
Abay sampai di rumah sakit dan langsung masuk keruangan Misty.
Ia melihat Ibu yang tengah berkemas. Sedangkan Misty tengah duduk dengan pandangan kosongnya seolah dunianya telah hancur sepenuhnya, Misty terlihat tak bersemangat lagi untuk menjalani hidupnya.
"Bang Bay, Apa yang terjadi?" tanya Rayyan yang melihat Abay babak belur.
"Abay, Kenapa denganmu?" sambung Ibu.
"Tidak papa Ibu, Jangan khawatir, Ini hanya luka kecil."
"Abay Kamu menemuinya?" bisik Ibu menjauhkan Abay dari Misty.
"Ya, Tapi Aku tidak bisa melakukan apapun, Dia sudah merencanakannya dengan sengat baik."
Ibu merasa sedih mendengarnya.
"E-e... Kita bicara lagi nanti, Sekarang Kalian tunggu di sini, Aku akan menyelesaikan administrasinya."
Setelah menyelesaikan administrasi Abay mencarikan taksi untuk keluarganya, Sementara dirinya menggunakan motor kesayangannya.
•••
Ravindra dan Devika merasa khawatir karena Mayra hingga tiga hari ini belum juga keluar dari kamarnya. Bahkan untuk makan pun harus di paksa agar Ia mau mengisi perutnya.
"Lalu apa yang harus Kita lakukan Mas?"
"Aku tidak mau ikut campur lagi kepada hubungan Mereka, Aku tidak ingin salah lagi mengambil keputusan dan membuat putriku semakin menderita, Biarkan Dia yang mengambil keputusan sendiri dalam hidupnya, Kita sebagai orang tua hanya perlu mendoakannya."
"Ya, Mas benar, Kalau begitu Aku lihat Mayra dulu." Devika beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar Mayra.
Tok Tok Tok..
"Sayang, Apa Ibu boleh masuk?
Mayra segera menghapus air matanya dan membukakan pintu.
"Masuklah Ibu."
Mereka duduk di tepi ranjang saling berhadapan.
Ibu melihat sisa air mata dan matanya yang telah bengkak.
Kemudian Ibu meraih tangan Mayra dan menggenggamnya penuh kelembutan.
__ADS_1
"Sayang, Mau sampai kapan Kamu mengurung diri seperti ini? Jika Kamu terus berdiam diri di kamar sendiri seperti ini, Yang ada kamu akan terus mengingat Abay.
Mayra kembali mengingat semua kenangan saat mereka dikamar bersama Abay, Baik itu kenangan yang membuatnya bahagia, Maupun kenangan buruk yang Abay berikan, Mayra kembali tidak bisa menahan air matanya, Hatinya benar-benar merasa sakit, Tapi melupakannya jauh lebih menyakitkan untuknya.
"Aku sudah berusaha melupakaanya Ibu, Tapi Aku tidak bisa, Aku benar-benar mencintainya Ibu, Aku sangat mencintainya, Hiks hiks hiks." Mayra menjatuhkan diri ke pelukan Ibunya.
Ibu mengusap punggung Putri kesayangannya dengan penuh kasih sayang.
"Semua butuh waktu Sayang dan cara terbaik adalah, Kamu harus menyibukan diri agar Kamu tidak larut dengan kesedihanmu."
Mayra menarik diri dari pelukan Ibunya, Kemudian menghapus air matanya.
"Ya," Mayra menganggukkan kepalanya.
"Kamu harus kuat Sayang.. Kamu harus bisa menghadapi Abay jika di kampus bertemu dengannya."
Mayra kembali terdiam, Ia merasa benar-benar tidak tau bagaimana perasaannya nanti jika berhadapan langsung dengan Abay, Apakah akan terus merasa marah padanya, Atau cinta akan kembali mengalahkannya.
"Apa Dia mencoba menghubungimu?"
"Mana mungkin Ibu, Dia pasti sudah merasa bebas dan bahagia bersama kekasihnya," ucap Mayra yang kembali meneteskan air matanya.
•••
Dengan di titah Ibu, Misty masuk ke kamarnya.
Ibu membantu Misty berbaring dan menyelimutinya.
kemudian duduk di tepi ranjang danmengusap kepalanya hingga Misty tertidur. Kemudian Ibu keluar dan meminta Rayyan untuk menemani Misty karena takut Misty terbangun dan kembali histeris.
