Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
SAD


__ADS_3

Abay yang mendengar tangisan Mayra mendekat ke pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Mayra.."


Tok... Tok... Tok...


"Mayra, Buka pintunya, Kamu jangan seperti itu, Kamu harus mende..."


Ceklekkk...


Abay menghentikan ucapannya melihat Mayra yang tiba-tiba keluar.


"Lakukanlah," ucap Mayra dingin.


"Mayra," Abay merasa hatinya sedikit nyeri melihat keadaan Mayra yang basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Aku tidak akan melarangmu, Lakukanlah jika Kamu ingin terus bersamanya." Mayra menyembunyikan air matanya di antara butiran air yang membasahi wajahnya.


"Mayra Kamu basah, Gantilah pakaian mu."


"Jangan pedulikan Aku, Aku baik-baik saja."


Abay terdiam bingung menatap Mayra yang tiba-tiba berubah.


Mayra keluar dari kamar dan pergi ke dapur.


Ia kembali menangis menahan rasa sakit yang teramat sangat, Sekuat hati Ia menyembunyikan kesedihannya dan bersikap biasa pada Abay. Karena pernikahan ini adalah pilihannya sendiri, Ia tidak ingin terlihat lemah di depan siapapun terutama Abay. Mayra segera menghapus air matanya dan menyiapkannya sarapan di nampan, Kemudian membawanya ke kamar.


"Sarapan dulu, Setelah dari kampus Kamu akan langsung menemuinya kan?" ucap Mayra tanpa mau menatap wajah Suaminya.


Kemudian Mayra mengambil pakaiannya dan buku-buku pelajarannya dan meninggalkan kamar.


Abay terhenyak melihat sikap Mayra yang terlihat begitu dingin padanya.


Setelah mengganti pakaiannya di kamar Ayahnya,


Mayra pergi kampus tanpa berpamitan lagi pada Abay.


•••


Mayra turun dari mobilnya dan langsung menuju kelasnya.


Vicky yang melihat kedatangan Mayra langsung berlari menghampirinya.


"Mayra, Kenapa kamu sendirian? Kemana Abay?"


"Abay sedang ada urusan, Nanti Dia menyusul."


Tidak lama kemudian Abay pun datang dengan motornya.


Abay melihat Mayra, Begitupun Mayra. Namun Mayra langsung masuk ke kelasnya tanpa menyapanya.


"Ada apa Bro? Apa kalian bertengkar?" tanya Vicky menepuk punggung Abay.


"Biasalah Cewek, Suka ngambek." dalih Abay yang sebenarnya hatinya juga terusik oleh sikap Mayra.


Setelah kelas berakhir Mayra langsung keluar kelas dan bergegas ke mobilnya, Abay segera berlari mengejarnya dan menghentikan langkahnya.


"Mayra Kamu masih marah padaku?"

__ADS_1


"Kenapa Aku harus marah? Apa Kamu membuat kesalahan?"


"A-a-Aku..."


"Kamu tidak mungkin membuat kesalahan Abay, Hanya Aku dan Ayahku yang selalu membuat kesalahan." Mayra mengukir senyum meskipun hatinya sangat sakit.


"Mayra..."


Abay dan Mayra terdiam menatap ponsel Abay yang berdering.


Mayra yang menduga telfon itu dari Nandini langsung masuk ke mobil dan meninggalkan kampus.


"May..." Abay mengangkat tangannya seolah ingin menghentikan mobil Mayra. Namun ponselnya yang terus berdering membuatnya memilih untuk mengangkat telfon dari Nandini.


"Hallo..."


"Abay, Apa kamu sudah pulang kuliah?"


"Ya, Aku baru saja keluar kampus."


"Cepatlah datang, Aku sangat merindukanmu."


Abay terseyum mendengarnya. Tanpa membuang waktu lagi,


Abay langsung ke tempat dimana Mereka janjian.


Malam Hari šŸŒ™


Mayra duduk termenung sendirian di balkon kamarnya.


