Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Mencoba Menyatakan


__ADS_3

Jam pelajaran pertama telah usai.


Semua mahasiswa keluar dari kelasnya, Kini hanya tinggal Abay yang masih duduk menunggu Mayra


"Abay apa Kamu tidak akan kantin?"


"Tidak Mayra, Aku tidak ingin apapun."


"Baiklah Aku kelur bentar ya," ucap Mayra beranjak bangun.


"Jangan Mayra."


Mayra kembali menoleh ke belakang sembari mengernyitkan keningnya.


"M-m.. Maksudku, Untuk apa keluar."


"Aku ingin..." Mayra menghentikan ucapannya menatap Abay yang kini berjalan mendekatinya.


Abay terus melangkah dengan tatapan tajamnya hingga membuat Mayra merasakan jantungnya semakin berdegup sangat kencang.


Mayra terus melangkah mundur hingga tubuhnya menabrak kursi.


dengan gugup Mayra menggenggam kursi di belakangnya.


"Ap-apa yang akan Kamu lakukan Abay?"


"Aku ingin katakan sesuatu, Sesuatu yang membuatku gelisah beberapa hari ini."


Mayra terus mendengarkan apa yang coba Abay katakan.


Abay memegang kedua lengan Mayra dan menatapnya dengan lekat.


"Mayra, Aku.. Aku..."


"Woyyy! Mau ngapain?" tanya Vicky yang tiba-tiba datang bersama teman-temannya.


Dengan kesal Abay menyingkirkan tangan Vicky dari pundaknya.


"Kenapa Kamu selalu ingin mendekatinya di kampus, Apa di rumah, Ibu mertua selalu menggangu kalian, Ha-ha-ha?" ledek Vicky yang di iringi tawa teman-temannya.


"Otak kalian memang isinya cuma mesum doang!" ucap Abay kesal.


Vicky dan teman-teman kembali menertawakannya.


Mayra kembali duduk dan menatap Abay sesaat, Ia masih penasaran Apa yang akan Abay katakan kepadanya.


•••


Di kantin sekolah Yaz sedang termenung memikirkan perubahan Misty yang begitu drastis. Ia benar-benar masih tak percaya dengan apa yang Ia lihat meskipun dengan mata kepalanya sendiri.


"Mana mungkin Misty bisa berubah sedrastis itu, Bagaimana bisa Dia bersikap seperti tidak terjadi apapun?" batin Yaz.


Sedangkan di taman, Misty dan Suhana sedang berbincang-bincang setelah sekian lama Mereka tidak bertemu. Jangankan Yaz, Suhana yang menjadi sahabat Misty juga begitu terkejut dengan perubahannya.


"Misty Kamu benar-benar luar biasa, Selain penampilanmu yang terlihat begitu cantik, Kamu juga jadi sangat pemberani."


"Tidak semudah itu suhana, Sebenarnya Aku masih merasa sedikit takut pada Yaz, Tapi Aku terus agar Aku tidak terlihat lemah di depan Yaz, Aku ingin Yaz yang ketakutan dan dengan sendirinya mengakui perbuatannya.


"Dan usahamu berhasil Misty, Kamu lihat betapa terkejut dan ketakutan Yaz? Dia sangat panik dan ketakutan."


"Ya, Aku melihatnya dan Aku akan membuatnya lebih dari ini."


•••


Abay berlari mengejar Mayra yang sudah ingin masuk ke mobilnya.

__ADS_1


"Mayra.."


Mayra terkejut melihat Abay menarik tangannya.


"Bisakah Kamu ikut denganku?"


"Sekarang?"


"Ya."


"Tapi mau kemana Abay?"


"Ikut saja Mayra," Abay mengajak mayra lari menuju motornya.


"Aku harus memberi tau pada Pak Sudhir jika Aku pulang bersamamu."


"Sudahlah Mayra, Kita akan memberitahunya sambil jalan."


Abay menarik tangan Mayra dan meletakkan di pundaknya.


Mayra yang sudah tidak dapat menolaknya perlahan naik di belakang Abay.


Abay meraih kedua tangan Mayra dan melingkarkannya di perutnya.


"Sekarang pegang yang erat atau Kamu akan terjatuh."


Perlahan Mayra mengeratkan pelukannya dengan debaran jantung yang terasa semakin cepat.


Abay tersenyum dan menjalankan motornya. Kemudian berhenti di samping mobil Mayra yang masih menunggunya.


"Pak Sudhir, Pulanglah, Tuan Puteri mu akan pergi bersama ku," ucap Abay yang langsung melesatkan motornya.


