
Abay sampai dirumah dan melihat Yaz sedang bersama Misty.
Abay langsung mendekati keduanya dan mengintrogasi mereka.
"Apa kamu diam-diam sering menemui Misty?"
"E... Sebelumnya kami memang bertemu diam-diam Bang, Tapi sekarang Aku sudah putuskan akan selalu memimta izin pada ibu dan padamu juga Bang."
"Kenapa? Apa yang membuatmu berani?"
"Karena Aku ingin bertanggung jawab dan menikahi Misty secepatnya."
"Apa kamu bilang? Menikahi Misty?"
"Ya, Dan Aku sudah membicarakan ini pada kedua orang tua ku."
"Apa mereka setuju?"
"Papah menyetujuinya."
"Lalu Mamah mu?"
"Sekarang masih belum, Tapi itu tidak penting, Karena yang terpenting Papah sudah menyetujuinya."
Mendengar hal itu Abay mematap wajah adik perempuannya.
Kemudian kembali menatap Yaz.
"Apa kamu begitu mencintai Misty?"
"Ya, Aku sangat mencintainya."
"Lalu Misty, Apa kamu juga mencintai Yaz?"
Misty hanya terdiam menundukkan kepalanya.
"Sepertinya Adiku masih ragu padamu Yaz, Apa dia belum pernah mengungkapkan perasaannya padamu?"
Yaz menggeleng pelan.
Abay terseyum dan menepuk punggung Yaz.
"Jangan hawatir, Dia akan segera mengatakannya." kemudian Abay pergi meninggalkan mereka.
"Apa yang dikatakan Bang Bay benar Misty?"
Misty hanya menunduk malu-malu.
•••
Mayra yang sedang sibuk dengan tugasnya berlari kesana kemari mengambil semua yang ia butuhkan.
__ADS_1
Mayra menepuk keningnya karena lupa mengambil Air untuk masakannya, Baru saja Mayra memutar tubuhnya, Chef Alan datang mrmberikan Air kepadanya.
"E... Terimakasih Chef."
Chef Alan mengangguk dan mengukir senyumnya.
Kemudian Mayra kembali ingin mengambil susu cair, Lagi-lagi Chef Alan menyodorkan kepadanya.
Sepanjang kelas memasak Chef Alan terus di dekat Mayra membantu semua yang mayra butuhkan hingga membuat peserta lain saling berbisik membicarakan mereka.
•••
Abay terbangun karena bunyi Alarm ponselnya.
Ia segera bangkit dan terkejut melihat jam yang sudah lebih dari 10 menit dari Alarm yang ia pasang.
"Ya Tuhan Aku ketiduran." Abay langsung berlari keluar dari kamarnya dan bersiap menjemput Mayra.
"Misty! kenapa tidak membangunkan ku?" tanya Abay yang melihat Misty masih menonton tv.
"Maaf Bang Aku lupa."
"Pacaran mulu sih." gerutu Abay sambil keluar meninggalkan rumah.
•••
Di luar kelas beberapa peserta kursus sedang bergunjing membicarakan sikap Chef Alan yang selalu mengistimewakan Mayra.
"Ya kamu benar, Sedangkan ke kita, Kalau kita tanya jawabannya selalu singkat dan tidak pernah mau mengulangi kata-kata nya." ujar yang lainnya.
"Ya itu memang benar, Sebelumnya dia tidak pernah bersikap seperti ini, Tapi sejak ada Mayra Chef Alan melanggar semua prinsipnya." timpal yang lainnya.
"Apa menurut kalian Chef Alan menyukai Mayra?"
"Menurutku pasti Mayra yang mencoba mendekati Chef Alan supaya dia cepat bisa memasak."
"BERHENTI MEMBICARAKAN KAMI..!!!" tegur Chef Alan yang mendengar gunjingan mereka.
Mereka menundukkan kepalanya dengan perasaan takut.
"Jangan pernah berkata sesuatu yang buruk tentang kami, Apa lagi menjelekkan Mayra!"
Mereka hanya mengangguk patuh tanpa berani mengangkat kepalanya.
"Sekarang pulanglah, Jam pelajaran kalian sudah selesai!"
Mereka semua mengangguk dan pergi meninggalkan gedung kursus.
Chef Alan menghelai nafas panjang dan memejamkan mata untuk meredam emosinya. Kemudian ia mengingat semua kata-kata para peserta kursusnya yang membicarakan tentang prinsipnya.
"Apa yang terjadi padaku, Kenapa Aku melanggar semua prinsipku demi Mayra?" Chef Alan memijit pelipisnya dan malah mengingat momen kebersamaannya dengan Mayra.
__ADS_1
Senyuman nya melintas di fikirannya, Saat ia menyuapi Mayra sampai mengh'isap jarinya saat terkena pisau.
"Seharusnya ini tidak terjadi, Mayra sudah menjadi milik orang." Chef Alan menggelengkan kepalanya mencoba membuang jauh-jauh perasaannya.
"Aaaaaaaaaaaaa....." Chef Alan tersentak ketika tiba-tiba mendengar jeritan dari dalam kelas.
"Itu suara Mayra," Chef langsung berlari ke dalam kelas dan begitu terkejut melihat Api yang membakar meja kompr Mayra.
"Mayraaaa..!!!" Chef Alan berlari mencari Mayra di dalam pekatnya asap yang mengebul. Kemudian Netranya tertuju ke lantai bawah kompor dan melihat Mayra sudah tergeletak di sana.
"Mayraaa...!!!" Chef Alan langsung mengangkat tubuh Mayra ke pangkuannya dan mencoba membangunkannya.
"Mayra, Mayra bangunlah Mayra."
Samar-samar Mayra menatap wajah Chef Alan.
"Mayra, Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu, Tidak akan."
Chef Alan mengangkat tubuh Mayra dan membopongnya keluar dari ruangan.
"Seseorang tolong padamkan api di kelas 3A." pekik Karan sambil berlari menggendong tubuh Mayra keluar meninggalkan gedung.
Beberapa karyawan berlari dengan membawa alat padam ke ruangan tersebut. Sementara Chef Alan membaringkan tubuh Mayra di mobilnya.
"Mayra bangunlah Mayra, Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, Aku mencintaimu Mayra." Chef Alan menangis dan mendekap tubuh Mayra yang sudah tak sadarkan diri.
Sesaat kemuduan Chef Alan mengusap Air matanya dan pindah ke kursi kemudi untuk membawa Mayra ke rumah sakit.
"Bertahanlah Mayra, Aku mohon," ucap Chef Alan sepanjang perjalanannya.
Sesaat kemudian Abay sampai di tempat kursus dan melihat salah satu ruangan menyisakan asap hitam. Melihat hal itu Abay langsung panik dan menerobos masuk ke dalam.
"Siapa Anda?" tanya satpam menghentikan Abay.
"Apa yang terjadi di dalam, Kenapa seperti ada kebakaran?"
"Ya, Salah satu kelas ada yang terbakar, Tapi sudah kami atasi."
"Apa! Lalu bagaimana dengan peserta kursus? Di sana ada istriku?"
"Tapi semua peserta kursus sudah pulang tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini."
"Apa kamu yakin tidak ada korban jiwa?"
Pak Satpam mengingat-ingat saat Chef Alan menggendong seseorang ke dalam mobilnya.
"E.. Aku tidak tau apakah itu isteri mu atau bukan, Tapi Chef Alan menggendong seorang wanita kedalam mobilnya."
"Apa!" Abay begitu shock mendengarnya.
"Bagaimana kalau itu Mayra." batin Abay cemas.
__ADS_1
Bersambung...