
Abay telah sampai kampus dan memarkirkan motornya.
Barus saja Ia turun dari motor dan melepaskan helmnya Abay di kagetkan oleh Nandini yang sudah berdiri di belakangnya.
"Nandini Kau!"
"Akhirnya Kamu datang juga," ucap Nandini terseyum.
"Apa yang sedang Kau lakukan disini?" dengan kesal Abay mencengkeram lengan Nandini.
"Abay, Kenapa Kamu jadi kasar sekali, Aku datang menunggumu." Nandini mencoba menyentuh wajah Abay. Namun Abay langsung menepisnya dengan kasar.
"Aku sudah pernah mengatakan padamu, Hubungan Kita sudah berakhir, Jadi jangan pernah ganggu Aku lagi!"
"Abay Kamu tidak bisa memutuskan hubungan Kita begitu saja, Aku..."
"Aku tidak peduli, Cepat pergi dari sini sebelum Mayra datang melihat mu."
"Lalu kenapa kalau Dia melihatku?" pekik Nandini.
"Aku tidak mau membuatnya menangis lagi karena mu." dengan kesal, Abay memperkuat cengkramannya.
"Aww, Sungguh? Jadi Kamu telah benar-benar jatuh cinta dengannya?"
"Itu bukan urusanmu, Sekarang cepatlah pergi dari sini!"
"Kalau Aku tidak mau, Kamu mau Apa?"
"Nandini jangan bermain-main dengan ku!" Abay menjadi tegang saat melihat mobil Mayra datang.
Nandini terseyum smirk melihat kepanikan Abay.
"Nandini, Aku mohon pergi dari sini sekarang, Aku tidak mau Mayra salah faham."
"Baiklah Aku akan pergi tapi ada syaratnya."
"Cepat katakan."
"Temui Aku nanti malam jam 20.00 WIB."
"Apa Kau sudah gila? Aku sudah bilang, Hubungan Kita sudah berakhir!"
__ADS_1
"Baiklah jika Kamu tidak mau, Aku akan tetap disini."
Abay yang melihat Mayra turun dari mobil mau tidak mau terpaksa menyetujui permintaan Nandini.
"Baiklah."
"Janji?"
"Ya, Tapi sekarang Kamu harus pergi dari sini!"
"Baiklah, Aku akan tentukan dimana nanti Kamu harus menemuiku."
Tanpa menghiraukan Nandini lagi, Abay bergegas menghampiri Mayra.
"Abay..."
Abay masih merasa tegang hingga membuat Mayra merasa aneh dengan gelagat Abay dan melihat-lihat ke area sekitarnya.
"E-e Mayra," Abay segera mengalihkan pandangan Mayra dan merangkulnya masuk ke kelasnya, Kemudian Abay menoleh ke belakang di mana tadi Nandini berdiri.
Abay merasa lega karena tidak lagi menemukan Nandini di sana.
•••
Misty yang di temani Bu Sundari sedang berolah raga ringan di halaman rumahnya. Semakin hari keadaan Misty semakin membaik berkat pendampingan yang di khususkan untuk membuatnya segera pulih dari rasa traumanya, Perlahan Misty mau melakukan aktifitas ringan di rumahnya, Ia juga tidak lagi murung maupun mimpi buruk.
•••
Mayra dan Abay berjalan beriringan meninggalkan kelas.
Kemudian Abay mengantar Mayra sampai ke mobilnya dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Silahkan Tuan Puteri,"
Mayra terseyum bahagia karena semakin hari Abay semakin bersikap lembut padanya.
Abay membenarkan skirt panjang yang Mayra kenakan agar tidak terjepit pintu mobil.
"Oh ya Mayra, Apa Kamu sudah bicara pada orang tua mu jika Kita sudah berbaikan."
Mayra menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku tau, Pasti Kamu merasa ragu untuk mengatakan karena Kamu takut Aku akan kembali menyakiti mu kan?"
Mayra terdiam menundukkan kepalanya.
"Sekarang Kamu tidak perlu khawatir lagi Mayra, Aku janji tidak akan pernah menyakiti mu lagi, Aku akan bicara pada ke-dua orang tua mu untuk memulai lembaran baru pernikahan Kita."
Mayra menjadi begitu haru mendengar ucapan Abay.
"Oh ya, Apa rencana mu hari ini?"
"Aku akan mencari buku motivasi untuk Misty, Aku ingin Misty banyak membaca tentang motivasi agar Dia bisa cepat pulih."
"Terimakasih banyak Mayra, Kamu selalu memikirkan keluarga ku."
"Apa yang Kamu katakan Abay, Keluarga mu juga keluargaku."
Abay terseyum dan menggengam kedua tangan Mayra.
"Mau ku temani?"
"Apa Kamu tidak ada acara?"
"Tidak."
"Baiklah setelah dari toko buku Kita jalan."
"Kita ketemuan atau Aku harus menjemput mu?"
"Ketemu di toko buku saja."
"Apa Kamu trauma naik motor bersama ku?"
"Tidak Abay, Setelah Kamu bicara dengan kedua orang tua ku,
Aku akan sering-sering naik motor mu."
"Baiklah."
Keduanya tersenyum dan saling memandang satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1