
Alan sampai rumah sakit dan langsung berlari menggendong Mayra dengan perasaan yang sangat khawatir.
"Dokter... Dokter..."
Beberapa perawat menyambut dengan mendorong brankar ke arahnya.
"Baringkan di sini Pak," ucap salah seorang perawat.
Alan membaringkan tubuh Mayra dan terus mengiringinya hingga perawat membawanya ke ruang UGD.
"Silahkan tunggu disini Tuan."
Alan mengangguk dan tak bisa duduk diam menghawatirkan keadaan Mayra.
•••
Abay yang khawatir jika Mayra lah yang ada di dalam kebakaran itu mendatangi rumah sakit terdekat. Ia langsung mencari tau keberadaan Mayra dengan menanyakannya di bagian pendaftaran.
"Apakah ada pasien bernama Mayra Anindia Rhys yang masuk hari ini?"
"Tunggu sebentar."
"Pasien bernama Mayra Anindia Rhys, Ya benar sekali dia di rawat disini, Kalau belum selesai mungkin sekarang masih di ruang UGD.
"Terimakasih Sust." Abay langsung berlari mencari ruang UGD.
Sedangkan di ruang UGD Alan masih cemas menunggu hasil pemeriksaan dokter yang belum juga selesai. Ia terus mondar-mandir sambil menggigit kuku-kukunya, Kecemasannya terhenti saat ia mendengar suara pintu terbuka. Alan segera berlari menghampiri Dokter.
"Bagaimana keadaan istri Saya Dokter?"
Alan menoleh ke belakang dan terkejut melihat Abay sudah berdiri di belakangnya.
"Bagaimana keadaan istri Saya dokter?" tanya Abay mengulangi pertanyaannya.
Mendengar hal itu, Alan melangkah mundur.
"Tidak perlu khawatir, Pasien hanya mengalami luka bakar di tangannya, dan untung saja dia cepat dibawa kesini jadi tidak terlalu banyak menghirup asap yang bisa mengganggu pernafasannya"
"Apa Saya boleh melihatnya?"
"Silahkan tapi jangan lama-lama karena pasien harus di pindahkan."
"Baiklah." Abay bergegas masuk. Namun ia kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Alan.
Alan memalingkan pandangannya kesana kemari, Ia tidak berani menatap wajah suami dari wanita yang ia cintai.
Namun sikap Abay justru di luar dugaannya. Abay malah langsung memeluk Alan dan mengucapkan terimakasih padanya.
__ADS_1
"Terimakasih telah menyelamatkan istriku, Jika tidak, Aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi pada Mayra."
Alan yang masih tak percaya hanya mengangguk tipis.
"Sekarang ayo kita lihat keadaannya."
"E... Tidak Abay, Pergilah, Tugas ku sudah selesai, Kamu sudah disini jadi sebaiknya Aku pergi."
"Baiklah, Sekali lagi terimakasih."
Alan mengangguk dan berlalu pergi.
Sementara Abay masuk melihat kondisi Mayra.
Abay menarik kursi untuk duduk di samping Mayra berbaring.
Ia meraih tangan Mayra dan menggenggamnya erat.
"Maafkan Aku Mayra, Gara-gara Aku terlambat datang kamu jadi seperti ini."
Mayra yang sayup-sayup mendengar suara Abay perlahan membuka matanya.
"Abay..." lirih Mayra.
"Mayra, Kamu sudah sadar?"
"Apa sangat sakit?" tanya Abay mengusap kepalanya.
"Aku hanya merasa lemas."
"Maafkan Aku Mayra, Aku ketiduran jadi Aku datang terlambat."
"Ini bukan salah mu Abay."
"Bagaimana bisa terjadi Mayra?"
"Aku sudah keluar kelas dan menunggu mu diluar, Karena kamu tidak kunjung datang, Aku ingin menghubungi mu, Tapi ponselku tidak ada di tas, Lalu Aku masuk lagi untuk mencarinya. Saat Aku masuk ke ruangan Aku melihat ponselku di dekat kompor, Aku begitu terkejut karena ternyata Aku lupa mematikan kompor dan tidak lama setelah itu tiba-tiba ponselku meledak, Aku takut sekali Abay."
"Tenanglah Mayra, Semua sudah berlalu." Abay meraih tubuh Mayra ke pelukannya.
"Yang membawaku kesini?"
"Alan." sambung Abay.
"Apa kamu marah padanya?"
"Apa yang kamu katakan Mayra, Dia menyelamatkan mu, Tidak mungkin Aku marah padanya, Ya selama ini Aku memang tidak suka dengan nya, Tapi Dia telah menyelamatkan istri yang paling ku cintai, Jadi Aku akan mengucapkan ribuan terimakasih padanya."
__ADS_1
Mayra terseyum lega dan kembali memeluk Abay.
•••
Haikal mengajak Mirna mendiskusikan tentang pernikahan Yaz dan Misty. Namun Mirna masih teguh dengan pendiriannya, Tapi kali ini Haikal bersikap tegas pada sang istri dan tidak mau lagi memperpanjang masalah ini.
"Terima pernikahan ini atau kamu keluar dari rumah ini!"
Mirna tercengang mendengarnya.
"Mas mengusirku demi gadis miskin itu?"
"Ini sudah keputusan ku, dan Aku tidak ingin berdebat lagi!"
"Mas..."
"Putuskan pilihanmu Secepatnya, Karena Aku sudah muak dengan semua ini!"
Mirna terdiam tak berkutik mendengar ancaman suaminya.
Sementara di tempat lain Yaz tengah menemui Misty.
dan untuk kesekian kalinya Yaz kembali mengungkapkan perasaannya.
"Misty Aku sudah berulang kali mengatakan perasaan ku, Sekali saja Misty, Katakan padaku jika kamu mencintai ku."
Misty beranjak dari duduknya dan membelakangi Yaz, Hatinya memang tidak bisa lagi mengingkari perasaannya. Namun bibirnya sulit sekali untuk mengucapkannya.
"Baiklah Misty, Aku tidak akan memaksa mu, Kalau begitu Aku pulang dulu." Yaz beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Misty.
Misty menoleh kebelakang dan melihat Yaz yang semakin jauh pergi meninggalkannya.
"Aku mencintaimu Yaz..." pekik Misty.
Yaz menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Misty.
Misty menjadi malu dan menundukkan kepalanya.
Yaz terseyum dan berlari mendekati Misty. Ia memegang kedua lengannya dan menatap wajah Misty yang tertunduk malu.
"Katakan sekali lagi Misty."
"Aku mencintaimu Yaz." Misty langsung menjatuhkan diri ke pelukan Yaz.
Yaz mendekap erat tubuh Misty. Ia begitu bahagia akhirnya penantiannya selama ini berakhir sesuai harapannya.
Bersambung..
__ADS_1