Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Suami Yang Ku Beli


__ADS_3

"Saudara... Athariz Bayhaqi," ucap Penghulu sembari membaca lembaran kertas yang ada di tangannya.


"Ya."


"Apa mas kawinnya sudah di siapkan?" Penghulu mengulangi pertanyaannya.


"Sudah." Abay melepaskan cincin yang ada di jari manisnya dan meletakkannya di depan Pak Penghulu.


Pak Penghulu melihat cincin yang mengkombinasikan carbon fiber dan tungsten yang memberikan kesan elegan dan modern.


"Itu bukan cincin mahal, Harganya hanya Rp.570.000 tapi Saya beli dari hasil memberikan les private seminggu yang lalu." jelas Abay.


Mayra menatap Abay dengan haru, Ia tidak tau ternyata di sela-sela kuliahnya Abay juga menjadi guru les tanpa sepengetahuannya.


"Apa cincin seperti itu di perbolehkan?" celetuk salah satu tamu undangan.


Abay dan seluruh kedua keluarga terdiam menatap Wanita yang bertanya demikian.


"Diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi ra, Rasulullah bersabda: “Carilah sesuatu (mahar) cincin sekalipun terbuat dari besi. Jika tidak mendapati, mahar berupa surat-surat al-Qur’an yang engkau hafal.” (HR Bukhari No.1587)


"Jadi jelas, Cincin terbuat dari besi saja boleh, Apa lagi cincin ini yang harganya melebihi 1gr emas 22 karat." jelas Pak penghulu.


Abay bernafas lega, Meskipun cincin itu niyatnya untuk di pake sendiri. Namun Ia tidak memiliki apapun lagi untuk di jadikan mas kawin.


"Kalau begitu bisa kita mulai ijab nya?" tanya Ravindra.


"Tentu." saut Penghulu.


Ravindra pun duduk di sebelah pak penghulu dan menikahkan secara langsung Putri kesayangannya dengan menjabat tangan Abay.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Athariz Bayhaqi bin Ahmad Bayhaqi dengan anak Saya yang bernama Mayra Anindia Rhys dengan maskawin berupa cincin seharga Rp.570.000 tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya May... Mayra..." Abay menghentikan ucapannya ketika terbesit Nandini dalam fikirannya.


""Fokuslah Mas Athariz," ucap penghulu.


"Maafkan Aku."


Ravindra menahan kekesalannya sedangkan Mayra menatap Abay dengan tegang.


"Silahkan di hafalkan dulu, Nama calon istri dan Ayahnya," ucap penghulu.


Abay menganggukkan kepalanya dan memejamkan mata menghafalkan nama Mayra dan Ayahnya.


"Sudah siap?" tanya Pak Penghulu.


"Ya."

__ADS_1


"Silahkan di ulang lagi Tuan Ravindra."


Dengan menarik nafas panjang, Ravindra mengulang lafal ijabnya.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Athariz Bayhaqi bin Ahmad Bayhaqi dengan anak Saya yang bernama Mayra Anindia Rhys dengan maskawin berupa cincin seharga Rp.570.000 tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mayra binti Ravindra Rhys dengan maskawin...."


"Ucapkan nama lengkap calon istri Mas." ucap Pak Penghulu yang di iringi tawa para tamu.


Abay terseyum masam melihat sekelilingnya.


"Kita ulangi sekali lagi ya, Harus benar-benar fokus, Ini sudah ke tiga kalinya." tegas Pak Penghulu.


"Nak, Ibu mohon fokuslah, Hentikan ketegangan ini." bisik Ibu.


Abay menganggukkan kepala dan menatap tegang calon Ayah mertuanya yang terlihat seperti ingin menerkamnya.


"Silahkan di ulangi Tuan Ravindra."


Ravindra mengangguk dan mengulang untuk ke tiga kalinya.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Athariz Bayhaqi bin Ahmad Bayhaqi dengan anak kandung Saya yang bernama Mayra Anindia Rhys dengan maskawin berupa cincin seharga Rp.570.000 tunai."


"Saya terima nikahnya dan kawinnya Mayra Anindia Rhys binti Ravindra Rhys dengan maskawin cincin seharga Rp.570.000 di bayar tunai."


"Sah?"


"Alhamdulillah..." Semua orang bisa bernafas lega setelah Abay mengucapkannya dengan lancar.


