
Abay memepet Mayra dinding danemperkuat cengkraman tangannya pada kedua pipi Mayra sampai bibirnya mengerucut.
"Berrraninya Kau menghina Nandu ku!"
"Mmm... Mmm..." Mayra yang tidak dapat bicara hanya bisa menggerakkan kepalanya mencoba lepas dari cengkraman Abay.
"Kamu mengatakan Nandini Wanita yang tidak punya harga diri sedangkan Kamu sendiri juga tidak bisa berhenti mengejarku, Lalu apa sebutan yang pantas untuk mu Hah!"
"Mmm.. Mmm..." Mayra menginjak kaki Abay hingga Abay melepaskan cengkeramannya.
Dengan kesal Mayra pergi meninggalkan Abay. Namun Abay kembali menarik Mayra dan menghimpitnya ke dinding. Abay menekan kedua pergelangan tangan Mayra untuk mengunci pergerakannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku!" bentaknya.
"Ya! Aku memang terus mengejarmu dan berharap suatu saat nanti Kamu bisa mencintaiku, Tapi Aku tidak pernah merayumu dan membuatmu tidur denganku."
"Ha-ha-ha... Apa Kamu bilang? Kamu fikir Nandini merayuku?
Asal Kamu tau saja Mayra, Nandini tidak pernah merayuku Kita melakukan karena mau sama mau."
Mayra memalingkan wajah dan merasa jijik mendengarnya.
"Bedanya adalah... Aku tidak mau menyentuhmu jadi kamu tidak melakukan itu, Kalau saja Aku mau menyentuhmu apa Kamu bisa menolakku?" dengan gerakan menggoda, Abay menyusup masuk membelai panggul Mayra dengan jari-jemarinya.
"Hentikan! Kamu benar-benar menjijikkan." dengan kuat Mayra mendorong tubuh Abay menjauh darinya.
__ADS_1
"Apa Kamu bilang?" Abay kembali menekan kedua tangan Mayra.
"Kamu bilang Aku menjijikkan." dengan kesal Abay beusaha mencium Mayra dengan kasar.
Mayra terus berusaha menghindar dari ciuman Abay. Namun Abay terus mencoba mencium Mayra.
"Lepaskan Aku! Lepaskan." kedua tangannya yang di tekan kuat, Membuat Mayra hanya bisa menggelengkan kepalanya kesana-kemari.
Namun tenaganya tidak mampu mengimbangi Abay yang tengah di kuasai amarahnya.
Dengan menujukan kekuatannya Abay berhasil mencium Mayra meskipun hanya mengenai pipinya.
Keduanya menjadi diam ketika kulit Mereka menyatu. Abay melepaskan ciumannya dan menatap wajah Mayra dengan tatapan berbeda. Mayra segera mengalihkan pandangannya dan mendorong Abay dengan kuat. Namun Abay meraih tangan Mayra hingga membuat Mayra jatuh ke atas tubuhnya.
Mayra tak menghiraukan ringisan Abay dan berusaha bangun dari atas tubuhnya. Namun Mayra menginjak baju panjang yang Ia pakai sehingga membuatnya kembali terjatuh di atas tubuh Abay.
"Aowwh..." kali ini Mayra yang meringis kesakitan karena keningnya membentur kening Abay.
"Aowwh sial, Apa yang Kamu lakukan Mayra ini sakit sekali." meskipun Abay mengatakan demikian. Namun Abay mengucapkannya dengan suara datar, Tidak kasar seperti sebelumnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Abay, Mayra kembali berusaha bangun dari atas tubuhnya.
"Tunggu Mayra, Aku tidak mau Kamu kembali menimpaku, Tubuhmu sangat berat."
Mayra yang mendengar Abay mengatakan tubuhnya berat, mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Perlahan Abay mulai bangun dengan memegang kedua lengan Mayra, Secara bersama-sama Mereka pun duduk saling berhadapan dan membuat posisi wajah Mereka menjadi begitu sangat dekat.
Keduanya menjadi sunyi ketika mata Mereka bertemu, Sebuah tatapan yang belum pernah Mereka lakukan sejak Mereka menikah, Tatapan tanpa ada kebencian yang sebelumnya menguasai hati keduanya. Mereka terus menyelami tatapan masing-masing sampai Ibu datang memanggilnya.
"Abay... Mayra..."
Abay dan Mayra masih belum mendengar panggilan Ibunya. Mereka masih larut dalam tatapan mata yang seakan mencari jawaban atas nasib rumah tangga Mereka.
"Mayra... Abay..." Ibu kembali memanggil Mereka. Karena tidak mendapat jawaban dan melihat pintu yang terbuka Ibu pun masuk ke dalam.
"Oh ya ampun, Maafkan Ibu." Ibu yang melihat posisi Mereka yang begitu rapat langsung memutar tubuhnya membelakangi Mereka.
"E-e Ibu." Mayra langsung berdiri dan merasa canggung, Begitupun dengan Abay yang jadi salah tingkah.
"Ibu hanya ingin memanggil kalian untuk sarapan, Sejak tadi Ibu tunggu kalian tidak juga turun." ucap Ibu yang masih membelakangi Mereka.
"Ibu jangan seperti itu, Kami tidak melakukan apapun." ucap Mayra.
Ibu memutar tubuhnya menatap Mereka sembari tertawa.
"Kalian melakukan sesuatu pun Ibu tidak melarangnya, Kalian kan sudah resmi menjadi suami istri."
Abay dan Mayra saling menatap satu sama lain.
Bersambung...
__ADS_1