Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Berusaha Memperbaiki


__ADS_3

Yaz yang tidak menemukan Mamahnya berada di rumah langsung menelfon Papahnya untuk memberitahu perbuatan Mamahnya di sekolah.


"Ada Apa Yaz," tanya Papah dari sambungan telepon.


"Pah, Mamah dengan semena-mena telah mengeluarkan seorang siswi di sekolah,"


"Kok bisa, Memang apa masalahnya, Kenapa Mamah ngurusin masalah siswi, Bukankah selama ini Dia tidak peduli masalah sekolah?"


"Aku tidak bisa ceritain sekarang Pah, Tapi Yaz minta tolong sama Papah, Datanglah ke sekolah, Siswi itu tidak salah apa-apa."


"Ya baiklah Papah akan datang sekarang."


"Terimakasih Pah, Papah memang yang terbaik."


Setelah selesai menelfon Papahnya, Yaz meninggalkan rumah dan kembali ke sekolah.


•••


Setelah sampai sekolah, Yaz langsung menuju kantor kepala sekolah dan masuk tanpa mengetuk pintu.


Kepala sekolah terkejut melihat kedatangan Yaz yang tanpa permisi tanpa sopan santun. Namun belum sempat Kepala sekolah memprotes, Yaz langsung menggebrak meja kepala sekolah.


"Telfon semua donatur sekolah ini, Suruh mereka berkumpul sekarang juga!"


"Bicara dengan sopan Yaz!"


"Aku tidak perlu bersopan santun kepada Anda, Sekarang turuti perintah ku karena Papah ku sedang menuju kemari!"


"Y-y... Ya baiklah." tidak ada pilihan lain, Kepala sekolah pun menuruti perintah Yaz.


•••


Di kampus, Mayra dan Abay keluar dari kelas.


Abay langsung menarik pinggang Mayra ke pelukannya tanpa mempedulikan situasi di kanan kirinya.


Mayra yang merasa risih melepaskan tangan Abay dari pinggangnya.


"Abay apa yang kamu lakukan?"


"Diam saja Mayra, Turuti saja apa yang Aku lakukan."


"Tapi Abay, Nanti semua orang akan melihat kita."


"Biarkan saja Mayra, Sekarang diamlah."


Abay yang melihat Vicky sudah semakin dekat, langsung menangkup wajah Mayra dan mendekatkan wajahnya.


Mayra masih merasa bingung melihat gerak-gerik suaminya yang begitu mencurigakan.


"Mayra taukah kamu, Aku selalu ingin bersamamu seperti ini, Kamu segalanya untuk ku, Aku sangat mencintaimu Mayra," Abay terus mengatakan kata-kata manisnya dan kemudian memonyongkan bibirnya.

__ADS_1


"E.... Tunggu-tunggu jangan lakukan itu di depan ku." protes Vicky yang sudah berdiri di depan mereka


"Kenapa? Apa kamu merasa iri jika aku mencium istriku sendiri!"


Abay terus memanas-manasi Vicky dengan terus bermesraan.


"Kamu selalu menggangu kami kan, Sekarang coba saja gannggu kami kalau bisa." Abay kembali memonyongkan bibirnya hingga menyisakan beberapa senti lagi menempel ke bibir istrinya.


"Ya... Ya-ya baiklah, Terserah kalian saja." dengan kesal Vicky meninggalkan mereka.


Abay tertawa karena merasa berhasil membuat Vicky kesal.


Mayra yang baru faham maksud Abay menggelengakn kepala.


"Sekarang kamu puas?"


"Tidak. Bagaimana Aku puas jika aku belum memulainya?"


Mayra membulatkan mata dan menutup mulutnya sendiri dengan tangannya.


Abay terseyum menatap Mayra dan kembali mendekati Mayra,


Abay kembali memonyongkan bibirnya ingin benar-benar menciumnya. Namun belum sempat bibir itu mendarat mereka di kagetkan oleh dering ponsel Mayra di sakunya.


"Oh ya ampun, Vicky tidak mengganggu, Giliran ponsel mu yang mengganggu."


Mayra hanya tertawa dan melihat layar ponselnya


"Ayah." lirih Mayra yang kemudian mengangkatnya.


"Hallo Ayah, Ayah apa kabar kenapa suaranya terputus-putus?"


"Ayah sedang di jalan ssayang, Kepala sekolah menelfon Ayah katanya akan diadakan rapat mendadak."


"Rapat mendadak?"


"Iya sayang, Baiklah kalau begitu Ayah tutup dulu, Ayah sudah mau sampai."


Mayra mengakhiri sambungan teleponnya dan mengingat kata-kata Misty.


"Apa ini berhubungan dengan Misty?" batin Mayra.


"Ada apa Sayang?"


"Abay kita harus pergi kesekolah Misty."


"Tapi apa yang terjadi Mayra?"


"Sudahlah Abay kita bicara disana."


Mereka bergegas meninggalkan kampus dan meluncur ke sekolah Misty.

__ADS_1


•••


Yaz memanggil Supirnya dan menyuruh mengantar kerumah Misty.


Misty yang baru sampai du rumahnya melangkah sangat lemah mengingat dirinya yang di keluarkan dari sekolah dengan alasan yang mengada-ada.


Dengan derai air matanya Misty bersandar di balik pintu dan merosot kan tubuhnya ke lantai.


Ia menyangga kepalanya dengan kedua tangan yang bertumpu pada kedua lututnya. Rasanya masa depannya telah hancur bersama impiannya yang tidak dapat melanjutkan ujian akhirnya.


Tidak lama kemudian Yaz sampai di rumah Misty.


Yaz turun dari mobil dan langsung menggedor-gedor pintunya.


"Misty buka pintunya."


Misty melihat ke gagang pintu dan beranjak dari duduknya.


Kemudian menatap pintu yang terus di gedor oleh Yas.


"Misty, Jangan paksa Aku untuk mendobraknya lagi, Buka atau..."


Yaz menghentikan ucapannya melihat Misty yang langsung membukanya.


"Ikut dengan ku."


"Kemana?" jawab Misty dingin.


"Kita pergi kesekolah."


"Untuk apa, Aku bukan lagi murid sekolah itu."


"Aku akan menyelesaikannya Misty ikutlah dengan ku."


"Tidak Yaz, Aku tidak ingin lagi mendengar hinaan dari Mamah mu lagi."


"Ku mohon Misty percayalah padaku."


Misty tetap tetap berdiam diri di tempatnya tanpa mau melangkah sedikitpun.


Tanpa membujuknya lagi, Yaz langsung menggendong Misty dan membawanya lari bersamanya.


"Lepaskan Aku, Lepaskan Aku, Apa yang akan kamu lakukan Yaz?" Misty menjadi ketakut mendapat paksaan dari Yaz.


"Maafkan Aku Misty rapi Aku harus melakukan ini." Yaz menurunkan Misty di mobil mewahnya dan menyuruh supirnya kembali ke sekolah.


"Kenapa kamu memaksaku Yaz? Aku tidak mau ikut dengan mu!" Misty memukuli lengan Yaz dengan kesal


"Kamu harus ikut denganku Misty."


"Untuk apa Aku ikut denganmu, Aku sudah di keluarkan dari sekolah."

__ADS_1


"Makanya Izinkan Aku memperbaikinya!" tegas Yaz.


Misty terdiam menatap Yaz.


__ADS_2