
Misty sedang menikmati makan siang di kantin bersama teman-temannya. Beberapa menit kemudian Yaz datang bersama Genk nya yang membuat nurut lain pergi kocar-kacir.
Namun Misty yang tidak merasa takut padanya, Tetap duduk dan menatapnya sinis. Hal itu membuat Yaz kesal dan menggebrak mejanya.
"Minggir!"
"Kamu fikir ini kantinmu?" tantang Misty dengan menatap Yaz tanpa rasa takut.
"Bukan hanya kantin ini saja, Bahkan sebagian besar sekolah ini adalah milik ku."
"Bukan hanya milik mu, Tapi masih ada donatur lain."
"Tapi Ayah ku, Donatur terbesar di sekolah ini."
"Mengandalkan kekayaan orang tua bukan suatu hal yang patut di banggakan untuk bertindak semena-mena terhadap orang lain."
"Siapa dirimu sampai berani mengajari ku." Yaz melangkah maju hingga Misty melangkah mundur menabrak meja. Keduanya terdiam dengan wajah yang begitu dekat, Kedua Indra penglihatan mereka beradu memancarkan kebencian dari sorot mata keduanya.
"Jangan berani-berani menantangku jika kamu tidak ingin mempunyai masalah yang lebih besar dari ini." tegas Yaz yang meraih gelas berisi Orange juice dan menyiramkannya ke wajah Misty.
"Hagh!" Misty mengusap wajahnya merasakan dingin yang mengalir ke area dadanya.
Dengan terseyum smirk Yaz meninggalkan kantin.
Bel pun berbunyi dan para murid kembali ke kelas Mereka,
Tak terkecuali Misty yang kembali ke kelas dengan keadaan basah hingga menjadi bahan tertawaan teman-teman sekelasnya.
Tanpa memperdulikan Mereka, Misty ke tempat duduknya. Namun belum sempat Misty duduk, Yaz menggeser kursinya hingga membuat Misty jatuh ke lantai.
Teman-teman sekelasnya semakin puas menertawakan Misty.
"Makanya jangan pernah berani melawanku." lirih Yaz.
"Harap tenang Anak-anak," pekik Bu Guru yang baru datang.
Misty pun kembali berdiri dan mengusap-usap rok bagian belakang.
"Misty kenapa kamu begitu berantakan?"
"Habis mandi di got Bu." saut Yaz yang di iringi tawa dari
Teman-temannya.
"Sudah-sudah tenang semua. Dan Kamu Misty, Pulanglah nanti Kamu sakit."
"Baik Bu." dengan kesal, Misty pun meninggalkan kelas.
ā¢ā¢ā¢
Malam hari š
Abay menyembunyikan luka-lukanya dari Ibu dengan mengurung diri di kamar. Abay tidak ingin Ibu melihatnya dan menanyakan alasannya makanya sejak pulang, Abay tidak lagi keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Dengan sedikit kesulitan, Abay menaikan kakinya ke atas atempst tidurnya.
Rayyan yang tiba-tiba masuk terkejut melihat Abangnya yang babak belur.
"Bang... Apa yang terjadi?"
"Rayyan, Kamu tidak mengetuk pintu?"
"E-e maaf Aku fikir Abang belum pulang."
Abay tidak lagi membahasnya karena membenarkan posisi tubuhnya yang terasa sakit semua.
"Abang kenapa, Kenapa babak belur seperti ini?"
"Abang tidak papa, Hanya jatuh dari motor." ucap Abay beralasan.
"Aku akan memanggil Ibu."
"Tidak! Abang hanya ingin beristirahat, Pergilah dan tutup pintunya."
Tanpa membantah Rayyan pergi meninggalkan kamar Abangnya.
Abay membaringkan tubuhnya dan memikirkan apa yang harus Ia lakukan agar Mayra tidak lagi bersikap dingin padanya.
š Pagipun tiba š»
Ravindra dan Devika yang tengah bersarapan merasa senang melihat Mayra turun dengan pakaian rapi dan tas di pundaknya.
"Selamat pagi Ayah, Ibu..." ucap Mayra duduk bergabung bersama Kedua orang tuanya.
