
Keesokan harinya Abay terkejut melihat para asisten rumah tangga masuk ke kamar dengan membawa seabreg paper bag dan di berikan untuknya. Dengan bingung Abay membuka satu persatu paper bag tersebut dan mendapati Pakaian, Sepatu, Alat mandi dan kebutuhan Abay lainnya yang memang Abay tidak membawa apapun saat datang ke rumah Mayra. Namun melihat itu semua tidak membuat Abay bahagia karena hatinya yang belum sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Mayra.
Abay menatap Mayra yang baru masuk menggendong ransel dan beberapa paper bag di tangannya.
"Ini buku-buku pelajaranmu?" ucap Mayra meletakkan semua barang-barang pribadi milik Abay di depannya.
"Apa Kau benar-benar ingin menculik ku? Memisahkan ku dari keluarga ku?"
Mayra tercengang mendengar pertanyaan Abay.
"Abay Aku hanya..."
"Hanya apa! Apa semua ini?" Abay melempar salah satu paper bag yang ada di dekatnya.
"Kamu fikir Aku senang dapat pakain bermerk seperti ini? Apa Kau merasa malu jika Aku mengenakan pakaian murahku?"
"Bukan begitu Abay, Tapi..."
"Tapi apa? Kenapa Kamu hanya mengambil buku-buku pelajaranku dan tidak membiarkan ku mengambil pakaian murahku?"
"Bukan Aku yang mengambilnya, Tapi Asisten Ayah yang..."
"Dan Ayahmu pasti malu jika Aku mengenakan pakaian murahku, Makanya Dia membelikan ini semua untuk ku."
Mayra menggelengkan kepalanya, Niat baiknya memenuhi semua kebutuhan Abay malah membuat Abay tersinggung dengan statusnya.
"Jika Ayahmu malu karena Aku miskin, Kenapa Ayahmu mendesak ku menikahimu?"
"Itu tidak benar Abay Kamu salah faham, Kami tidak bermaksud membuatmu tersinggung, Kami hanya ingin..."
Tanpa menunggu Mayra selesai bicara, Abay mengambil buku-bukunya dan turun kebawah. Abay memperlambat langkahnya ketika melihat Ayah mertuanya ada di bawah.
"Kemarilah Abay," ucap Ravindra.
Abay pun melangkah mendekati Ayah mertuanya.
"Mulai sekarang, Berangkatlah dengan mobil bersama Mayra, Jadi Kalian tidak perlu berangkat dan pulang sendiri-sendiri lagi."
"Tapi Aku sudah terbiasa nenggunakan motorku."
__ADS_1
"Ayah tau, Tapi apa yang akan orang katakan, Kamu tinggal satu rumah dengan Mayra tapi Mayra naik mobil sedangkan kamu naik motor?"
"Mayra bisa naik motor bersamaku kalau Ayah mengizinkan."
"Bagaimana mungkin Ayah mengizinkan Putri Ayah panas-panasan naik motor, Sudahlah Abay apa susahnya, Kamu hanya perlu duduk dengan nyaman, Supir akan mengantar Kalian, Cepatlah! Jangan sampai kalian terlambat."
Dengan terpaksa, Abay pun menuruti kemauan Ayah mertuanya.
•••
Abay dan Mayra sampai di kampusnya
Abay turun tanpa mempedulikan Mayra yang ada di belakangnya.
kedatangan Mereka yang sudah seminggu tidak masuk kampus setelah pernikahan membuat teman-temannya menyambut kedatangan Mereka dengan menaburkan bunga di atas kepala Mereka begitu Mereka masuk ke kelas.
Mayra menengadahkan kepalanya ke atas melihat bunga yang masih berjatuhan di atas kepalanya, Sedangkan Abay hanya terdiam kesal melihat teman-temannya begitu antusias menyambut kedatangan Mereka.
"Apa-apaan ini?" tanya Abay kesal.
"Apa lagi Bro, Ini penyambutan buat pengantin baru." ucap Vicky yang di sambut sorak sorai teman-teman lainnya.
"Aku, Aku tidak..."
"Aku-Aku apa Abay, Kamu jangan banyak alasan, Pokoknya Kita tidak mau tau, Malam ini Kita harus adakan pesta, Oke Guys?"
"Setuju... Setuju..." pekik yang lainnya.
"Kamu setuju kan Mayra?"
"E-e Aku..." Mayra menatap Abay terlihat kesal.
"Kenapa Kamu menatap suamimu, Kamu hanya perlu katakan setuju atau tidak."
"Oke Mayra?" desak Vicky.
Dengan sangat pelan Mayra menganggukkan kepalanya.
"Yeeyyy... Kita pesta." ucap Vicky yang di iringi sorak sorai teman-temannya.
__ADS_1
•••
Yaz duduk menyendiri di kantin sekolah, Sejak mengantar Misty ke UKS hatinya merasa gelisah, Bahkan Ia tidak bisa bersikap biasa jika bertemu dengan Misty.
"Ada apa dengan ku, Aku tidak mungkin menyukainya." gumam Yaz yang menjadi gugup melihat Misty dari kejauhan.
Teman-teman Yaz pun mendekatinya dan mempertanyakan sikapnya beberapa hari ini.
"Ada apa dengan mu Yaz, Kenapa sekarang Kamu selalu menghindar dari Kami?"
"Iya nih, Ada apa dengan mu Yaz, Mana Yaz yang dulu keren, Garang dan membuat takut siapapun yang melihatnya?"
"Sepertinya Yaz sudah menjadi lemah setelah mengenal Anak tukang sayur itu, Ha-ha-ha." Teman-teman menertawakan Yaz hingga membuat Yaz kesal dan bangkit dari duduknya.
"Aku tidak seperti itu, Aku masih tetap Yaz yang dulu, Tidak ada yang berubah." tegasnya.
Yaz kembali terdiam melihat Misty berjalan ke arah kantin.
"Apa karenanya kamu menjadi lemah?"
"Apa Kamu meyukai Anak tukang sayur itu?"
"Aku tidak menyukainya, Aku tidak mungkin mencintai Gadis miskin sepertinya."
"Kalau itu tidak mungkin kenapa Kamu menjadi gugup, Buktikan kalau Kamu tidak menyukainya."
"Aku akan membuktikannya pada kalian." dengan tatapan kejamnya Yaz melangkah mendekati Misty.
"Orang miskin yang hanya anak penjual sayur sepertimu tidak pantas makan disini, Pergilah dan makan di pinggir jalan sesuai kemampuan mu."
Misty tercengang mendengarnya, Padahal beberapa hari ini Yaz tidak lagi mengganggunya tapi sekarang Dia kembali menghinanya di depan teman-temannya.
"Apa masalahmu? Kenapa Kamu tiba-tiba menghinaku seperti itu?"
Yaz terdiam enatap Misty, Dalam hati kecilnya tidak ingin mengatakan itu pada Misty, Tapi perkataan teman-temannya membuat dirinya harus mengatakan itu.
Misty pergi dengan meneteskan air matanya. Sedangkan teman-teman Yaz langsung berlari menghampiri Yaz.
Mereka tertawa puas sembari menepuk punggung Yaz yang di anggapnya masih belum berubah setelah membuktikan dengan menghina Misty.
__ADS_1
Bersambung....