Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Menyatakan Cinta


__ADS_3

Abay dan Mayra menyusuri jalan di tengah pekatnya malam.


Sambil terus berharap menemukan rumah warga atau kendaraan yang melintas Mereka berputar arah mencari jalan utama. Namun ternyata Mereka telah jauh berjalan sehingga Mereka harus jalan begitu jauh untuk kembali ke jalan utama.


Mayra mulai merasa resah karena rintik hujan mulai Ia rasakan.


Kilatan petir juga mulai bergemuruh membuat Mayra semakin panik dengan nasib Mereka.


"Sekarang Kita harus bagaimana Abay? Bagaimana kalau hujan deras?"


"Berjalanlah sedikit lagi Mayra, Kita belum menemukan apapun."


"Tapi Aku sudah lelah sekali Abay."


Abay menghentikan langkahnya dan berjalan mendekati Mayra untuk menenangkannya.


"Tenanglah Mayra, Semua akan berlalu." Abay mencoba menenangkan Mayra meskipun dirinya juga merasa bingung apa yg harus di lakukan.


"Tapi Abay, Tempat ini sangat sepi, Aku merasa takut."


"Kamu tidak perlu takut Mayra, Aku ada bersamamu." Abay menangkup wajah Mayra dan menatapnya lekat.


Di tengah kilatan cahaya petir Mereka saling menatap satu sama lain sampai di kagetkan oleh hujan yang mengguyur tubuh keduanya.


"Abay..." Mayra mencoba menutupi dirinya dengan kedua tangannya.


"Pakailah jaketku." Abay melepas jaketnya dan memakaikan pada Mayra.


"Sekarang Kita harus kemana Abay, Apa Kita akan berdiam diri sepanjang malam di bawah hujan?"

__ADS_1


Abay melihat sekelililng jalan dan melihat ada cahaya lampu pijar di ujung jalan.


"Mayra, Lihatlah, sepertinya di ujung jalan ada rumah."


Dengan langkah lemah dan tubuh yang mulai menggigil. Mayra berjalan menuju cahaya itu dengan di titah Abay.


Setelah sampai sana, Ternyata itu hanyalah pos ronda kecil yang kosong tanpa ada warga yang berjaga.


"Duduklah Mayra, Ini lebih baik daripada Kita harus terus kehujanan sepanjang malam."


Mayra hanya menurut tanpa menjawab perintah Abay


Abay melihat sekeliling dan melihat hujan yang semakin deras.


Kemudian Abay kembali menoleh ke belakang dan melihat Mayra sudah meringkuk kedinginan.


"Mayra... Mayra..."


Bibir Mayra terlihat gemetar pucat menahan rasa dingin yang menusuk tulang.


"Bertahan lah Mayra." Abay menggosok-gosok telapak tangan Mayra dan melepaskan jaket yang menutupi tubuh Mayra yang telah basah kuyup. Kemudian Abay menggosok-gosok telapak tangannya. Namun Mayra tidak ada perubahan.


Abay merasa bingung apa lagi yanh harus Ia lakukan sedangkan kondisi Mayra terlihat semakin lemah.


"Mayra bertahanlah Mayra, Maafkan Aku." dengan perasaan khawatir Abay kembali membaringkan Mayra dan memeluknya dengan erat.


"Abay..." lirih Mayra.


Abay merasa sedikit lega karena Mayra masih meresponnya.

__ADS_1


"Mayra..." Abay melepas kaos yang Ia kenakan dan kembali memeluk Mayra agar membuatnya hangat.


"Mayra, Apakah ini sudah lebih baik?"


Mayra kembali diam tak meresponnya.


"Kamu harus kuat Mayra, Kamu harus bertahan untuk ku,"


"Abay..." lirih Mayra yang hampir tak terdengar suaranya.


Abay menatap Mayra dan menangkup wajahnya.


"Sekarang dengarkan Aku Mayra, Aku mencintaimu, Kamu dengar itu? Aku sangat mencintaimu, Ini kan yang ingin Kamu dengar?"


Dengan lemah Mayra tersenyum dan menangis haru.


Abay mengusap air mata yang menetes di ujung mata Mayra. Kemudian Abay mengecup kedua matanya.


Mayra begitu bahagia, Akhirnya penantiannya selama ini telah berakhir. Namun tubuhnya yang lemah tidak mampu mengekspresikan perasaannya.


Abay terseyum lega dan mencium keningnya. Kemudian menurunkan ciu'man nya ke bibir Mayra yang terus menggigil kedinginan.


"Eummhhh Aahhh, Cup... Cup... Cup..." berkali-kali Abay memberikan kecupan hangat pada sang Istri.


"Abay..." lirih Mayra memeluk tubuh Abay hingga membuat tubuhnya menindih sepenuhnya.


Bersambung...


šŸ“Œ YANG BILANG CERITANYA BERTELE-TELE FIX GAK SABAR PENGIN ADEGAN MALPER WKWKWK 🤣

__ADS_1


__ADS_2