Tanpa membantah, Rayyan ke kamar Misty dan menggelar kasur lantai di sebelah ranjang Misty. Sedangkan Ibu yang melihat Abay termenung di kursi melangkah mendekatinya.
"Apa yang Kamu pikirkan Abay?"
"Aku hanya memikirkan Misty Ibu, Setiap malam Dia terbangun ketakutan, Bagaimana Kita mengatasinya dan bagaimana masa depannya?"
"Semua membutuhkan waktu, Semoga seiring berjalannya waktu, Misty bisa kembali pulih." Meskipun Ibu merasa begitu sedih dan khawatir terhadap masa depan Putrinya. Namun Ibu berusaha keras untuk tetap tegar di depan Anak-anaknya.
"Oh ya, Ngomong-ngomong Kamu sudah menemani Kami selama tiga hari, Tapi Mayra tidak pernah datang, Kamu juga tidak pulang ke sana, Apa Kalian sedang bertengkar?"
"Ya, Mayra sedang marah padaku Ibu." Abay menunduk sedih mengingst saat Mayra menangis saat memergoki dirinya dan Nandini.
"Kenapa Dia marah padamu, Apa yang sudah Kamu lakukan padanya?"
__ADS_1
"Banyak hal yang sudah terjadi dan selama Aku menikah dengan Mayra Aku tidak pernah menghargainya sebagai istriku, Aku selalu menyakitinya, Sampai puncaknya Dia melihatku bersama Nandini."
Ibu yang begitu tercengang mendengar penjelasan Abay langsung menampar Abay.
PLAAKKKKK...!!!
"Jadi setelah menikah, Kamu masih tetap berhubungan dengan Nandini?"
Abay mengangguk sedih.
"Apa sebenarnya yang ada di kepalamu Abay? Mayra sangat tulus mencintaimu bahkan segalanya sudah Ia berikan kepadamu, Kepada keluarga Kita, Sedangkan Nandini? Apa yang sudah Nandini berikan untukmu sampai Kamu tega menyakiti Mayra?"
"Ibu, Aku menyesal." tangis Abay.
"Ibu tidak pernah menyangka Kamu sanggup melakukan ini Abay, Dimana rasa terimakasih mu pada Mayra dan keluarganya yang telah membiyayai kuliah mu dan juga Adik-adik mu? Meskipun Kamu menikahinya karena kesepakatan, Setidaknya jangan menyakitinya."
Abay bersimpuh memeluk kaki Ibunya dan meminta maaf atas semua perbuatannya, Ia benar-benar menyesal telah menyia-nyiakan pernikahannya dan mengikuti hawa nafsunya.
"Maafkan Aku Ibu, Maafkan Aku, Sebelumnya Aku benar-benar tidak bisa melupakan Nandini, Tapi sekarang Aku sadar Ibu, Apa yang terjadi pada Misty adalah akibat dosa-dosa ku kepada Mayra." Abay terus menangis menyesali perbuatannya.
"Minta maaflah pada orang yang Kau sakiti Abay, Baru Ibu memaafkan mu."
"Tapi Dia tidak mungkin memaafkanku, Aku sudah benar-benar menghancurkan hatinya, Bahkan Aku merasa malu saat mengingatnya."
"Apa yang coba ingin Kamu katakan Abay, Katakan dengan jelas!" triak Ibu.
"Mayra melihatku sedang bersama Nandini di sebuah penginapan." Abay menundukkan kepalanya menyesali perbuatannya.
PLAAKKKKK...!!!
Ibu kembali menampar Abay, Ibu menangis semau-maunya, Ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang Ibu hingga Putranya berbuat demikian.
"Kamu benar-benar menjijikkan Abay, Ibu malu mempunyai Putra seperti mu,"
"Ibuuu..." Abay terus menangis menyesali perbuatannya.
"Kamu lihat keadaan Misty sekarang? Misty harus menanggung akibat dari perbuatanmu."
"Ibuuu... Ibu..." Abay bersujud di kaki Ibunya dan mencoba menyentuhnya. Namun Ibu segera menepis dengan kakinya.
"Jangan pernah sentuh Ibu dengan tangan kotormu." dengan hati yang begitu hancur, Ibu masuk ke kamarnya.
Abay terduduk di lantai menangisi semua dosa-dosanya.
__ADS_1
Bersambung...