Pikirannya melayang jauh membayangkan Suaminya yang tengah berada di pelukan kekasihnya. Kemudian Mayra menertawakan diri sendiri dengan keadaannya saat ini, Bahkan Ia tidak bisa menyalahkan suaminya maupun Nandini, Karena Ia merasa Dirinya lah yang merebut Abay dari Nandini, Dirinya lah yang hadir di antara cinta Mereka, Jika sekarang Ia menderita, Ini sudah resiko dari perbuatannya.


"Aku fikir, Aku akan kehilangan dirimu selamanya setelah Kamu menikahi Mayra."


"Itu tidak akan terjadi Nandu, Aku hanya mencintaimu dan hanya akan mencintaimu." Abay mengecup jari jemari Nandini.


Nandini terseyum bahagia mendengar jawaban dari Abay.


•••


Pukul 23.45 WIB Abay sampai rumah.


Ia langsung masuk ke kamarnya dan melihat Mayra terduduk di lantai dengan kepala yang terlungkup di atas meja.


Abay mendekati Mayra dan melihatnya sudah tertidur.


Dan di lihatnya makan malam di atas meja tersebut.


Perlahan tangannya ingin menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Namun Abay mengurungkan niatnya.


Dengan suara lirih Abay mencoba membangunkannya.


"Mayra... Bangunlah."


Hanya satu panggilan Mayra mengangkat kepalanya dan menatap Abay dengan mata yang masih mengantuk.


"Kamu sudah pulang?" Mayra menatap abay sekilas kemudian menatap makanan di meja.


"E-e... Makanannya sudah dingin, Akan Ku panaskan." Mayra berdiri dan bergegas mengangkat mangkuk sayur.

__ADS_1


"Mayra." Abay memegang tangan Mayra untuk menghentikannya.


"Itu tidak perlu, Aku sudah makan."


"He... Tentu, Aku memang bodoh." rasa di hatinya kian perih ketika Ia harus menyembunyikan rasa sakitnya.


"Apa kamu sudah makan?"


Mayra menggeleng pelan.


"Duduklah." titah Abay.


"Sekarang makanlah, Aku akan menemanimu."


Mayra kembali duduk dan bersiap untuk makan.


Abay yang duduk di depannya menyuapkan makanan ke mulut Mayra.


Mayra langsung menangis haru dengan perlakuan Abay padanya.


"Apa makanannya pedas?" tanya Abay yang melihat Mayra menangis


Mayra menggelengkan kepala dan terus meneteskan air matanya.


"Lalu kenapa Kamu menangis?"


Mayra yang tidak kuasa lagi menahan kesedihannya mendekati Abay dan memeluknya, Mayra tumpahkan semua air mata yang sejak pagi Ia tahan, Rasa sakit hati, Rasa haru bercampur menjadi satu.


Perlahan Abay mengangkat tangannya dan membalas pelukan Mayra.


"Kamu sangat baik Mayra tapi maafkan Aku, Aku hanya mencintai Nandini." batin Abay.


Setelah puas menumpahkan air matanya, Mayra mengurangi pelukannya dan kembali menjauhi Abay.


"Maafkan Aku jika Aku lancang memelukmu, Aku hanya merindukan Ayah dan Ibuku," ucap Mayra yang kembali menyembunikan kesedihan yang sebenarnya.


"Tidak masalah Mayra, Sekarang tidurlah."


Mayra mengangguk dan kembali ke sofanya. Namun kali ini Abay menghentikannya.


"Kamu terlihat kurang sehat, Tidurlah di ranjang, Malam ini biar Aku yang tidur di sofa."


"Tidak Abay, Kamu saja yang di ranjang."


"Apa kamu tidak akan mendengarkan perintah suamimu?"


Mayra terhenyak menatap Abay yang menyebutnya sebagai suami.


"Apa Kamu ingin ku gendong?"


Mayra tersenyum di sisa tangisnya, Kemudian berbaring di ranjangnya.


Mayra menatap Abay yang juga membaringkan tubuhnya di sofa.


Meskipun Abay telah begitu menyakitinya Namun Mayra merasa begitu bahagia karena ini kali pertamanya Abay bersikap baik padanya setelah Mereka menikah.


Bersambung...


Please jangan Maki Author, Author nulis ini juga sambil termewek-mewek 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2