Suami Yang Ku Beli

Suami Yang Ku Beli
Malam Yang Menyedihkan


__ADS_3

Yaz menghadang kedatangan Misty sebelum sampai sekolahnya.


Misty menatap Yaz dengan kesal dan kembali berjalan melewatinya begitu saja. Namun Yaz kembali menarik Misty ke hadapannya.


"Awhhh." ringis Misty memegangi pergelangan tangannya.


"Aku ingin bicara padamu."


"Berapa kali Aku katakan, Aku tidak akan pernah lagi bicara padamu, Aku membenci mu Yaz, Sangat membencimu." dengan kesal Misty meninggalkan Yaz.


Yaz mengepalkan kedua tangannya sembari mengeraskan rahangnya.


"Berrraninya Dia bersikap seperti itu padaku." ucapnya kesal.


•••


Setelah selesai sarapan Abay dan Mayra berpamitan dan berangkat bersama. Tidak seperti hari-hari biasanya, Kali ini Abay lebih memilih menggunakan mobil bersama Mayra daripada motor kesayangannya.


Sepanjang perjalanan Mayra dan Abay hanya diam tanpa ada satu katapun yang terucap dari bibir keduanya.


Abay terus mengingat kejadian pagi tadi sebelum Mereka sarapan. Perasaan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya, Tiba-tiba perasaan aneh itu muncul setelah Abay mencium dan menatap dalam matanya. Abay pun mencuri-curi pandang melihat Mayra yang terus menatap ke luar jendela dan menjadi salah tingkah saat Mayra menoleh ke arahnya.


Mayra menatap aneh Abay dan kembali menatap keluar.


Malam Hari šŸŒ™


Misty yang mendapat undangan ulang tahun dari Desi, Sudah bersiap dan berpamitan pada Ibunya.


Meskipun sebelumnya Misty tidak pernah keluar malam. Tapi demi undangan teman sekelasnya, Misty pun memutuskan untuk menghadiri pesta ulang tahunnya.


"Apa ini aman buatmu Nak?" tanya Ibu khawatir.


"Jangan khawatir Ibu, Aku hanya ke rumah Desi, Di sana teman-teman sekolah juga pada datang."


"Baiklah, Jaga dirimu."


Setelah menempuh perjalanan menggunakan ojek, Akhirnya Misty sampai di alamat yang Desi berikan. Misty melihat rumah mewah yang masih sepi, Tak terlihat ada tanda-tanda penghuninya apa lagi suasana pesta ulang tahun seperti yang di katakan Desi.


Misty pun melangkah mundur dan mengira telah salah alamat.


Namun langkahnya di hentikan oleh Satpam rumah tersebut.


"Non Misty ya?"


"Ya, Saya Misty."


"Silahkan Non, Anda sudah di tunggu di dalam."

__ADS_1


Dengan ragu, Misty melangkahkan kakinya ke dalam.


"E-e Pak..." belum sempat Misty menanyakan kenapa rumahnya sepi, Satpam telah meninggalkan Misty di dalam rumah tersebut.


Masih dalam ke bingungnya Misty di kejutkan oleh suara Yaz di sofa besarnya.


"Selamat datang Nona Misty." dengan gaya santainya Yaz membentangkan kedua tangannya di kanan kiri sofa dengan kaki sebelah diatas lututnya.


"Yaz, Kau juga disini?"


"Heh, Kemana lagi Aku harus pergi kalau bukan di rumahku yang nyaman ini."


Misty tercengang mendengarnya.


"Kenapa Misty? Apa Kamu terkejut?"


"Jadi ini rencanamu? Kamu meminta Desi menjebaku kesini?"


Yaz menyeringai dan melangkah mendekati Misty.


Misty yang melihat sorot mata Yaz memerah mulai merasa takut.


Yaz terus mendekatinya dan menghirup aroma tubuh Misty dari jarak yang sangat dekat hingga Misty dapat mencium bau alkohol dari mulutnya.


"Ini tidak benar Yaz." Misty mendorong tubuh Yaz dan mencoba lari dari rumahnya. Namun Yaz menariknya kembali ke pelukannya.


"Apa maksudmu Yaz, Lepas, Kamu sedang mabuk."


"Aku masih sadar Misty, Aku masih sadar!" teriaknya.


Misty menatap Yaz dengan rasa takut. Ia lebih menyeramkan dari yang terlihat di sekolahnya. Kemarahannya benar-benar terlihat dari sorot matanya.


