
Mayra terus berfikir bagaimana cara mengerjakan perintah Ibu mertuanya sedangkan nama bumbu dan kegunaannya saja Dia tidak tau. Di saat pikirannya mulai putus asa, Mayra teringat akan sesuatu di ponselnya.
"Ya, Di ponsel kan banyak resep dan cara memasak," ucap Mayra yang langsung bergegas mengambil ponsel di kamarnya.
Dengan jalan mengendap-endap agar tidak di ketahui Ibu mertuanya Mayra terus bersembunyi dari satu kursi ke kursi lainnya.
Sesampai di kamar, Mayra mengambil ponselnya dan segera berlari kembali ke dapur.
Kemudian Mayra membuka ponselnya dan membuka berbagai resep masakan.
Melihat ada ayam di depannya, Mayra memutuskan untuk membuat kari ayam sesuai resep yang Ia lihat. Namun ketidak tahuannya cara membedakan bumbu, Mayra hanya memasukan yang di rasanya sama dengan apa yang Ia lihat.
Abay keluar dari kamar dan tidak melihat siapapun, Abay pun menuju dapur dan melihat Mayra di bibir pintu.
Abay terseyum melihat Mayra yang terlihat kebingungan kesana kemari.
"Kemudian ketumbar dan merica, Nah ini gampang gak perlu takut ketukar" ucapnya terkekeh sendiri.
Kemudian Mayra mulai mengulek bumbu-bumbu yang sudah ia siapkan.
Mayra mengulek dengan cara memukul dengan kasar sampai bawang, ketumbar dan bumbu lainnya berhamburan kemana-mana.
Abay yang masih melihatnya terus tertawa dibuatnya.
"Gimana inii.." rengeknya sedih.
Mayra kembali memunguti dan mencoba kembali mengulek.
dengan bercucuran air mata karena pedihnya bawang merah akhirnya Mayra menyelesaikannya meskipun masih sangat kasar.
"Ahh sudahlah, Aku rasa ini sudah cukup." batinnya.
Mayra bersiap menumis semua bumbu yang sudah Ia siapkan. Kemudian memasukan Ayam dan santan cair.
"Setelah itu jintan, Bahkan Aku tidak tau bentuknya seperti apa," Mayra menggaruk-garuk kepalanya.
Abay yang terus memperhatikannya tertawa menggelengkan kepalanya.
"Baiklah Aku akan buka google seperti apa bentuk dan rupa jintan itu."
Setelah membuka google Mayra kembali membelalakkan matanya.
"Hah! Ini bukannya padi? Tapi dari keterangan ini benar jintan, Kalau dari video ini boleh pake jintan bubuk, Baiklah lebih baik yang bubuk saja."
Mayra melihat semua kotak bumbu yang bentuknya sama tanpa di beri nama. Mayra mencium satu persatu bumbu bubuk tersebut, Tapi itu percuma karena Mayra tidak bisa mengetahui bumbu-bumbu tersebut meskipun Dia bisa membedakan baunya.
"Yang mana ya, Ini kali ya, Ahh bodo amat lah." Mayra memilih kotak yang di rasanya benar dan menambahkan ke masakannya.
__ADS_1
Sambil menunggu masakannya matang, Mayra kembali menyiapkan menu pendamping dengan berjongkok di lantai meracik bahan-bahan yang di perlukan.
Abay yang melihat air kari meluap segera berlari ke dalam.
"Mayra awas!" Abay segera mematikan kompornya.
"Kenapa duduk di bawah Mayra, Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu?" Abay memeluk Mayra yang masih terduduk di lantai.
Mayra merasa sedih melihat masakannya yang meluap berantakan.
"Sekarang bangunlah Mayra." titah Abay
"Lalu bagaimana dengan masakan ku?"
"Tenanglah Mayra ini masih banyanyak, santan kental juga belum di masukan, Sekarang biar Aku yang menyalakan kompornya dan kamu masukan santan kentalnya."
Mayra mengangguk dan memasukan santan kentalnya.
Sedangkan Abay yang masih merasa khawatir menunggu Mayra selesai memasak.
•••
Setelah selesai, Mayra menyajikan di meja makan.
Abay terseyum karena untuk pertama kalinya Mayra memasak untuk dirinya.
"Ibu kok belum pulang, Tadi bilangnya cuma ada urusan sebentar." ucap Mayra.
Mayra terseyum bahagia dan menunggu Abay mencobanya.
Abay mulai melahapnya dan langsung menghentikan kunyahan nya saat merasakan rasa kari yang terasa begitu aneh.
"Ada apa Abay, Apa kamu tidak suka?"
"Emmmm... Suka, Suka banget malah," tidak mau membuat Mayra sedih, Dengan lahap Abay memakannya meskipun terasa Ia ingin muntah.
Mayra terseyum bahagia dan ingin mencoba masakannya sendiri.
Namun Abay segera menghentikan dan merebutnya.
"Abay..."
"Aku masih kurang Mayra, Berikan padaku." Abay kembali melahapnya agar Mayra tidak mengetahui bagaimana rasa yang sebenarnya.
"Abay, Kamu menghabiskan masakan Mayra sendiri tanpa menyisakan sedikit pun untuk Ibu?" tanya Ibu yang baru datang.
"Hoh! Syukurlah Ibu pulang masakannya sudah habis." batin Abay.
__ADS_1
"Abay!"
"E-e Maaf Ibu, Ini enak sekali jadi Aku lupa kalau Ibu sudah makan, Kalau begitu Aku ke kamar mandi dulu."
Ibu mengernyitkan keningnya.
Sedangkan Mayra yang merasa curiga pergi ke dapur dan melihat masih ada sedikit kuah kari di panci atas kompor, Mayra yang begitu penasaran mencicipinya.
"Uweeekk, Rasa apa ini, Ini tidak enak sama sekali ini juga pedas sekali."
Mayra segera menenggak air putih untuk meredakan rasa pedasnya.
"Lalu Abay?" Mayra berlari kekamar namun tidak menemukannya. Kemudian Mayra mencari Abay di kamar mandi dan mendengar Abay sedang muntah-muntah.
Dengan sedih dan rasa bersalah Mayra mendekatkan telinganya ke pintu.
"Abay...Tok... Tok...Tok..."
Abay membukakan pintu untuk Mayra mencoba menyembunyikan rasa sakit perut dan mualnya.
"Abay kenapa Kamu lakukan ini, Kenapa kamu memakan semua masakan ku?"
"Uweeek..."
Abay tidak bisa lagi menyembunyikan dan kembali muntah-muntah.
Kemudian Abay membasuh wajahnya berkali-kali dan mengeringkannya dengan handuk.
Mayra menangis melihat keadaan Abay.
Abay mendekati Mayra dan mengusap air matanya.
"Abay kenapa kamu memakannya, Kenapa kamu tidak bilang jika masakan ku tidak enak?"
"Karena Aku tidak ingin merasa sedih." Abay menangkup wajah Mayra dan mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
"Tapi pada akhirnya Kamu membuatku sedih dengan keadaanmu yg seperti ini."
"Tidak masalah Mayra, Aku rela melakukannya."
"Maafkan Aku Abay, Aku memang tidak bisa melakukan apapun."
"Kata siapa kamu tidak bisa melakukan apapun, Nyatanya kamu bisa meluluhkan hatiku."
Mayra yang tersipu malu menyembunyikan wajahnya di pelukan Abay.
Abay tersenyum melepaskan pelukannya dan menatap wajah Mayra.
__ADS_1
Kemudian Abay menggendongnya keluar dari kamar mandi menuju kamarnya.
Bersambung...