanya.
š Pagi Hari š»
Mayra membuka mata dan melihat ranjang yang sudah kosong.
Kemudian Mayra turun kebawah dan melihat ke-dua orang tuanya yang tengah berdiri di depan pintu.
"Ibu, Apa Ibu melihat Abay?"
"Tidak Sayang, Memang kemana Abay sepagi ini?" Ibu balik bertanya.
"Apa semua baik-baik saja, Apa kalian bertengkar?" sambung Ayah
"Tidak ada masalah Ayah, Aku hanya khawatir karena Aku bangun Abay sudah tidak ada."
"Coba tanya kenapa Satpam atau Art," ucap Ayah.
Mayra mengangguk dan melihat koper di samping Ibunya.
"Apa Ayah dan Ibu akan berangkat sekarang?"
"Ia Sayang, Makanya dari tadi Ayah dan Ibu nunggu Kamu untuk pamitan "
"Baiklah, Selamat bersenang-senang Ayah, Ibu."
Ibu memeluk Mayra dan mencium keningnya.
Kemudian Mayra memeluk Ayah.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu pergi dulu, Kalau Abay berani macam-macam pada Putri kesayangan Ayah ini, Segera telfon Ayah maka Ayah akan langsung pulang untuk menghajarnya."
"Ayah, Bukankah Ayah sudah berjanji tidak akan memukul Abay lagi?"
"Ayah berjanji, Tapi jika Dia berani menyakiti mu, Ayah akan mengingkari janji Ayah, Sudahlah Kami berangkat dulu, Kamu hati-hati ya."
Mayra mengangguk dan mengantar kedua orang tuanya ke depan pintu.
ā¢ā¢ā¢
Abay telah sampai di rumah Nandini.
Ia langsung mengetuk gerbang rumahnya berkali-kali sampai asisten rumah tangganya keluar.
"Apa Nandini di rumah?" tanya Abay begitu melihat Art keluar.
"Non Nandini sudah pergi pagi-pagi sekali Mas, Ada apa ya?"
"Apa Dia mengatakan ingin kemana?"
"Tidak Mas."
Sementara Nandini telah sampai di rumah Abay untuk memastikan kebenaran yang Ia lihat semalam.
Maysarah yang melihat kedatangan Nandini merasa terkejut karena setelah sekian lama, Nandini baru datang kembali ke rumah.
"Nandini..."
"Ibu..."
"Ada urusan apa pagi-pagi kesini?"
"Aku tidak akan berbasa-basi, Aku kesini hanya ingin bertanya langsung pada Ibu, Apa Abay dan Mayra telah menikah?"
"Ya, itu benar." tegas Ibu.
"Kapan Ibu?" tanya Nandini yang seakan tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
"Setelah malam itu Abay kembali bertemu dengan mu, Malam berikutnya Abay menikahi mayrat."
"Tapi bagaimana bisa Ibu, Abay sangat mencintaiku?"
__ADS_1
"Tanyalah pada dirimu sendiri kenapa Abay melakukan itu."
Nandini terdiam melihat tatapan Ibu yang terlihat menjadi marah padanya.
"Kemana Kamu saat Abay membutuhkanmu? Kemana Kamu saat Abay bingung memikirkan biyaya kuliahnya? Kamu malah menghilang tanpa kabar berita setelah menuduhnya mengukur cintamu dengan materi, Abay mencarimu siang malam dan tidak berhenti memikirkan mu, Tapi Apa yang Kamu lakukan? Apa kamu juga mencintai Abay seperti Abay mencintaimu? Apa cintamu cukup untuk menghentikan Dia tidak menikahi Mayra?"
Nandini terdiam mendengar semua kekesalan Bu Maysarah.
"Bahkan Ibu rasa, Cinta Mayra jauh lebih besar, Lebih tulus kepada Abay."
"Aku membuat kesalahan Ibu dan Aku telah kembali bersama Abay sebelum Mereka menikah, Abay juga telah menerimaku kembali jadi tidak adil bagiku jika kini Abay menikahi Mayra."
"Semua sudah terlambat Nandini, Takdir telah memutuskan Abay menikah dengan Mayra dan Kamu tidak bisa menganggu pernikahan Mereka."
"Ibu tau dari dulu Kita saling mencintai kenapa sekarang Ibu berpihak kepada Mayra yang jelas-jelas merebut Abay dariku?"
"Karena Ibu sadar, Hanya Mayra yang tulus mencintai Putra Ibu, Kamu hanya ada saat senang saja Nandini, Kamu selalu tidak ada ketika Abay memiliki kesulitan, Jadi sekarang pulanglah, Karena Abay tidak lagi tinggal disini."
Dengan penuh kesedihan Nandini melangkah pergi meninggalkan rumah Abay.
Mayra sampai di kampus dan langsung mencari-cari Abay. Namun Mayra tidak juga menemukan Abay di kampusnya.
"Kemana Abay pergi." batinnya.
Mayra yang melihat Vicky segera berlari menghampirinya.
"Vicky apa Kamu melihat Abay?"
"Tidak Mayra, Aku belum melihat Abay datang, Apa kalian bertengkar?"
"Tidak, Baiklah terimakasih." Mayra kembali ke kelasnya dan terus memikirkan kemana Abay pergi.
Abay sendiri masih di depan rumah Nandini menunggunya pulang.
Sedangkan Nandini yang tengah di perjalanan mengingat sedih semua perkataan Bu Maysarah.
Mayra duduk meletakan kepalanya di meja dan mengabaikan pelajaran yang tengah berlangsung.
Bersambung...
MAAF KALAU ADA TYPO š
__ADS_1