
Abay mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Kemudian mengecash ponselnya yang kehabisan batrai saat mencari Nandini,
Setelah menunggu beberapa menit, Ponsel kembali menyala.
Abay melihat begitu banyak panggilan dan pesan masuk dari Mayra.
"Arrrgghhhh!!! Abay semakin takut jika Mayra akan marah padanya dan berimbas pada kuliahnya.
"Bodoh! Kenapa Aku sama sekali tidak ingat mau jalan dengannya." umpatnya pada diri sendiri.
š PAGI HARI š»
Tidak seperti biasanya, Hari ini Abay bersiap lebih awal.
Ia harus melakukan sesuatu agar Mayra tidak marah padanya.
Dengan tergesa-gesa Abay keluar dari kamar dan langsung mengambil kunci motornya.
"Abay Kamu tidak sarapan dulu?" pekik Ibu yang melihat Abay langsung keluar.
"Tidak Ibu, Aku buru-buru." pekik Abay sembari memacu motornya dengan secepat kilat.
Rayyan dan Misty yang sudah selesai sarapan juga berpamitan pada Ibu untuk pergi ke sekolahnya masing-masing.
Setelah ketiga anaknya pergi, Seperti biasa Ibu melakukan aktivitasnya berjualan sayur keliling dengan sepedanya.
ā¢ā¢ā¢
Setelah sampai kampus, Abay langsung mencari-cari Mayra namun tidak menemukannya. Padahal sebelumnya Mayra selalu datang awal untuk menyambut dirinya.
Setelah bertanya pada teman-temannya dan tidak ada yang melihatnya Abay duduk di depan kelas menunggu kedatangan Mayra. Namun sampai bel berbunyi Mayra tidak juga datang.
Bukannya masuk kedalam kelas Abay malah meninggalkan kampus dan pergi ke rumah Mayra.
ā¢ā¢ā¢
Sesampainya di rumah Mayra, Abay langsung menerobos gerbang dan meneriakkan namanya.
"Mayra... Mayra..."
"Mas... Mas..." pekik Satpam mengejar Abay.
"Anda tidak bisa menerobos masuk begitu saja."
"Anda sudah mengenalku kan, Aku hanya ingin bertemu Mayra."
Mayra yang samar-samar mendengar keributan di luar, Beranjak dari tempat tidurnya dan keluar ke balkon. Mayra melihat Abay yang tengah berdebat dengan Satpam rumahnya.
__ADS_1
"Kenapa Anda tidak mengerti juga Aku hanya..." Abay menghentikan ucapannya ketika tanpa sengaja melihat Mayra berdiri di atas balkonnya.
"Mayra, Turunlah, Aku ingin bicara padamu?" pekik Abay.
Mayra hanya diam dengan tatapan kekecewaannya.
"Mayra kumohon turunlah, Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya." ucap Abay memelas.
"Hari ini Kita kesiangan." ucap Ravindra terseyum menggoda pada sang istri.
"Mas sih udah siang malah minta lagi." ucap Devika yang kemudian terdiam.
"Ada apa Sayang?"
"Putri Kita sedang sedih, Tapi Kita malah bersenang-senang."
"Ya Aku tau, Tapi Aku sudah tidak bisa menahannya, Beberapa hari ini Kita begitu sibuk."
"Baiklah, Semoga Putri Kita tidak berlarut-larut dalam kesedihannya."
Ravindra mengangguk dan meraih tangan Devika menuruni anak tangga untuk pergi ke kantor.
Ketika menuruni anak tangga Mereka mendengar keributan di luar.
"Siapa yang berani bikin keributan di rumahku di jam segini." ucap Ravindra yang langsung bergegas membuka pintu. Ravindra langsung mengeraskan rahangnya begitu melihat Abay ada di depannya.
"Kau membuat Putri ku menangis lalu sekarang Kau membuat kegaduhan di rumahku? BHUUKKK.!!!" Ravindra kembali menonjoknya hingga Abay tersungkur ke tanah.
"Ayahhhh.." jerit Mayra yang langsung berlari ke bawah.
Ravindra kembali membuat Abay berdiri dan kembali menghajar dengan umpatannya, Ravindra benar-benar tidak terima Putrinya di buat menangis sedangkan Ia sebagai orang tuanya tidak pernah membiarkan air mata Putrinya jatuh walaupun hanya setetes.
Mayra langsung menengahi dan memeluk Ayahnya.
"Cukup Ayah, Jangan sakiti Abay lagi."
"Kenapa Kamu membelanya, Dia sudah mengecewakan mu, Dia membuatmu manangis."
"Ayah, Ini ke inginan ku dan Aku sudah siap menghadapi kekecewaan seperti ini."
"Sayang, Gunakan akal mu, Belum apa-apa Dia sudah menyakitimu."
"Rasa sakit ini tidak sebesar rasa cintaku padanya, Aku akan lebih sakit jika tidak bersamanya, Percayalah Ayah, Aku sudah tidak apa-apa."
Abay terhenyak mendengar ucapan Mayra, Meskipun Ia tidak mencintai Mayra, Namun mendengar Mayra berkata demikian membuat hatinya tersentuh.
"Ayah hanya tidak bisa melihat mu menangis Sayang."
__ADS_1
"Jika Ayah tidak ingin melihatku menangis, Maka berhentilah memukulnya."
Ravindra meredam amarahnya demi sang putri.
"Dan Kau!" Ravindra menunjuk wajah Abay.
"Jika berrrani menyakiti Putriku lagi, Kamu akan merasakan lebih dari ini." Ravindra menggandeng Devika dan masuk ke mobilnya.
"Sayang Kami berangkat dulu." pekik Ibu pada Mayra.
Kini hanya Abay dan Mayra yang berdiri saling berhadapan setelah Satpam juga meninggalkan Mereka.
Belum sempat Abay bicara, Mayra langsung bergegas masuk kedalam.
"Mayra..." lirih Abay sembari menahan rasa sakitnya.
"Mayra benar-benar marah padaku." gumam Abay menunduk sedih.
Namun kesedihannya tidak berlangsung lama karena Mayra kembali datang dengan membawa kotak obat di tangannya.
Tanpa mengatakan apapun, Mayra meraih tangan Abay dan membuatnya duduk di kursi teras rumahnya.
Abay menatap Mayra yang langsung membersihkan sikunya yang berdarah. Kemudian membersihkan darah di ujung bibirnya.
Abay terus menatap wajah Mayra yang tidak seperti biasanya, Mayra hanya fokus mengobatinya tanpa mau menatap matanya.
"Aowh..." ringis Abay yang membuat Mayra menghentikan pengobatannya.
"Aku sudah sangat berhati-hati." ucap Mayra datar.
Abay hanya diam menatap Mayra kemudian menggenggam tangannya.
Mayra merasa kaget karena ini kali pertamanya Abay menggengam tangannya.
"Maafkan Aku..." ucap Abay memelas.
"Pulang dan beristirahat lah Abay."
Abay tersentak dan tidak pernah menyangka Mayra bisa bersikap dingin padanya untuk kali pertamanya.
"Mayra..." Abay beranjak dari tempat duduknya melihat Mayra yang langsung masuk ke dalam tanpa memberi kata maaf padanya.
Dengan rasa sakit dan khawatir Mayra tidak akan mau lagi membiyayai kuliahnya Abay meninggalkan rumah Mayra.
Dengan sedih Mayra melihat kepergiannya dari tirai jendelanya.
Bersambung...
__ADS_1