
Abay melangkah keluar dari rumah Nandini dengan keputusan bulatnya untuk memutuskan hubungannya dengan kekasihnya itu.
Namun Nandini yang tidak terima dengan keputusan Abay langsung berlari mengejarnya.
Dengan rengekannya, Nandini memegangi tangan Abay memohon untuk tidak memutuskan hubungan Mereka.
"Aku tidak akan membiyarkanmu meninggalkanku dan kembali pada Mayra Abay, Kau hanya milik ku, Selamanya Akan tetap begitu."
"Kau tidak akan bisa merubah keputusan ku!" dengan kasar Abay menghempas tangan Nandini hingga Nandini hampir terjatuh.
"Abay! Aku tidak akan membiarkan mu dan Mayra bahagia, Kau dengar itu!" triak Nandini. Namun Abay tidak lagi mempedulikannya dan pergi dengan motornya.
ā¢ā¢ā¢
Abay kembali kerumah dengan lesu.
Ia yang melihat Ibu sedang mengemasi rumah, Tertunduk sedih karena sebelumnya Ia begitu yakin jika Mayra sudah memaafkannya. Namun kini Ia harus kembali menerima kemarahan Mayra karena ucapan dari Kekasih yang baru beberapa menit Ia putus.
Ibu yang melihat gelagat Putra sulungnya melangkah mendekatinya.
Meskipun Ibu masih belum memaafkannya. Namun melihat Putranya sedih Ibu merasa Iba kepadanya.
"Sebelumnya Kamu terlihat begitu bahagia, Kenapa sekarang sedih, Apa ucapan Ibu benar, Jika Mayra tidak memaafkanmu?"
Abay hanya terdiam menundukkan kepalanya dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Ibu menatap Abay sedih, Tapi mengingat apa yang sudah Abay lakukan membuat Ibu menepis jauh-jauh rasa Ibanya terhadap sang Putra.
"Kenapa dengan Bang Bay?" tanya Rayyan yang baru keluar dari kamarnya.
"Entahlah," ucap Ibu.
Rayyan menyusul Abangnya ke kamar dan melihat Abay menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
"Bang Bay, Ada apa?"
"Abang hanya tidak tau apa yang harus Abang lakukan, Abang sedih melihat keadaan Misty yang belum juga pulih, Di sisi lain Ibu juga tidak mau memaafkan Abang kalau Mayra belum memberikan maafnya."
"Bukankah kemarin Bang Bay bilang sudah berbaikan dengan Kak Mayra?"
"Iya, Tapi Mayra kembali salah faham."
Abay tersenyum dan mengusap kepala sang Adik.
"Pergilah temani Kak Misty."
Tanpa membantah Rayyan menuruti perintah Abangnya.
Abay merebahkan tubuhnya di ranjangnya dan mengingat kembali saat pertama kalinya Ia tidur memeluk Sang Istri.
Kemudian memejamkan mata dan mencoba menyatukan hati dan fikirannya.
__ADS_1
Cukup lama Abay terpejam yang terlintas dalam pikirannya hanya ada Mayra, Saat Ia begitu mencintainya, Saat Mayra terseyum bahagia dan saat Mayra menangis karenanya.
"Apa Kau telah jatuh cinta pada Mayra?" pertanyaan dari Nandini kembali terngiang dan membuatnya tersentak dari lamunannya.
Abay duduk dan merasa kali ini perasaannya memang telah berubah kepada Mayra. Kali ini perasaanya menjadi tidak menentu dan terus merasakan keresahan dalam hatinya.
"Benarkah Aku sudah jatuh cinta pada Mayra?" batin Abay.
Malam Hari š
Mayra sedang melamun sembari memainkan tombol lampu di atas nakas, Ia mengingat kembali saat Abay memperlakukan dirinya layaknya istri yang Ia cintai untuk pertama kalinya. Namun kata-kata Nandini kembali terngiang di telinganya hingga membuat Mayra kembali meneteskan air matanya.
Di kamar lain Ke-dua orang tua Mayra tengah membahas Putri nya yang terlihat berubah-ubah sikap beberapa hari ini.
Sebelumnya Mayra terlihat begitu bahagia. Namun kini Mereka kembali melihat kesedihan Putri tercintanya.
"Hari ini Mayra tidak keluar dari kamarnya," ucap Ravindra.
"Entahlah Mas, Aku sudah bertanya padanya tapi Dia tidak mau menceritakannya, Mungkin Dia belum bisa melupakan Abay, Ntahlah."
"Entah Apa yang membuat Mayra begitu mencintai Abay, Sehingga berkali-kali di sakiti masih saja mencintainya," ucap Ravindra yang menjadi sedih.
Bersambung...
__ADS_1
APA SIH BAGUSNYA ABAY SAMPAI AUTHOR BUCIN PARAH, EHH MAYRA MAKSUDNYA š¤£