
"Ayolah Mayra Aku tidak mau membuang waktu lagi, Ini sudah lebih dari dua minggu tapi Aku belum bisa juga bertemu degan Chef itu."
"Apa kamu begitu menyukainya Abay?"
"Apa yang kamu katakan Mayra, Aku masih waras."
Mayra tertawa menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kamu begitu terobsesi dengannya?"
"Aku hanya ingin menemuinya dan mengatakan kalau Mayra Anindia Rhys adalah istri Athariz Bayhaqi."
"Kenapa kamu begitu khawatir Abay, Kurang dari satu bulan kelas memasak ku akan berakhir."
"Jangankan satu bulan Mayra, Satu haripun Aku tidak akan memberinya kesempatan mendekati mu." Abay merapatkan tubuhnya dan menatap tajam sang istri.
Mayra tertawa dan mendorong tubuh Abay menjauh darinya.
"Kita berangkat." Mayra melangkah mendahului Abay.
Kemudian Abay mengikutinya di belakang.
•••
Tak sampai tiga puluh menit mereka sampai di gedung kursus.
Suasana masih nampak sepi dan hanya terlihat beberapa peserta yang baru datang.
"Kita terlalu awal berangkat Abay."
"Biarkan saja Mayra jika Chef itu yang sampai duluan Dia tidak mau keluar lagi menemui ku."
Mayra hanya tertawa menggelengkan kepalanya.
"Kenapa Chef itu teguh sekali dengan pendiriannya, Jika dia sudah masuk kelas, Dia tidak mau lg keluar menemui siapapun, Bahkan waktu dia pulang pun dia tidak mau di ganggu,"
"Dia mengatakan waktunya sangat berharga, Dia tidak mau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting."
"Jadi dia menganggapku tidak penting?"
"Entahlah Abay, Tapi dia mengatakan jika sudah ada waktu luang pasti akan menemuimu."
"Apa kamu mengatakan kalau suamimu ingin menemuinya?"
"Kamu bilang ingin mengatakannya sendiri, Jadi Aku hanya mengatakan Ada seseorang yg ingin bertemu denganya"
"Ya baiklah biar Aku saja yang mengatakannya."
Karena Chef Alan yang tidak juga datang, Abay mengambil kesempatan dengan meraih pinggang sang istri merapat kepadanya.
Mayra yang terkejut langsung memukul lengan Abay dan melihat area sekitarnya.
"Abay kenapa selalu tidak melihat tempat dan situasi." protes Mayra.
"Mau bagaimana lagi Mayra, Tempat yang aman untuk kita tidak memberikan waktu untuk kita bersama." dengan gemas Abay mencubit Mayra. Kemudian keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Mayra yang menjadi malu.
"Apa Aku tidak boleh menatap istriku?" Abay mengusap pipi Mayra dengan lembut, Mayra memejamkan mata dan mengecup tangan Abay yang sedang dipipinya.
"Ehem!"
Mayra dan Abay tersentak dan melihat kearah suara.
"E... Chef," ucap Mayra gugup.
"Beeberapa hari ini kamu bilang ada yang ingin nenemuiku, Siapa?" tanya Chef Alan sambil melirik Abay.
__ADS_1
"E... Ini Chef," Mayra menunjuk Abay. Kemudian Abay beejalan mendekati Chef Alan yang menatapnya dingin.
"Athariz Bayhaqi, Suami dari Mayra Anindia Rhys," ucap Abay mengulurkan tangannya.
Chef Alan terdiam mematung mendengar apa yang Abay katakan.
"Apa Anda baik-baik saja?" tanya Abay mengagetkan Chef Alan.
"Ya, Tentu." ucapnya dingin.
"Syukurlah, Aku fikir Anda terkena serangan struk!" ejek Abay.
"Tadi kamu bilang Mayra istri mu?"
"Ya, Mayra istri ku dan Aku suaminya, Aku sangat mencintainya."
"Untuk apa kamu mengatakan ini padaku? Katakan itu kepada Mayra." dengan dingin Chef Alan pergi meninggalkan Abay.
"Eeeehhh... Chef, Kita belum berkenalan, Anda belum mengatakan nama Anda
Chef Alan tidak menghiraukan Abay dan terus masuk kedalam.
"Kenapa dengannya, Apa Dia marah? Apa ini artinya kehawatiran ku selama ini benar?" batin Abay.
"Abay apa yang kamu katakan padanya, Lihatlah Chef Alan terlihat kesal."
"Apa Mayra? Bahkan Aku belum mengatakan apapun Dia sudah pergi meninggalkan ku."
Mayra terdiam melihat ke pintu gedung.
"Aku rasa dugaanku benar Mayra, Dia itu menyukaimu, Dia terlihat sangat terkejut saat aku mengatakan Aku suamimu dan kamu lihat sikapnya sekarang?"
