Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Tertunda


__ADS_3

Mayra benar-benar merasa bahagia akhirnya Abay menunjukkan keseriusannya di depan orang tuanya.


Tidak kalah bahagia kedua orang tua Mayra juga merasakan hal yang sama karena setelah sekian lama akhirnya Mereka bisa melihat senyum kebahagiaan pada putri semata wayangnya.


"Aku senang karena Kamu menunjukkan keseriusan mu dan memikirkan kebahagiaan Mayra," ucap Ayah menjeda ucapanya.


"Semoga dengan berjalannya waktu, Kamu menjadi Pria yang lebih dewasa, Matang dan bertanggung jawab."


"Aku akan terus berusaha membuat Ayah bangga padaku."


"Kemarilah Abay."


Abay beranjak dari duduknya dan mendekati Ayah mertuanya.


"Terimakasih telah membuat putriku bahagia, Maafkan Ayah jika sebelumnya Ayah selalu bersikap kasar padamu."


"Tidak masalah Ayah, Sikap Ayah kepadaku sesuai dengan perbuatanku."


Ayah tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Baiklah Abay, Kita lupakan masa lalu dan Kita buka lembaran baru untuk Kita semua,"


Abay menganggukkan kepalanya.


"Lalu kapan rencanamu kembali tinggal di sini?"


"E-e.. Ayah, Bolehkah Aku meminta izin agar Mayra yang tinggal di rumah ku?"


"Apa!" Ayah langsung berdiri kaget begitu mendengar permintaan Abay.


Ibu dan Mayra juga berdiri dengan tegang.


"Ayah tolong tenang dulu, Aku tau rumahku jauh dari kata mewah, Tapi Aku ingin menjadi pria yang mandiri dan bertanggung jawab untuk Mayra, Aku tidak ingin hanya menumpang hidup pada Ayah, Meskipun penghasilanku tidak seberapa tapi asal Mayra mau hidup sederhana Gaji ku cukup untuk menafkahinya."


Ayah terdiam mendengar penjelasan Abay.


"Ayah, Aku tidak keberatan," ucap Mayra memegang tangan Ayahnya.


"Tapi Kamu tidak terbiasa hidup susah Sayang,"


"Ayah jangan khawatir, Aku akan terbiasa."


"Baiklah, Tapi tidak malam ini, Ini terlalu mendadak untuk Ayah."


Mayra menatap Abay untuk mencari jawaban.


"Tidak masalah Ayah, Aku akan menunggu sampai Ayah mengizinkannya."


Setelah pembicaraan selesai Ravindra dan Devika meninggalkan Mereka berdua.


Abay yang melihat mertuanya sudah pergi langsung mendekati Mayra.

__ADS_1


"Kamu tidak keberatan tinggal di rumah ku?"


"Tidak sama sekali Abay, Aku rela kemanapun asal selalu bersama mu."


"O ho... Istriku sudah pandai ngegombal?"


Mayra jadi tersipu malu.


Abay terseyum dan sedikit membungkukkan badannya untuk menatap wajah Mayra yang tertunduk malu.


"Apa sekarang kamu merasa bahagia?"


Mayra hanya mengangguk pelan dan terus menundukkan kepalanya.


"Lalu kenapa Kamu terus tersipu malu seperti itu, Kemarilah lebih dekat lagi ."


Perlahan Mayra mengagat wajahnya menatap Abay.


Abay membentangkan kedua tangannya sembari menganggukkan kepalanya.


Mayra terseyum dan langsung memeluk Abay.


"Mayra..."


"Hmm..."


"Bolehkah Aku pulang sekarang?"


"Kita hanya perlu menunggu beberapa hari, Aku yakin Ayah mu tidak akan melarang mu terlalu lama jauh dariku."


Mayra mengurai pelukannya dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian Abay mengecup kening Mayra dan meninggalkan rumah Mayra.


•••


Beberapa saat kemudian Abay sampai rumah.


Ibu yang sedang duduk di ruang tamu melihatnya langsung menghentikan Abay.


"Rayyan bilang Kamu pergi kerumah Mayra?"


"Iya itu benar."


"Apa semua baik-baik saja?"


"Semua sangat baik Ibu dan tidak lama lagi Aku akan membawa menantu Ibu pulang ke rumah ini.'


"Apa! Maksud mu kalian mau rujuk dan Mayra akan tinggal di sini?"


"Ya itu benar ibu."

__ADS_1


"Lalu dengan keputusan sebesar ini Kamu tidak melibatkan Ibu sana sekali? Apa Kamu sudah tidak membutuhkan Ibu kagi?"


"Bukan seperti itu Ibu, Aku hanya ingin menghadapi orang tua Mayra sendiri, Aku yang membuat kesalahan dan Aku yang harus menghadapinya. Selain itu Aku juga ingin membuat kejutan untuk Ibu,


Dulu Ibu mengharapkanku agar aku bisa mencintai mayra kan..?


Dan inilah kejutannya, Sekarang Aku sangat-sangat mencintainya dan ingin terus hidup bersamanya."


Ibu tersenyum mengecup kening Abay, Akhirnya Setelah sekian lama putra sulungnya kembali membuatnya bangga.


•••


Yaz berjalan di koridor sekolah dan melihat Misty yangg sedang duduk di depan kelas. Kemudian Yaz memperhatkan gerak gerik Misty untuk memastikan kecurigaannya.


Setelah cukup lama memperhatikannya, Yaz merasa yakin jika Misty tidak sekuat yang terlihat.


Misty menoleh ke arah Yaz dan menyadari jika Yaz sedang memperhatikan gerak-gerik nya.


Misty segera bangun dan berusaha sekuat hati agar terlihat berani menghadapi Yaz.


Dengan sedikit mengangkat dagunya Misty berjalan ke arah Yaz yang juga sedang melangkah ke arahnya.


Mereka berhenti di tengah-tengah dan saling menatap tajam.


Tapi tidak seperti biasanya, Kali ini Yaz terlihat seperti menantang Misty untuk membuktikan kecurigaannya.


Melihat Yaz yang tetap berdiri tegap menatapnya membuat Misty mulai merasa takut dan menundukkan pandangannya. Setelah merasa tidak kuat lagi berpura-pura, Misty berlari meninggalkan Yaz.


Yaz memandang Misty yang terus berlari meninggalkannya tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Kecurigaan ku benar." batin Yaz.


Misty yang terus berlari hampir bertabrakan dengan Suhana.


Misty kembali merasa cemas dan ketakutan.


"Misty apa yg terjadi?"


"Suhana sepertinya Yaz sudah curiga padaku, Dia tidak lagi merasa takut padaku."


"Tenanglah Misty, Kamu jangan panik, Mungkin saja itu hanya dugaan mu."


Misty memeluk Suhana dan menangis di pelukannya


"Jadi Misty berusaha keras menghadapiku?" ucap Yaz yang melihat Mereka dari kejauhan.


Yaz kembali mengingat saat tanpa sengaja dirinya menyentuh Misty yang langsung membuatnya histeris.


Kemudian Yaz juga mengingat bahwa Misty lama sekali tidak masuk sekolah.


"Oh Tuhan Apa yg telah kulakukan padanya.."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2