"Misty! Apa kamu tau jika Aku selalu memikirkan mu, Kenapa Kau selalu menghindari ku?"


"Bukankah Kau sangat membenciku, Bukankah Kau selalu menghinaku, Untuk apa Kamu memikirkanku?"


"Karena Aku mencintaimu Misty!"


Misty tercengang mendengar pengakuan Yaz.


"Aku adalah Yazid Haikal Wirayudha seumur hidupku Aku tidak pernah ditolak, Tapi Kau berani menolak ku." dengan Kasar Yaz menjatuhkan tubuh Misty ke sofa dan mengungkung tubuhnya.


"Yaz... Lepaskan." sekuat tenaga Misty mencoba memberontak namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan tubuh Yaz yang cukup berotot.


"Kau tidak bisa memperlakukan ku seperti ini Misty, Kau harus menerima akibat dari perbuatanmu." Dengan bringas Yaz merobek pakaian Misty.


"Yaz Kita masih sekolah, Tolong jangan lakukan ini," ucap Misty mengiba.

__ADS_1


Namun Yaz yang sudah terpengaruh oleh alkohol terus mencoba memperk'osa Misty dengan kasar, Bahkan Yaz tidak segan-segan untuk menampar Misty jika Misty terus melawannya.


Kini tubuh Misty mulai lemas dalam kungkungan tubuh Yaz.


Dengan sangat kasar Yaz mulai menc'umbui setiap lekuk tubuh Misty dengan penuh nafsu.


Misty yang tidak bisa lagi melawannya hanya bisa menahan sakit dan meneteskan air mata saat benda keras merobek kesuciannya.


•••


Mayra sedang berada di pusat perbelanjaan. Tidak sengaja Mayra melihat Abay berada di lantai bawah. Mayra segera menaiki eskalator untuk mengejar Abay. Namun sesampainya di bawah, Mayra kehilangan jejak.


Mayra berlari ke parkiran untuk mencarinya dan benar saja Mayra melihat Abay tengah mengambil motornya. Dengan segera Mayra berlari ke mobilnya dan membuntuti Abay, Beberapa menit kemudian Abay berhenti di sebuah penginapan.


Dengan kaki gemetar Mayra turun dari mobilnya dan mengendap-endap mengikuti suaminya hingga masuk ke dalam sebuah kamar.


"Ini pesananmu." ucap Abay yang hanya berdiri memberikan barang bawaannya.


Mayra mencoba menguping pembicaraan Mereka tapi tidak bisa mendengarnya dengan jelas.


"Kenap berdiri saja, Kemarilah Sayang," ucap Nandini dengan suara menggoda.


"Nandu, Kita baru saja terkena masalah dan mertua ku juga sudah pulang, Aku tidak mau Kita mendapat masalah lagi."


"Sayang, Sejak kapan kamu jadi pengecut?" Nandini merangkak turun dari ranjang dan mendorong tubuh Abay hingga Abay terjatuh. Kemudian Nandini menindih tubuhnya dan mulai membelai wajah kekasihnya.


Mayra yang merasa sudah tidak tahan lagi menerobos masuk hingga mengagetkan Keduanya.


"Abay Kau benar-benar menjijikkan, Aku fikir kata-kata mu hanya untuk menyakitiku, Tapi ternyata Kau benar-benar mengulanginya lagi, Aku membencimu Abay. Sudah cukup kesabaran ku, Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan mu." Mayra berlari meninggalkan Mereka.


"Mayra Aku..." Abay berusaha mengejarnya. Namun Nandini menghentikannya.


"Biarkan Aku mengejarnya Nandu, Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?"


"Sejak kapan Kau peduli dengannya?"


Abay terdiam mendengar pertanyaan Nandini, Ia sendiri juga tidak tau sejak kapan Ia peduli pada Mayra. Tapi melihat Mayra menangis seperti itu membuat hatinya begitu sakit.


Nandini meraih wajah Abay dan mengarahkannya padanya. Namun Abay masih tetap gelisah dan terus menatap keluar.


"Sayang..." Nandini mencoba memeluk Abay namun segera di tepis olehnya.


"Tidak Nandu." Abay yang merasa tidak tahan lagi dengan perasaannya segera berlari mengejar Mayra.


"Abay... Abay...." pekik Nandini. Namun Abay tidak lagi menghiraukannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2