Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Semakin Jatuh Cinta


__ADS_3

Suasana canggung antara Abay dan Mayra mencair ketika ponsel milik Mayra berdering.


Abay langsung menoleh ke luar jendela sementara Mayra mengangkat ponselnya.


"Hallo Ayah."


"Sayang kalian dimana, Ayah sudah menunggu kalian di kampus."


"E-e... Sebentar lagi Kita sampai." ucap Mayra sembari melihat ke ujung jalan.


"Baiklah, Kalau kalian sampai langsung ke ruang pendaftaran."


"Baik Ayah."


Begitu panggilan berakhir, Mereka kembali saling melirik satu sama lain, Kemudian Mereka kembali mengalihkan pandanganya ketika mata Mereka kembali bertemu.


Tidak lama kemudian Mereka pun sampai di kampus.


Supir bergegas membukakan pintu mobil untuk Mayra, Di susul oleh Abay, Kemudian Mereka berjalan berdampingan masuk.


Sesuai permintaan Ayahnya, Mayra langsung menuju ruang pendaftaran.


"Ayah...."


"Sayang..."


"Selamat siang Om."


"Siang Abay.


"Ayo Kita masuk." ajak Ayah pada Mayra dan Abay untuk mendaftar.


Setelah selesai mendaftar Ravindra meminta izin untuk kembali ke kantor dan meninggalkan Mereka berdua.


Kini keduanya menatap satu sama lain dan membuat Mayra sedikit canggung.


"E-e... Bisa Kita makan dulu sebelum pulang?" tanya Mayra.


"Terserah Kamu saja."


"Baiklah kalau begitu, Ayo..."


Abay mengangguk dan mengikuti Mayra ke mobilnya.


Setelah perjalanan sekitar 1 kilometer, Supir menghentikan mobilnya di sebuah restoran Jepang yang menjadi favorit Majikannya.


Mereka langsung turun dan berjalan beriringan ke dalam restoran tersebut. Kemudian memilih tempat duduk yang paling nyaman dan mulai memilih menu yang pelayan berikan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Mayra.


"Apa saja."

__ADS_1


"Baiklah."


Mayra pun memilih menu favoritnya yakni Sukiyaki dan untuk Abay Mayra memesankan Gyudon dan untuk minuman Mayra memesan Mugicha dan Iced Green Tea.


Untuk menghilangkan kejenuhan menunggu pesanan datang, Mayra pun membuka pembicaraan agar suasana tidak menjadi canggung.


"Abay besok kalau kuliah sudah di mulai, Kamu tidak perlu lagi pake motor mu, Supir ku akan mengantar jemput dirimu."


"Itu tidak perlu Mayra, Aku sudah terbiasa menggunakan motor butut ku."


"Jangan tersinggung Abay, Aku hanya ingin mempermudah dirimu agar tidak terkena panas maupun hujan.'


"Mudah menurutmu, Karena Kamu tidak pernah naik motor, Tapi aku yang sudah terbiasa naik motor, Baik hujan maupun panas tidak menjadi masalah besar untuk ku."


Mayra terdiam dan tak tau harus bicara apa lagi.


Setelah menunggu waktu kurang dari tiga puluh menit akhirnya pesanan Mereka pun datang.


Mereka mulai menyantap makanan panas yang tersaji di depan Mereka.


Setelah diam cukup lama, Kini giliran Abay yang membuka pembicaraan.


"Kenapa Kamu begitu mencintaiku?"


Mayra yang tengah mengunyah makanan langsung tersedak dibuatnya.


"Uhuk... Uhuk..."


"Kamu tidak papa?" tanya Abay mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya begitu dekat dengan Mayra.


Mayra mematung menatap wajah tampan Abay dari jarak yang sangat dekat.


"Mayra, Apa kamu baik-baik saja?"


"Hagh!" Mayra tersentak dan menganggukkan kepalanya.


"Aku tidak papa, Terimakasih."


Abay mengangguk dan kembali ke tempat duduknya.


Setelah menghabiskan makan siang, Mereka meninggalkan restoran dan kembali ke rumah Abay.


Abay yang akan turun kembali menoleh ke arah Mayra.


"Apa Kamu mau turun?"


"Tidak Abay, Sampaikan saja salam ku pada Ibu dan Adik-adik mu."


"Baiklah, gTerimakasih untuk hari ini."


Mayra mengangguk dan meninggalkan Mayra.

__ADS_1


Mayra terus menatap punggung tegap Abay yang terus melangkah hingga memasuki rumahnya.


"Jalan Pak." ucap Mayra pada Pak Supir.


"Baik Non."


Di dalam rumah, Abay langsung menemui Ibunya dengan senyum bahagia.


"Bagaimana Nak?"


"Semua berjalan baik Bu, Aku di terima di salah satu kampus terbaik."


"Selamat untuk mu Nak, Semoga cita-cita mu tercapai."


Abay menganggukkan kepala dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ibunya.


"Mayra bukan hanya cantik, Tapi Dia juga sangat baik, Padahal Dia putri tunggal dari konglomerat, Tapi Dia begitu rendah hati, Tidak sombong dan yang paling Ibu kagum Dia tidak melihat drajat dan setatus Kita, Kamu benar-benar beruntung di cintai oleh Mayra."


Abay mengangkat kepala dari pangkuan Ibunya dan mengalihkan pembicaraan.


"Kemana Rayyan dan Misty?"


"Rayyan tadi bilang mau kerumah temenya, Sedangkan Misty sedang dikamarnya."


"Baiklah Ibu Aku istirahat dulu."


•••


Mayra telah sampai rumah.


Dengan berlari bahagia Mayra langsung memeluk Ibunya dari belakang.


"Hey! Bagaimana hari mu Sayang?"


"Hari ini hari yang saaangaaattt menyenangkan," Mayra terus mempererat pelukan pada Ibunya sembari membenamkan dagunya di pundak sang Ibu.


"Oh ya.. Ceritakan pada Ibu apa yang terjadi, Sampai putri Ibu begitu bahagia seperti ini."


Mayra pun teringat saat di mobil saat Abay memegang kedua lengannya, Kemudian saat di restoran saat wajah Mereka menjadi begitu dekat. Mayra kembali senyum-senyum sendiri membayangkan akan hal itu.


"Hey! Ibu sedang bertanya, Kenapa Kamu malah senyum-senyum sendiri?"


"Tidak ada Ibu." Mayra memutar tubuhnya dan membelakangi Ibunya.


Sengaja ingin menggoda Mayra, Ibu pun berusaha melihat wajah Mayra dengan berjalan ke depannya. Namun belum sempat Ibu menatap Mayra, Mayra langsung berlari kekamar dengan senyum malu-malu nya.


"Mayra Sayang... Ibu sedang bertanya padamu." pekik Ibu sambil tersenyum menggelengkan kepalanya.


Mayra masuk kekamar dan menutup pintu dengan rapat, Kemudian menyandarkan tubuhnya di balik pintu dan memegang dadanya yang debarannya semakin cepat Ia rasakan.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2