"Pagi Tuan Putri." sambung Ayah.
"Kamu mau kuliah?"
Mayra menganggukkan kepalanya sembari mengoleskan selai coklat ke roti tawarnya.
"Kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Ayah yang masih khawatir.
"Aku baik-baik saja Ayah, Makanya aku akan kembali kuliah."
"Sayang, Kamu bisa membatalkan rencanamu untuk menikah dengan Abay."
"Kenapa Ayah mengatakan itu?"
"Kenapa Sayang? Ayah fikir setelah Dia mengecewakan mu, Kamu akan berfikir seribu kali untuk menikah dengannya."
"Aku memang kecewa Ayah, Tapi bukan berarti Aku tidak memaafkanya, Setiap orang pernah melakukan kesalahan dan kemarin Abay elah meminta maaf, Aku rasa itu sudah cukup."
"Semudah itu kamu memaafkanya?"
"Kenapa tidak Ayah." Mayra beranjak dari duduknya dan berpamitan untuk berangkat.
Ravindra menggelengkan kepalanya, Dia tidak habis fikir kenapa putrinya begitu tergila-gila pada Abay, Sehingga mengabaikan kekecewaannya.
__ADS_1
ā¢ā¢ā¢
Sesampainya di kampus salah satu temannya memberikan kertas kecil kepada Mayra, Belum sempat Mayra bertangan Dia sudah pergi tanpa mengatakan apapun.
Mayra membuka kertas itu dan hanya melihat huruf ( I )
Mayra kembali berjalan dan ada lagi yang memberikan kertas kecil serupa dan kali ini hanya huruf ( M )
Mayra masih merasa bingung dan kembali mendapatkan kertas ke 3 yang kali ini hanya huruf ( S )
"Apa semua ini.." gumam Mayra yang semakin bingung.
Mayra kembali di beri kertas ke 4 oleh orang yang berbeda, Kali ini hanya berhuruf ( O )
Mayra berhenti berjalan dan memikirkan apa arti semua ini,
Mayra kembali mendapatka kertas ke 5 kali ini huruf ( RR)
Mayra mulai mulai mengeja huruf satu per satu. Sebelum bisa di baca semuanya, Mayra kembali mendapat kertas ke 6, Kali ini hanya huruf ( Y )
Kemudian Mayra mengumpulkan semua kertas dan menyusunya dari urutan kertas pertama sampai terakhir, Mayra mulai mengeja I-M-S-O-R-R-Y.
"I'm sorry...?" Mayra yang masih bingung melihat sekitarnya dan melihat teman-teman kampusnya membentangkan kain putih panjang bertuliskan " IM SORRY MAYRA "
Senyum Mayra mulai mengembang melihat Abay berada paling depan di antar teman-temannya.
"I'm sorry Mayra, Maafkan Aku." ucap Abay dari kejauhan.
Mayra tersenyum haru melihat semua ini, Ia benar-benar tidak pernah menyangka Abay akan melibatkan teman-teman kampusnya untuk meminta maaf padanya.
"Maafkan Aku Mayra." ucap Abay mengulangi perkataannya.
Mayra mengangguk dan berlari kearah Abay.
Ia berdiri di depan Abay, Rasanya ingin sekali memeluknya. Namun Ia merasa malu untuk melakukannya.
"Apa Kamu mau memaafkanku?"
"Aku sudah memaafkan mu sejak kemarin Abay." ucapnya haru.
Abay meraih kedua tangan Mayra dan merasa sangat lega.
"Terimakasih karena telah memaafkan ku."
Mayra mengangguk-anggukan kepalanya.
Kemudian Abay menoleh ke belakang melihat teman-temannya yang sudah membangunkannya meminta maaf.
"Terimakasih teman-teman, Terimakasih telah membantuku."
Mayra terseyum bahagia karena Abay mau melibatkan teman-temannya untuk minta maaf padanya.
"Kita masuk kelas?" Abay merangkul pundak Mayra dan menitahnya masuk.
__ADS_1
Mayra terpaku melihat tangan Abay yang berada di pundaknya.
Bersambung...