
Abay tersenyum melihat Mayra yang lari saat melihatnya.
Kemudian Ia berjalan menyusul Mayra dan duduk disampingnya.
Mayra memutar duduk membelakangi Abay karena merasakan jantungnya sangat berdebar-debar dengan kencangnya. Perasaan cinta yang selama ini bertepuk sebelah tangan dan tersakiti, Seolah subur kembali dengan perubahan sikap Abay kepadanya.
"Kenapa lari setelah melihatku, Bukankah Kamu menungguku?" goda Abay
"T-t... Ti... Tidak Abay, A-a-a Aku hanya..."
"Kenapa Kamu begitu gugup Mayra?" Abay memutar tubuh Mayra untuk menghadapnya dan memegang dagunya yang tertunduk malu.
Mayra hanya menggeleng pelan dan kembali berlari meninggalkan Abay.
"Mayra..." Abay tersenyum menggelengkan kepalanya melihat Mayra yang kembali meninggalkanya.
•••
Yaz sedang duduk di kantin di tengah-tengah Genk nya yang asik bercanda di tengah-tengah jam istirahat Mereka. Sementara Yaz hanya termenung memainkan gelas yang ada di depannya. Hal ini membuat Genk nya ingin mengulik apa yang terjadi kepada ketua Genk nya tersebut.
"Yaz kenapa Kamu diam saja? Apa Kau memikirkan Misty?
"Untuk apa Aku memikirkannya?"
"Bukankah terakhir kali Kau bersikap sangat aneh pada Misty dan mengabaikan kami, Kenapa sekarang Misty sudah tidak masuk hampir satu minggu kamu diam saja, Apa Kamu tidak mau mencari tau apa yang terjadi pada Misty?"
Yaz yang sedang minum langsung tersedak mendengar pertanyaan Mereka.
"Ada apa Yaz, apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?"
Yaz menjadi bingung saat Mereka mulai mempertanyakan perubahan sikapnya.
"Ak-aku tidak tau apa yang sudah terjadi malam itu pada Misty."
"Malam itu?"
__ADS_1
"E-e bukan apa-apa, Maksudnya Aku tidak tau keadaan Misty," Yaz yang semakin gugup langsung pergi meninggalkan Genk nya.
•••
Setelah jam pelajaran selesai, Abay dan Mayra berjalan beriringan keluar dari kelasnya. Abay berfikir untuk memberitahukan keadaan Misty pada Mayra dan berharap Mayra bisa mencari solusi untuk Adik perempuannya yang tengah mengalami trauma akibat pelecehan yang Misty alami. Dengan sedikit ragu, Abay memberanikan diri untuk berbicara padanya.
"Mayra ada yang ingin Aku beritahu kepada mu saat malam Aku mengejar mu."
"Apa Abay, Kenapa Kamu merasa tegang?"
"Aku tidak bisa membicarakan ini disini Mayra, Jika Kamu Sudi datanglah ke rumah ku, Akan menceritakan semuanya."
"Baiklah, Ayo Kita ke rumah mu."
"Kamu mau ke rumah ku sekarang?"
"Kenapa tidak, Aku tidak ada acara apapun.
"Apa Kamu mau naik motor ku?"
"Tidak masalah, Aku akan menyuruh supirku pulang."
Abay pergi untuk mengambil motornya sementara Mayra pergi ke supirnya yang telah menunggunya di gerbang kampus.
"Jadi kalian sudah berbaikan?"
Mayra terkejut melihat Nandini yang sudah berdiri di belakangnya.
"Kenapa Mayra, Apa Kamu terkejut Aku datang kemari, Atau Kamu merasa takut Abay akan kembali padaku?" Nandini menjeda ucapanya dan berjalan memutari Mayra.
"Apa yang Kamu pikirkan Mayra, Kamu dengan mudah menerimanya kembali setelah Kamu berkali-kali di sakiti, Setelah Kamu melihat sendiri Dia bersamaku, Bahkan sebelumnya Kamu juga sudah tau kalau Aku dan Abay bermalam hingga di grebek oleh Warga, Apa Kamu tidak merasa jijik padanya?" Nandini terus memprovokasi Mayra agar tidak mudah menerima Abay kembali padanya.
"Abay sudah menceritakan semuanya dan Abay bilang kalian belum..."
"Hahahaha... Belum apa Mayra?" Nandini langsung memotong ucapan Mayra.
__ADS_1
"Mayra, Mayra, Kamu tu Naif banget ya, Mudah sekali Kamu percaya dengan apa yang Abay katakan."
Mayra mulai merasa terpengaruh dengan ucapan Nandini.
"Sekarang Kamu pikir pakai akal sehatmu, Seorang Pria dan Wanita yang bermalam bersama dalam setengah telanjang, Apa menurutmu tidak akan terjadi apapun diantara Mereka?"
Mayra terdiam dan mengingat kejadian semalem dengan Abay hingga Ia tidur di pelukannya.
"Kamu itu terlalu di butakan oleh cinta, Sampai apapun yang di katakan oleh Abay Kamu langsung mempercayai nya begitu saja tanpa meragukannya sedikitpun."
Mayra mengalihkan pandangannya dan membelakangi Nandini, Ia terus mencerna setiap kata yang terucap dari kekasih suaminya.
"Aku telah bersama Abay hampir 5th Mayra, Aku adalah cinta pertamanya dan akan begitu selamanya, Abay hanya mencintaiku, Dia tidak akan pernah mencintaimu, Jika sekarang Dia berubah manis padamu, Mungkin Dia mempunyai tujuan lain yang belum Ia capai."
Mayra mulai berkaca-kaca, Rasanya sudah tidak kuat lagi menahan air matanya yang akan segera lolos dari matanya.
"Coba Kamu fikir lagi Mayra, Jika Abay benar-benar mengejarmu di malam itu, Kenapa Dia tidak langsung menemui mu? Atau 2 - 3 hari setelah malam itu?"
Mayra terdiam dan mulai meragukan apa yang Abay katakan.
"Diam mu mengatakan segalanya Mayra, Jika semua yang di katakan Abay padamu hanya sebuah kebohongan semata, Jadi..." Nandini yang melihat Abay datang langsung pergi tanpa menyelesaikan ucapannya.
"Ayo Mayra," ucap Abay yang menghentikan motornya di samping Mayra berdiri.
"Mayra apa yang terjadi, Kenapa Kamu menangis, Apa Aku terlalu lama membuatmu menunggu, Maafkan Aku Mayra, Tadi Aku berbincang dengan..."
"Cukup Abay!!!"
Abay tercengang melihat Mayra yang tiba-tiba Kembali marah padanya.
"Cukup..!!!" dengan mata memerah berkaca-kaca Mayra menatap Abay dengan penuh kemarahan.
"Mayra, Kenapa kamu tiba-tiba begini? Bukankah semalam Kita sudah baik-baik saja, Bukankah tadi..."
"Kemarin Aku masih ragu apakah Aku akan memaafkanmu atau tidak, Tapi sekarang Aku tidak ragu lagi, Aku tidak akan memaafkan mu Abay, Tidak Akan!!!"
__ADS_1
Abay tercengang mendengarnya, Ia benar-benar merasa bingung kenapa Mayra tiba-tiba kembali marah padanya.
Bersambung...