"Mungkin kamu salah mengartikan Abay."
"Apanya yang salah Mayra, Bahkan Dia pergi tanpa mau memberi tahu namanya, Jika bukan marah, Apa itu Mayra?"
"Mayra Aku semakin tidak bisa tenang setelah melihat Chef bersikap seperti itu,"
"Abay..."
"Mayra kamu bisa berhenti kapanpun dari sini, Kamu tidak perlu menyelesaikan kelas memasakmu, Lagi pula masakanmu sekarag sudah cukup enak."
"Apa yang kamu katakan Abay, Aku..."
"Mayra!!!" triak Chef Alan dari depan pintu gedung.
Mayra langsung berjalan neninggalkan Abay, Namun Abay menghentikan dengan memegang tangannya.
"Abay Aku harus masuk sekarang."
"Aku tidak suka dengan nya Mayra!"
"Ayolah Abay..."
"Mayra kamu sudah membuang waktumu 10 menit, Cepat masuk atau kemasi barangmu"
Mayra yang mendengarnya menghempaskan tangan Abay dan berlari masuk kedalam. Chef Alam menatap Abay sinis dan mengikuti Mayra masuk.
Melihat sikap Chef Alan yang demikian, Abay tidak pulang seperti biasanya dan memutuskan untuk menunggunya di luar.
Sementara di dalam, Mayra melihat Chef Alan lebih banyak diam daripada marah-marah seperti biasanya.
"Apa kamu sudah selesai mengerjakan tugasmu, Sampai kamu terus melihatku seperti itu?" tanya Chef Alan yang melihat Mayra terus memperhatikannya.
"M-m-maafkan Aku Chef." Mayra yang kaget menjadi panik hingga hari tangannya teriris pisau.
"Awh!" ringis Mayra.
__ADS_1
"Mayra!" Chef meraih tangan Mayra dan mengh'sap jari telunjuk Mayra untuk menghentikan darahnya.
"Apa yang kamu lakukan Mayra kenapa kamu terus saja melamun? Lihatlah jarimu jadi teriris pisau seperti ini!"
Mayra menarik tangannya yang masih di genggaman tangan Chef hingga membuat Chef tersadar dan langsung pergi meninggalkan Mayra.
Mayra melihat punggung Chef Alan dan mengingat apa yang Abay khawatirkan.
•••
Misty yang sedang tidur dikamarnya sayup-sayup mendengar ponselnya berbunyi. Perlahan ia membuka mata dan meraih ponselnya.
"Hallo..." ucap Misty dengan suara yang masih mengantuk.
"Keluarlah Misty."
"Hah!"
"Keluarlah sekarang atau mau Aku yg masuk ke kamar mu."
Misty terlonjak dan langsung berlari membuka tirai jendelanya.
"Yaz.." Misty terkejut nelihat Yaz berdiri di luar kamarnya.
Yaz tersenyum dan melambaikan tangannya.
Misty menggelengkan kepala dan berlari keluar menemuinya.
"Apa yang kamu lakukan disini Yaz?"
"Maafkan Aku Misty, Aku sudah tidak sabar lagi menunggu hari esok."
"Apa yang begitu penting Yaz?"
"Mungkin ini tidak penting bagimu Misty, Tapi menurutku ini sangat penting."
Misty terus menatap Yaz untuk mendengar apa yang akan di katakannya.
"Misty, Papah ku telah memaafkan ku dan ini semua berkat dirimu."
"Aku tidak melakukan apapun Yaz, Semua hasil kerja kerasmu sendiri."
"Tapi kamu yang memberiku semangat." Yaz meraih tangan kanan Misty hingga membuatnya tegang.
"Tenanglah Misty," kemudian Yaz kembali meraih tangan kiri Misty hingga kedua tangan Misty kini berada dalam genggamannya.
"Misty, Aku tidak tau bagaimana mengatakannya padamu,
Aku juga tidak tau apakah Aku pantas untukmu atau tidak, Tapi perlu kamu tau, Aku mencintaimu."
Misty terpaku menatap Yaz.
"Ya Misty, Aku Sudah tertarik padamu jauh sebelum kejadian itu"
Misty langsung melepaskan tangannya dan melangkah membelakangi Yaz.
"Kamu tertarik padaku lalu kamu melakukan itu padaku?
Tidak bisakah km melakukan hal yang baik untuk membuatku menyukaimu?" tanya Misty yang menjadi emosional.
"Aku tau Aku salah Misty, Aku tidak berfikir panjang saat itu dan kini Aku benar-bebar menyesalinya."
Misty menatap Yaz sesaat dan kembali memalingkan wajahnya.
"Pulanglah Yaz ini sudah malam." Misty langsung meninggalkan Yaz tanpa memberikan jawaban apapun.
Bersambung...
__ADS_1