
Di rumah besarnya, Yaz mulai merasa gelisah memikirkan bagaimana kalau teman-temannya tau perbuatannya pada Misty.
Yaz yang sebelumnya merasa tidak takut sama sekali, Mulai di hantui oleh perbuatannya sendiri.
"Sebelumnya Aku tidak merasa takut sama sekali, Tapi kenapa semakin hari peristiwa itu semakin menghantuiku, Misty juga belum masuk kesekolah, Bagaimana keadaannya sekarang, Bagaimana jika Misty depresi dan bunuh diri?" pikiran-pikiran buruk tentang Misty terus menghantui ketenangan Yaz.
ā¢ā¢ā¢
Mayra mendatangkan psikolog untuk merawat Misty dan mengantarnya ke kamar.
Mayra telah menjelaskan semua permasalahan yang Misty alami hingga membuatnya trauma dan tidak lagi melanjutkan kehidupan normal seperti biasanya.
"Misty, Ini adalah Bu Sundari psikolog yang akan membantumu keluar dari masalahmu. Beliau akan mendampingimu sampai Kamu benar-benar pulih."
Misty hanya diam dan menatap Bu Sundari.
"Bu Sundari, Tolong rawatlah Misty sampai Ia keluar dari rasa traumanya," ucap Mayra.
"Saya akan berusaha semakaksimal mungkin Non Mayra."
"Terimakasih, Kalau begitu Saya tinggal dulu."
Bu Sundari menganggukkan kepalanya. Begitupun dengan Misty yang di usap pipinya oleh Mayra sebelum Mayra keluar.
Sedangkan Abay yang sejak tadi menunggu Mayra di luar, Tidak tau lagi bagaimana cara mengungkapkan terimakasih pada Mayra yang selalu membantu kesulitan keluarganya.
Ia menatap Mayra yang tersenyum berjalan ke arahnya.
"Mayra, Jika ada kata yang lebih tinggi dari terimakasih, Maka itulah yang akan ku ucapkan padamu, Kamu sangat baik Mayra, Maafkan Aku karena selama ini tidak menghargai mu."
"Sudah lah Abay, Aku sudah melupakannya, E-e Ini sudah mulai sore, Nanti Aku kemalaman.
Abay tertawa menggelengkan kepalanya.
Mayra pun merasa bingung kenapa Abay menertawakan dirinya.
__ADS_1
"Apanya yang lucu Abay, Apa yang salah dengan ucapanku?"
"Mayra-mayra... Kenapa Kamu mempedulikan sore ataupun malam, Kamu adalah Istriku." Abay memutar tubuh Mayra dan menghadapkan pada dirinya.
Mayra terhenyak mendengar Abay menyebutnya "Istriku" Kata-kata sederhana tapi terdengar begitu sangat spesial di telinga Mayra yang begitu mengharapkan Abay menganggapnya sebagai istrinya.
"Ini adalah rumahmu juga, Jadi Kamu tidak pulang pun tidak akan jadi masalah."
Mayra masih terdiam menatap Abay, Ia seakan tak percaya dengan apa yang Ia dengar.
"Mayra, Kenapa Kamu diam saja?"
"E-e... Tidak Abay, Aku hanya merasa bahagia, Sangat-sangat Bahagia," ucap Mayra yang menjadi haru.
"Bahagia..?"
"Ya, Aku sangat bahagia akhirnya Kamu menyebutku "Istriku"
Abay menjadi salah tingkah dan melangkah membelakangi Mayra.
"Bukan begitu tapi..."
"Baiklah Aku akan mengantarmu, Aku tau rumahku sangat kecil, Di kamarku tidak ada ranjang empuk, Tidak ada kipas angin maupun AC, Jadi pasti Kamu tidak akan bisa tidur nyenyak disini, Sekarang ayo, Akan ku antarkan Kamu pulang."
"Abay apa yang kamu katakan, Jika Kamu memintaku menginap, Aku akan menginap."
"Benarkah Mayra?" tanya Abay memastikan.
Mayra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Abay terseyum senang karena Mayra mau menginap di rumahnya.
Malam Hari š
Seluruh keluarga bersiap untuk makan malam bersama.
__ADS_1
Hanya Misty yang makan di kamar ditemani psikolog,
Mayra duduk di depan Abay dan seperti Tuan rumah yang melayani tamunya, Abay menyiapkan makanan untuk sang istri untuk pertama kalinya. Hingga membuat Mayra merasa tidak enak hati karena Abay melakukannya di depan Adik dan Ibunya.
"Abay tidak perlu, Aku bisa mengambil sendiri."
"Tidak Mayra, Kamu terbiasa di layani kan, Kali ini Aku yang akan melayani mu."
Mayra melihat Ibu karena takut Ibu mertuanya tidak menyukai apa yang dilakukan oleh Abay pada dirinya. Namun Ibu malah tersenyum dan terlihat senang melihat Abay memperlakukan Mayra dengan baik.
"Makanlah Nak Mayra," ucap Ibu.
Mayra mengangguk dan mulai menyantap hidangan yang disajikan.
Abay hanya duduk menatap Mayra tanpa memakan makanannya.
Mayra yang melihat Abay terus menatapnya mengangkat dagu dan kedua alisnya mengisyaratkan kenapa Abay tidak makan.
Abay yang faham maksud Mayra hanya menggelengkan kepalanya.
Kini Abay berusaha menggoda Mayra dengan kakinya.
Abay menggunakan Jari-jemari kakinya untuk menyusuri kaki Mayra.
Mayra membulatkan matanya dan melongok ke bawah meja kemudian kembali menatap Abay.
Abay terseyum menggoda melihat keresahan Mayra.
"Abay apa yang kamu lakukan Kenapa tidak makan?" pertanyaan Ibu membuat keduanya gugup dan jadi salah tingkah.
"E-e... Aku.. Aku akan makan Bu." Abay langsung memasukan makanan ke mulutnya.
Mayra menahan tawa melihat tingkah konyol suaminya.
Bersambung...
__ADS_1
š JANGAN BILANG AUTHOR PELIT UP, SIAPA SIH YANG GAK PENGIN UP SEHARI 10x , TAPI KAN AUTHOR PUNYA KELUARGA DAN KESIBUKAN LAIN, JADI HARAP SABAR UNTUK BAB BERIKUTNYA š