
Sekolah š¤
Bel telah berbunyi, Para murid masuk dan duduk di bangkunya masing-masing.
Guru yang baru datang melihat bangku Misty yang masih tetap saja kosong setelah dua minggu berlalu.
"Kenapa Misty belum juga masuk, Sebenarnya apa yang terjadi padanya, Keluarganya juga tidak memberikan izin sama sekali."
Yaz yang mendengar ucapan Bu Guru, Menjadi gelisah menoleh kesana kemari.
Suhana memperhatikan kegelisahan Yaz dan terus menatapnya tajam saat Yaz menatapnya.
"Kenapa Suhana terlihat tidak lagi takut padaku, Apa Dia sudah mengetahui sesuatu." batin Yaz.
"Suhana, Apa Kamu sudah tau kabar Misty?" pertanyaan Bu Guru mengagetkan Yaz.
"Ya, Aku tau semuanya." Suhana menjawab pertanyaan Bu guru dengan terus menatap Yaz tanpa melihat Ibu Guru.
"Suhana! Berapa kali Ibu katakan, Lihat Ibu saat bicara!"
"E-e Maafkan Aku Bu."
"Apa yang Kamu tau?"
"Saya telah ke rumahnya dan Misty memang sedang tidak sehat."
Setelah mendengar penjelasan Suhana Bu Guru menunjuk Yaz, Suhana dan Tiga murid lainnya untuk menemaninya menjenguk Misty. Namun Yaz menjadi gemetar mendengar namanya di tunjuk.
"Ada apa Yaz, Kenapa Kamu begitu tegang? Dan keringat mu?" Lucky melihat AC dan melihat AC dengan suhu normal. Tapi keringat Yaz bercucuran membasahi dahi dan area sekitarnya.
__ADS_1
"A-a.. Aku ti-tidak apa-apa, A-a-Aku hanya kurang sehat." Yaz menyeka keringatnya.
"Ada apa Yaz, Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Bu guru yang melihat gerak-gerik Yaz.
"A-a-Aku hanya kurang sehat Bu, Aku ijin pulang sekarang." tanpa menunggu persetujuan dari Bu Guru, Yaz mengambil tas nya dan mmeninggalkan kelas.
Bu Guru mengernyitkan keningnya melihat sikap Yaz yang mendadak berubah.
ā¢ā¢ā¢
Mayra dan Abay telah sampai di rumah.
Perlahan Mayra turun dari motor dan bernafas lega karena sepanjang perjalanan Ia merasa begitu tegang.
Abay terseyum dan meraih tangan Mayra kemudian menuntunya,
Mayra terus melihat tangannya yang di genggaman oleh Abay, Ia seakan tak percaya jika kini Abay telah benar-benar berubah.
"Ada apa, Kenapa menatap ku seperti itu?"
Mayra hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya.
Ibu yang mendengar suara mereka segera membuka pintu dan begitu terkejut melihat Abay datang bersama Mayra.
"Nak Mayra.."
Mayra melepaskan tangannya dari genggaman Abay dan memeluk Ibu Mertuanya.
"Bagaimana kabarmu Nak Mayra?" tanya Ibu yang menangis haru.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Ibu, Ibu apa kabar?"
"Ibu juga baik Sayang, Ibu minta maaf ya, Ibu telah gagal mendidik Putra Ibu."
"Apa yang Ibu katakan, Ibu telah mendidik Anak-anak Ibu seorang diri, Ibu adalah Ibu yang luar biasa, Tidak semua Wanita sekuat Ibu."
"Tidak Nak, Abay telah menyakiti mu, Itu bukti Ibu telah gagal mendidiknya."
"Tidak Ibu, Lupakan semua yang terjadi, Aku telah memaafkannya," ucap Mayra sembari menatap Abay.
Abay yg mendengar Mayra memaafkannya sangat merasa senang akhirnya Mayra mau memaafkannya.
Kemudian Abay mendekati Ibunya.
"Ibu, Mayra telah memaafkan ku, Apa sekarang Ibu mau memaafkanku?"
Ibu masih diam saja tanpa mau melihat sang Putra.
"Ibu, Abay sudah menyesali perbuatanya, Aku juga telah memaafkannya, Ibu tolong maafkan Abay juga, Abay begitu sangat menderita karena kemarahan Kita."
Abay terhenyak mendengar Mayra ikut membujuk Ibunya agar mau memaafkannya.
"Mayra, Kamu Wanita yang begitu baik dan tulus, Entah apa yang menutupi mataku sampai Aku tidak bisa melihat itu dari dulu." batin Abay.
Ibu yang mendengar ucapan Mayra menoleh ke arah Abay dan memeluk sang Putra.
Abay menangis haru akhirnya setelah sekian lama, Ibu mau memaafkannya.
Mayra yang melihat suami dan Ibu mertuanya kembali berdamai terseyum penuh haru.
__ADS_1
Bersambung...
Ngantuk banget Asli, Ku bela-belain š„±š„±š„±