Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Menunggu


__ADS_3

Jam istirahat sedang berlangsung, Misty hanya duduk ditaman sekolah tanpa pergi kekantin seperti biasanya, Ia masih benar-benar merasa kesal mengingat bagaimana Yaz memperlakukan dirinya.


"Misty kamu tidak ke kantin?" tanya Hana yang ikut duduk di sebelah Misty.


"Males, Aku tidak ingin bertemu orang sombong itu."


"Maksud mu Yaz?"


"Siapa lagi?" Dia terlalu sombong dan angkuh, Dia hanya membanggakan harta orang tuanya, Padahal Dia tidak memiliki otak untuk belajar." umpatnya kesal.


Misty terus meluapkan kekesalannya pada Yaz tanpa Misty sadari Yaz sudah berdiri di belakangnya.


Hana yang melihat kedatangan Yaz pergi meninggalkan Misty tanpa sepengetahuan Misty yang masih terus menggerutu.


"Jika Aku bertemu dirinya di luar sekolah, Ingin rasanya Aku acak-acak rambutnya yang selalu menjadi gaya andalannya dan melemparkan pot ini kewajahnya." sambil mengakat pot bunga berukuran kecil, Misty berbalik badan hingga pot itu tepat mengenai wajah Yaz.


Bukan hanya Misty yang membelalakkan matanya karena terkejut, Bahkan Genk yang datang bersama Yaz pun membulatkan mata melihat kejadian itu.


Susah payah Misty menelan ludahnya. Ia benar-benar tidak sengaja pot bunga yang ia pegang benar-benar mengenai wajah Yaz.


Mereka semua merasa tegang melihat wajah Yaz yang kotor terkena pot bunga yang msh basah.


Yash mendekati wajah Misty dengan sangat marah.


"Berrraninya Kau!" Yaz menunjuk kewajah Misty dengan mata melotot dan rahang yang mengeras.


"Maaf.. Maaf, Aku tidak sengaja."


"Aku mendengar semuanya kalau Kamu ingin melemparku dengan pot bunga ini."


"Tidak-tidak, Aku hanya asal bicara saja."


"Cukup...!!! Dasar gadis miskin kelas rendahan."


Misty yang mendengar itu merasa marah dan kembali melawannya.


"Yaz! Wajahmu hanya terkena sedikit pot bunga itu, Kenapa Kamu begitu marah? Bukankah kemarin Kamu juga melempar wajahku dengan minuman dingin?"


"Itu karena Kamu pantas mendapatkannya."


"Kamu juga pantas mendapatkan lebih dari ini, Seharunya tadi Aku memecahkan pot itu di kepalamu, Agar isi kepalamu tidak keras seperti batu." dengan menginjak kaki Yaz, Misty pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Aowhh." Yaz memegangi telapak kakinya sembari melihat punggung Misty yang tidak ada takut-takutnya kepadanya.


•••


Abay dan Mayra keluar dari kampus setelah jam pelajaran berakhir


Tidak seperti biasanya kini Abay lebih bersikap hangat pada Mayra.


"Mayra, Apa nanti malam Kita bisa jalan?"


Mayra tercengang mendengar pertanyaan dari Abay, Ia benar-benar tidak percaya Abay mengatakan ini sampai-sampai Mayra mematung menatap laki-laki pujaan hatinya.


"Mayra.." Abay mengayunkan tangannya di depan wajah Mayra hingga membuatnya tersentak.


"E-e, M-m.." Mayra yang benar-benar tidak pernah menyangka sampai tidak bisa berkata-kata.


"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Abay terseyum dengan suara yang begitu lembut.


"T-t... Tidak ada Abay, A-a-Aku hanya..."


Abay terseyum dan meraih kedua lengan Mayra dan membuatnya berdiri lurus menghadap dirinya, Hal ini membuat Mayra semakin gugup di buatnya.


"Mayra... Bisa Kita jalan malam ini, Kumohon, Izinkan Aku menebus kesalahanku."


"Kamu masih belum memaafkan ku ya?"


"Hagh! E-e bukan-bukan, Bukan begitu, Aku... Aku hanya terlalu bahagia Kamu mengajakku jalan." ucap Mayra


"Kalau begitu Kamu mau?"


"Tentu." ucap Mayra penuh haru.


"Baiklah Kita sampai bertemu nanti malam," ucap Abay yang kemudian menaiki motornya dan meninggalkan Mayra.


Mayra bahagia tak terkira dan masuk ke mobilnya.


•••


Malam Hari 🌙


Tidak mau mengulangi kesalahan, Abay lebih awal bersiap-siap.

__ADS_1


Dengan mengenakan kemeja hitam slim fit membuat bentuk dadanya tercetak sempurna. Dengan menyemprotkan parfum ke tubuhnya beberapa kali kini Abay bersiap meninggalkan rumah.


"Cieee... Yang mau kencan." goda Misty.


"Salam untuk Kak Mayra?" sambung Rayyan.


"Rayyan, Misty berhenti menggoda Abang mu." tegur Ibu.


Abay hanya tersenyum dan mencium tangan Ibunya.


Di rumahnya Mayra juga telah bersiap dan berpamitan kepada Ayahnya.


"Jadi Kamu sudah benar-benar memaafkannya?" tanya Ayah yang masih khawatir jika Mayra akan di sakiti lagi.


"Ayah, Abay sudah minta maaf padaku, bahkan di depan semua teman kampus, Itu tandanya Dia benar-benar menyesali kesalahannya, Bahkan untuk menebus kesalahannya, Malam ini Dia sendiri yang mengajak ku jalan."


"Mayra, Akan sulit bagimu menjalani hubungan ini, Abay tidak mencintaimu, Kamu akan terus merasa sakit hati."


"Ayah selama hampir 2 tahun ini Aku sudah mencintai Abay dan selama itu juga Abay tidak membalas cinta ku, Tapi sekarang Abay bersedia menikah denganku, Jadi Aku akan melanjutkan perjuanganku mendapatkan cintanya."


"Ayah tidak mengerti apa yang membuatmu begitu mencintainya, Padahal banyak loh yang lebih tampan, Lebih baik, Lebih kaya dari Abay."


"Ini cinta Ayah, Kita tidak tau kapan kita akan jatuh cinta dan kepada siapa kita akan mencintai, Jika Aku bisa meminta pada Tuhan, Maka Akuakan minta di beri perasaan cinta kepada Pria yang mencintai ku,


Tapi sayangnya Tuhan tidak memberi ku pilihan kepada siapa Aku harus jatuh cinta." Mayra terdiam sesaat merasakan perasaan cintanya yang begitu besar kepada Abay.


"Baiklah Sayang, Ayah hanya berharap Abay tidak lagi menyakiti mu dan semoga Kamu bahagia dengan pilihan mu."


"Jangan hawatir Ayah, Aku pergi sekarang."


"Baiklah Sayang, Hati-hati."


•••


Abay yang sudah di Cafe sejak 20 menit yang lalu, Terus melihat jam di layar ponselnya. Kakinya mulai tidak bisa diam dan Hatinya mulai gusar. Abay kembali melihat pintu masuk berharap Mayra akan segera datang. Namun Mayra tidak kunjung datang.


Trrring..


Notifikasi pesan masuk mengagetkan Abay.


Ia membuka layar ponselnya dan tanpa membuang waktu lagi, Abay bergegas meninggalkan Cafe.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2