Di tengah jalan, Abay menambah kecepatannya.


Berharap Mayra semakin memeluk erat dirinya dan menyandarkan kepala di punggungnya. Namun Mayra tidak melakukan itu hingga mbuat Abay terus menambah kecepatannya.


"Hanya sedikit Abay."


"Peluklah Aku dengan erat Mayra dan sandarkan kepalamu di punggung ku."


"Tidak Abay, Ini sudah cukup."


Abay yang melihat mobil tiba-tiba muncul dari pertigaan langsung menghindarinya hingga membuat motornya oleng.


Mayra yang ikut terkejut langsung mempererat pelukannya dan memejamkan mata dengan menyandarkan kepala di punggung Abay sesuai permintaan Abay,


"Maafkan Aku Mayra, Apa Kamu baik-baik saja?"


"Hah." Mayra yang masih ketakutan menggenggam erat perut Abay hingga kuku-kukunya terasamenembus kulitnya.


Namun itu malah membuat Abay terseyum bahagia dan mengusap lembut tangan Mayra


"Sebenarnya Kita mau kemana Abay?"


"Kita akan segera sampai Mayra, Bersabarlah."


•••


Beberapa menit kemudian Abay menghentikan motornya di pinggir jalan sepi jauh dari pemukiman.


Mayra menatap area sekitarnya dan tidak melihat satupun rumah penduduk di sana.


"Abay, Kenapa berhenti di sini, Tidak ada apapun di sini."


"Berhentilah bertanya atau Aku akan lupa apa yang ingin ku katakan."

__ADS_1


Mayra menatap Abay bingung.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Kenapa harus di jalan sepi seperti ini?"


"Arrghhhh...! Berhentilah bicara Mayra, Sekarang dengarkan Aku."


Mayra pun menutup rapat mulutnya dan menatap aneh Abay yang memegang kedua lengannya.


"Mayra, A-a-Aku..."


"Aku?" Mayra menunggu kata apa lagi yang ingin Abay ucapkan.


"A-a-Aku..."


"Aku?"


"A-a-Aku..." Sampai beberapa kali Abay hanya bisa mengatakan Aku dan tanpa bisa melanjutkan ucapannya.


Mayra yang sudah begitu berharap Abay mengatakannya menjadi kesal dan melepaskan kedua tangan Abay dari lengannya dengan kasar.


"Sudah lah Abay, Kamu tidak akan pernah bisa mengatakannya." Mayra berjalan meninggalkan Abay dengan kesal.


"M-Mayra... Tunggu Mayra, Aku belum selesai bicara"


Mayra terus berjalan mengabaikan Abay yang terus menguntitnya.


"Mayra Kamu mau kemana, Di sana tidak ada apapun, Ayo Kita kembali.atau Kita akan tersesat." dengan setengah berlari Abay menarik tangan Mayra ke sisinya.


"Mayra kenapa Kamu marah seperti ini?


"Kamu tau betul kenapa Aku marah!"


"Mayra Aku hanya..." Abay menghentikan ucapannya dan melihat kanan kiri jalan dan menyadari jika Mereka telah jauh meninggalkan motornya.


"Mayra, Kita sudah terlalu jauh meninggalkan motor, Bagaimana Kita akan pulang?"


Mayra terperangah melihat suasana malam yang terlihat begitu sepi.


Abay menarik tangan Mayra dan mengajaknya lari menuju motornya.


Namun sampai lokasi, Mereka tidak menemukan motornya.


"Mayra, Dimana motorku?"


"Tadi ada disini kan?"


"Ia, Tapi sekarang dimana?"


"Sekarang bagaimana Kita pulang Abay, Disini tidak ada kendaraan maupun rumah penduduk."


"Ini semua gara-gara Kamu Mayra, Kenapa Kamu berlari begitu jauh?"


"Kenapa Kamu menyalahkanku Abay, Ini semua gara-gara Kamu, Kenapa membawaku ketempat seperti ini?"


"Ini semua tidak akan terjadi jika Kamu sabar menungguku sampai Aku selesai bicara."


"Bicara apa, Kamu hanya bisa bicara Aku ... Aku ... Aku..!"


"Mayra Kau! Aahhh dudah lah."


"Cobalah telfon seseorang untuk membantu Kita Abay."


"Telfon apa Mayra? Aku sudah bilang padamu Aku tidak memiliki ponsel, Kenapa tidak Kamu saja?"


"Ponsel ku ada di tas dan tas itu hilang bersama motor mu."

__ADS_1


"Oh ya ampun Mayra, Sekarang apa yang harus Kita lakukan?"


Besambung..


__ADS_2