
Abay sangat terkejut mendengar permintaan calon Ayah mertuanya yang menyuruhnya menikahi Mayra malam ini juga.
Bagaimana mana bisa menikah secara mendadak seperti itu, Batinnya yang masih tidak percaya dengan permintaan Ayah Mayra.
"Itu tidak mungkin Om."
"Apa yang tidak mungkin bagi Ravindra Rhys?" ucap Ravindra penuh keangkuhan.
"Sangat mudah untuk ku merubah hidupmu dalam satu malam saja,
Bahkan bukan hanya hidupmu, Hidup Ibu dan Adik-adik mu juga bisa ku ubah jika Aku menginginkannya."
Abay tercengang mendengarnya.
"Ku mohon Om, Jangan lakukan apapun kepada Ibu dan Adik-adik ku, Tolong jangan libatkan Mereka."
"Kenapa Aku tidak boleh melibatkan Mereka, Sedangkan Kamu membuatku terlibat karena Kau berrrani menyakiti Putriku!"
Abay terdiam menundukkan kepalanya.
"Bukankah sudah kuperingatkan padamu untuk tidak menyakiti Putriku? Tapi apa yg kau lakukan? Kau terus saja menyakitinya dengan terus memberinya harapan palsu pada Putriku."
"Bukan kah dari awal Om sudah tau kalau Aku tidak mencintai Putri Om?"
"Berrraniiinya Kau mengatakan itu!!! Apa Kau juga tidak ingat apa yang pernah ku katakan, Jika Kau belum mencintai Mayra setidaknya jangan sakiti Dia!!!" Ravindra begitu marah hingga matanya membulat sempurna.
"Sekarang Aku semakin yakin dengan keputusan ku, Kalau Kau harus menikah dengan Mayra malam ini juga, Dengan itu Aku bisa mengawasi mu agar Kau tidak bisa lagi menyakiti Putriku."
"Tapi Om..."
"Tidak ada kata tapi."
"Setidaknya beri Aku waktu 1 atau 2 Minggu untuk..."
"Memberi waktu sama saja Aku memberi waktu padamu untuk menyakiti Putriku lagi."
"Setidaknya Aku harus membicarakan ini pada Ibu Om."
"Tidak perlu bicara pada Ibumu, Karena apa yang sudah menjadi keputusanku tidak akan ada yg bisa merubahnya lagi, BERSIAPLAH DARI SEKARANG." Ravindra pergi meninggalkan rumah Abay dengan keputusan bulatnya.
•••
__ADS_1
Misty terus mengingat kejadian semalam yang menimpa Abangnya hingga tanpa sengaja Ia menabrak Yaz hingga nyaris terjatuh. Namun Yaz meraih tangan Misty hingga Ia tidak jadi terjatuh.
Mata mereka bertemu hingga membuat keduanya terdiam dan saling menatap untuk beberapa saat.
"Lepaskan Aku, Aku tidak ingin Kamu menyentuhku."
"Oke." Yaz melepaskan Misty hingga Ia terjatuh.
"Aww... Kenapa Kamu menjatuhkanku?"
"Hem, Bukankah Kamu yang memintanya?"
"Tapi bukan seperti ini caranya."
Beberapa saat kemudian Yaz melirik ke arah Misty yang sedang menahan sakit. Kemudian Yaz mengulurkan tangan kepadanya.
"Berikan tanganmu." ucap Yaz mengulurkan tangannya.
Misty menatap Yaz penuh kekesalan.
"Apa lagi yang Kamu lihat, Ayo pegang tanganku dan bangunlah."
"Kamu ini sebenarnya makan apa, Kenapa badanmu begitu berat?" ejek Yaz untuk menutupi kecanggungnya.
"Kamu yang terlalu kurus, Menariku begitu saja km tidak kuat!"
"Badanmu yang terlalu berat."
"Kamu yang terlalu lemah."
"Apa! Kamu bilang Aku lemah?" Kemarahan Yaz terhenti saat mendengar bel berbunyi. Kemudian Yaz mulai berjalan meninggalkan Misty namun Misty kembali memanggilnya.
"Tolong Aku, Aku tidak bisa berdiri." pekik Misty.
Yaz kembali menoleh ke arah Misty dan kembali mendekatinya.
yg belum jg bangun dari jatuhnya,
"Pegang dengan kuat dan jangan sampai Kita terjatuh lagi."
Misty memegang tangan Yaz dan berhasil berdiri.
__ADS_1
Namun pada saat ingin melangkah, Misty kembali kesakitan.
"Aww..." ringis Misty memegangi kakinya.
"Kita pergi ke UKS." Yaz meletakan tangan Misty di pundaknya kemudian memapahnya.
•••
"Devika... Devika..." pekik Ravindra.
Devika berlari mendekati suaminya.
"Kita akan menyelesaikan masalah Putri Kita malam ini."
"Maksud Mas?"
"Aku akan menikahkan Putri kita dengan Abay malam ini juga."
"Apa-apaan ini Ravindra, Kenapa mengambil keputusan dengan keadaan marah?"
"Aku hanya tidak ingin Putri Kita terus menerus merasa sedih karena terus menantikan sI Anak kurang ajar itu.'
"Lalu apa Mas bisa menjamin jika Abay menikahi Putri Kita sekarang apa Abay tidak akan menyakiti Putri Kita lagi?"
"Aku tidak tau, Tapi setidaknya Mayra tidak terus menerus menantikantikan kedatangan Abay yang selalu mengingkari janjiku,
Dan Kita juga bisa mengawaisnya setiap saat jika Dia tinggal bersama Kita."
"Tapi Mas, Pernikahan itu sesuatu yang sakral, Ini bukan main-main, Kita perlu melihat hari, bulan dan tanggal yang baik"
"Aku tidak percaya dengan semua itu, Aku menikahimu juga tidak mennggunakan hitung-hitungan hari dan tanggal yang baik, Tapi Aku sangat bahagia sampai sekarang." tegas Ravindra.
"Baiklah sekarang Kamu juga harus bersiap untuk Putri Kita."
"Apa Mayra sudah tau ini?"
"Kamu yang akan memberi taunya."
"Baiklah Aku akan memberitahunya." Ibupun pergi ke kamar Mayra.
Bersambung..
__ADS_1