Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Canggung


__ADS_3

Semua peserta mengambil bahan-bahan yang di perlukan dan bersiap meracik apa yang akan mereka masak.


Chef Alan yang melihat Mayra bingung dengan satu ekor ayam di hadapannya melangkah mendekatinya.


"Apa yang membuatmu bingung Mayra?"


"Aku hanya merasa bingung bagaimana cara memotong Ayam ini."


"Apa seumur hidupmu tidak pernah memegang Ayam mentah seperti ini?"


Mayra menggeleng pelan, Chef Alan menggelengkan kepalanya dan meraih tangan Mayra untuk memegang Ayam tersebut.


"Kamu harus memegangi ayam dengan tangan kirimu begini dan tangan kanan mu untuk memotong dengan pisau ini." Mayra hanya menempelkan ujung jari-jemarinya pada Ayam segar yang masih berlumuran darah itu.


"Mayra! Apa yang kamu lakukan, Jika kamu memegang seperti itu bisa-bisa jarimu yang terpotong." Chef Alan melangkah ke belakang Mayra dan meraih kedua tangannya.


"Kamu harus memegangnya seperti ini Mayra" Chef mempraktekkan bagaimana cara memotong ayam tersebut dengan posisi demikian. Mayra yang merasa risih menoleh ke samping. Namun membuat wajah mereka nyaris bertabrakan dan membuat keduanya menjadi canggung.


"Lanjutkan Mayra kamu harus potong Ayam itu seperti yang ku ajarkan barusan." tegas Chef Alan yang langsung pergi meninggalkannya.


•••


Abay yang sedang berbaring di ranjangnya merasa gelisah mengingat Mayra yang belajar memasak dengan Chef laki-laki yang masih muda dan tampan.


Sebelumnya Abay tidak pernah merasa khawatir karena cinta Mayra yang begitu besar padanya. Namun kali ini, Untuk pertama kalinya Abay merasa cemburu dan takut kehilangan istri yang dulu tak di inginkan.


"Kenapa Aku begitu merasa khawatir setelah melihat Chef itu, Bagaimana jika Chef itu menyukai Mayra?" gumamnya sembari bangkit dari ranjangnya. Kemudian Abay mengambil kunci motornya dan kembali menyusul Mayra.


•••


Semua peserta sudah selesai nenyajikan hasil masakan mereka.


Demikian juga dengan Mayra,

__ADS_1


Chef Alan mulai menyicipi satu per satu masakan mereka hingga tiba saatnya giliran Mayra.


Jantung Mayra berdegup begitu kencang, Ia memejamkan mata dengan sedikit menyipit untuk melihat Chef Alan yang mulai menyicipi masakannya.


Chef Alan mencicupi dan memejamkan sambil memegang mulut seperti menahan sesuatu.


"Bagaimana Chef?" tanya Mayra dengan tegang.


"Ini sangat asiiinnn Mayra, Uhuk... Uhuk... Uhuk..."


Melihat Chef Alan batuk-batuk Mayra merasa binung apa yang harus Ia lakukan.


"Air... Ambilkan Aku air," ucap Chef Alan dengan suara beratnya dengan memegangi lehernya.


"Cepat Mayra!"


Mayra berlari mengambil teko berisi air putih dan memberikannya pada Chef Alan.


Dengan cepat Chef Alan langsung menenggak hingga menyisakan setengah air dari teko tersebut.


"Mungkin tiga, Eh tidak, Empat atau Lima sendok Aku lupa menghitungnya." jelas Mayra sambil menggaruk-garuk tengkuk belakangnya.


"Mayra, Kenapa kamu masukan begitu banyak garam, Aku sudah memberi tau mu kasih garam secukupnya."


"Aku pikir 1 atau 2 sendok tidak cukup jadi Aku tambah dari pada kurang asin kan Chef?"


Chef Alan berdecak dan meninggalkan Mayra dengan kesal.


Mayra merasa kecewa pada dirinya sendiri, Kemudian Mayra mengambil tas kecilnya dan keluar meninggalkan kelasnya.


Di luar gedung, Mayra melihat Abay yang sudah menunggunya.


Abay langsung berlari menghampiri istri yang sejak tadi Ia rindukan.

__ADS_1


"Mayra, Bagaimana belajarmu hari ini?" tanyanya basa-basi.


"Hari ini Aku gagal Abay."


"Sudahlah Mayra, Yang namanya belajar pasti terkadang gagal terkadang berhasil, Kamu tidak perlu merasa bersedih seperti itu, Hmm?"


Mayra mengangguk, kemudian naik ke motor dan meninggalkan tempat kursus.


•••


🍃 Pagi Hari 🌻


Misty yang sedang duduk di depan kelas langsung bangun dari duduknya begitu melihat Yaz. Hal itu membuat Yaz senang dan merasa percaya diri.


"Apa kamu sedang menunggu ku?"


"T-t.. Tidak Yaz, Aku belum lama sampai dan sekarang Aku akan ke kelas."


"Kenapa terburu-buru." Yaz menarik tangan Misty hingga mereka berhadapan dari jarak yang begitu dekat. Kemudian keduanya menjadi sunyi saat netra mereka bertabrakan. Seolah mata yang mewakili apa yang tidak dapat di ucapkan oleh bibir mereka terus diam menyusuri dalamnya pandangan mereka.


"Misty..."


Misty langsung mengalihkan pandangannya begitu Yaz menyebut namanya.


"Jika ada kata yang lebih tinggi dari kata maaf dan terimakasih, Maka itulah yang akan ku ucapkan, Kamu begitu baik Misty, Kamu bisa memaafkan kesalan terbesar dalam hidupku yang Papahku saja tidak bisa melakukannya."


Misty kembali menatap Yaz.


"Maksudmu Papah mu tidak memaafkan mu?"


"Papah akan memaafkan ku jika Aku bisa membanggakan nya."


Misty terseyum dan merikan Yaz semangat untuk menjadi orang yang lebih baik dan bisa membanggakan orang tuanya.

__ADS_1


Setelah Yaz mengakui kesalahannya di depan semua orang, Membuat Misty tenang dan tidak lagi menyimpan dendam padanya.


Bersambung...


__ADS_2