
Mayra begitu khawatir melihat Abay yang tengah di periksa oleh Dokter. Dengan duduk di samping Abay, Mayra tidak melepaskan genggaman tangannya.
"Bagaimana keadaan suami saya Dokter?"
"Jangan khawatir Nona, Suami Anda hanya kekurangan cairan akibat terus menerus buang air, Makanya badan terasa lesu dan lemas, Perbanyak minum air putih dan istirahat yang cukup dan ini resep yang harus Anda berikan untuknya.'
"Terimakasih Dokter."
"Sama-sama, Kalau begitu Saya permisi."
Mayra mengantar sampai pintu dan kembali menatap Abay yang terbaring lemas.
Mayra terus menangis menyesali apa yang terjadi pada suaminya.
"Mayra, Jangan menangis terus, Aku tidak apa-apa."
"Ini terjadi karena ku, Hiks hiks hiks."
"Aku hanya perlu istirahat Mayra, Kemarilah."
Dengan air mata yang masih tersisa di pipinya, Mayra mendekatkan wajahnya.
"Lebih dekat lagi."
Mayra lebih mendekatkan lagi wajahnya.
"Hmmm..." Abay menaikan kedua alisnya dan menunjuk pipi Mayra dengan lemah.
Mayra mengarahkan pipinya ke arah Abay sesuai permintaannya.
"Cup..." Abay mengecup pipi Mayra dan mengusap air matanya.
Mayra terseyum haru dan kembali duduk di sisi Abay.
Perlahan Abay memejamkan mata dan tertidur.
Mayra keluar dari kamar dan melihat Misty yg baru pulang dari sekolah dengan wajah yang terlipat.
"Misty apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja Kak."
"Lalu kenapa Kamu terlihat sedih?"
"Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan, Yaz bilang ingin memperbaiki diri dan menyuruh ku melupakan apa yang sudah berjadi."
"Iu bagus Misty, Itu tandanya Dia sudah menyesali perbuatannya."
"Tapi Aku tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi padaku."
__ADS_1
"Kakak tau itu tidak mudah, Tapi jika Kamu mau berdamai dengan keadaan, Mungkin semua akan lebih mudah untukmu."
"Entahlah, Aku belum bisa melakukannya."
"Baiklah, Lakukanlah yang menurutmu baik, Kakak hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mu."
Misty mengangguk dan pergi.
"Andai saja waktu kejadian kamu langsung mengatakan pada Kakak, Tentu Kakak akan menuntut keadilan untuk mu, Sekarang kejadiannya sudah berbulan-bulan, Polisi akan meragukan kasus ini, Terlebih lagi kalian tidak memiliki bukti dan saksi, Serta lawan yang memiliki kedudukan, Ini akan mempersulit posisimu sebagai korban." batin Mayra melihat Misty masuk ke kamarnya.
Mam Hari š
Mayra baru pulang membeli makanan untuk semua keluarga. Kemudian Mayra menyajikannya di meja makan. Setelah semuanya siap, Mayra memanggil semua orang untuk makan malam.p
"Mayra, Kamu yang masak semua ini?' tanya Ibu.
"E.. Sebenarnya bukan Aku yang memasak Ibu, Aku tidak sempat memasak karna Abay sedang kurang sehat."
"Abay sakit? Sakit apa, Bukannya tadi pagi dia baik-baik saja?"
"Ya, Abay baru merasa tidak enak badan sore hari."
"Baiklah Ibu akan melihatnya."
"Tidak-Tidak."
"Ada apa Mayra?"
"Oh begitu, Baiklah... Mari Kita mulai makan."
"Aku nanti saja Ibu, Bareng sama Abay."
"Ya Baiklah."
Mayra meninggalkan meja makan dan pergi ke kamar Abay.
Mayra membuka pintu dan tidak bisa melihat apapun karena kamar yang begitu gelap.
"Apa sejak sore Abay belum bangun sampai tidak menyalakan lampunya?" batin Mayra.
Kemudian Mayra meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.
"Dimana saklar lampunya?" Mayra terus mencari-cari saklar lampu namun tidak juga menemukannya.
Karena tidak bisa melihat Mayra menabrak meja hingga membuatnya hampir terjatuh.
"Aww..."
Dengan sigap Abay menangkap Mayra dan menyalakan korek api di antara wajah Mereka. Kini cahaya korek api itu menerangi wajah Mereka berdua dan membuat keduanya saling menatap dalam keheningan malam.
__ADS_1
"Aw!" Abay merasa kepanasan langsung melempar korek tersebut hingga Mereka kembali dalam kegelapan.
"Abay apa kamu tidak papa, Kenapa Kamu bangun?"
"Bagaimana Aku tidak bangun Mayra, Kamu berjalan dalam kegelapan seperti ini."
"Aku tidak tau di mana saklar lampunya Abay."
"Ya Aku tau, Makanya Aku bangun membantumu, Sekarang kamu tunggu disini, Biar Aku yang menyalakan lampunya."
Namun baru dua langkah Abay tersandung meja yang sama dan menabrak Mayra hingga keduanya jatuh ke lantai.
"Aww, Apa yang kamu lakukan Abay?"
"Mana Aku tau Mayra, Aku tidak melihat apapun."
"Lagian kenapa koreknya di buang?"
"Aku tidak sengaja membuangnya,"
"Sekarang bangun lah, Tubuhmu berat sekali." Mayra mendorong tubuh Abay dari atas tubuhnya.
Namun Abay tidak mau bangun dan hanya memutar posisinya dan membuat Mayra berada di atasnya.
"Kalau begini tidak berat kan?"
"Abay bangunlah, Ini gelap sekali."
"Kenapa terburu-buru, Sepertinya dalam kegelapan lebih romantis,"
"Abay berhentilah menggoda ku, Aku merasa sesak dalam kegelapan seperti ini."
"Ya baiklah." Abay bangun dan mencari saklar lampu dan tidak butuh waktu lama Abay menemukan dan menyalakannya.
Abay yang melihat Mayra masih terduduk di lantai melangkah mendekatinya.
Tanpa mengatakan apapun lagi Abay membopong tubuh Mayra dan membaringkannya di ranjang.
"Apa Kamu sudah lebih baik?"
"Aku sudah tidak papa Sayang." Abay mencubit pipi Mayra dengan gemas.
"Lain kali jangan lakukan itu Abay."
"Baiklah Aku tidak akan melakukan itu, Tapi Aku harus melakukan ini."
Abay langsung mengecup bibir Mayra.
Mayra tersipu malu dan memeluk Abay hingga wajah suaminya terjatuh di ceruk lehernya.
__ADS_1
Bersambung...