Penghulu pun menutup ijab dengan Do'a kemudian menyuruh Abay dan Mayra menandatangani buku nikah. Di teruskan dengan serah terima mas kawin.


Abay memasangkan cincin di jari manis Mayra, Namun ukuran jari Abay tentu akan sangat longgar jika di pakai oleh Mayra, Dengan senyum manisnya tanpa ada rasa kecewa, Mayra mengarahkan Abay untuk memasukan cincin ke jari telunjuknya.


Abay menatap Mayra sekilas yang tetap menerimanya dengan senang hati meskipun Abay tau harga segitu tidak ada artinya bagi Mayra.


Dengan penuh hormat Mayra mencium tangan Abay untuk pertama kalinya.


"Kepala Istrinya di usap Mas." cletuk Pak Penghulu.


Abay terseyum tipis dan mengusap kepala Mayra.


"Alhamdulillah, Dengan ini kalian sudah resmi menjadi suami istri, Semoga menjadi pasangan sakinah mawadah dan warahmah, Sehidup sesurga." ucap Penghulu.


"Aamiin." saut yang lain.


"Baiklah kalau begitu, Silahkan di lanjut rangkaian acaranya ini sudah sangat larut, Saya izin pulang dulu,"

__ADS_1


"Baiklah, Terimakasih banyak, Terimakasih sudah sabar menunggu," ucap Ravindra.


Ravindra mengantar Pak Penghulu hingga ke depan pintu.


Sementara Mayra memeluk Ibunya dengan haru, Kemudian memeluk Ibu mertuanya dan ke-dua Adik Abay.


Abay pun menjabat tangan Ibu mertuanya dan menciumnya dengan hormat.


"Semoga bahagia, Jagalah Putri ku dengan baik," ucap Devika.


Abay mengangguk pelan dan memeluk Ibunya menumpahkan kesedihannya di bahunya.


"Berbahagialah Nak, Jadilah suami yang baik dan bertanggung jawab." ucap Maysarah dengan mengusap-usap kepala Putranya.


Abay melepaskan pelukannya dan melihat Ayah mertuanya yang telah menatapnya dengan tajam.


"Berbahagialah dan jangan pernah berani menyakiti Putri kesayanganku, Jika Kau berani melakukannya maka Kau akan membayar setiap tetes air mata yang keluar dari mata Putri ku." bisik Ravindra sembari memeluk Abay.


Tepuk tangan orang-orang mengagetkan Ravindra dan melepaskan pelukannya pada Abay.


Abay hanya menatap Ayah mertuanya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


Para tamu mulai mendekati ke ke-dua mempelai untuk memberikan ucapan selamat, Setelah itu Mereka silih berganti meninggalkan kediaman Ravindra.


Setelah para tamu pergi, Misty dan Rayyan berlari ke arah Abay.


"Selamat untuk mu Bang." ucap Misty.


"Bang Bay buat kami khawatir saja, Hampir saja pernikahannya batal." sambung Rayyan.


"Maafkan Bang Bay," ucap Abay memeluk kedua Adiknya.


Ravindra kembali mendekati Abay dengan kesal.


"Apa Kau sengaja Ingin mempermainkan Kami?'


Belum sempat Abay menjawab Mayra langsung menengahi.


"Sudahlah Ayah, Ini sudah larut malam, Semua orang sudah merasa lelah, Begitulah dengan ku."


"Baiklah Sayang, Maafkan Ayah, Sekarang kamu istirahatlah."


Mayra langsung menarik tangan Abay untuk ikut bersamanya.


Kemudian Ravindra mendekati Maysarah.


"Aku tau setelah menikah Anak gadis harus ikut ke rumah Ibu mertuanya, Tapi Putri ku tidak akan kemanapun, Abay masih tidak bisa di percaya, Dia belum bisa bertanggung jawab, Maka dari itu, Abay harus tetap disini agar Aku bisa terus mengawasinya."

__ADS_1


"Terserah Tuan saja, Sekarang Abay juga Putra Anda," tegas Maysarah yang membuat Ravindra terdiam. Kemudian Maysarah dan rombongan meminta izin untuk pulang dan meninggalkan Abaz sebagai menantu Ravindra Rhys.


Bersambung...


__ADS_2